Jakarta, TopBusiness – PT Kilang Pertamina Internasional atau KPI Unit Sungai Pakning mempunyai program tanggung-jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility/CSR terhadap lingkungan sekitar. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla), salah satunya, menjadi latar belakang perseroan untuk mengembangkan program pemberdayaan masyarakat, dengan tema “Kampung Gambut Berdikari”.
Saat memberikan paparan di depan Dewan Juri TOP CSR Awards 2022, yang berlangsung secara daring melalui aplikasi zoom meeting, di Jakarta, Rahmad Hidayat, selaku CSR Officer KPI Unit Sei Pakning, menyatakan bahwa pihaknya sangat konsen dengan karhutla.
“Kami ingin membuka presentasi kami ini dengan perumpamaan tentang api. Bahwa api dibutuhkan manusia dalam skala tertentu, tapi jika tidak terkendali bisa sangat berbahaya bagi masyarakat, termasuk di lahan gambut. Api yang tidak terkendali bisa menjadi sumber bencana,” kata dia, Jumat (04/02/2022).
Sebagaimana diketahui, karhutla gambut yang terjadi di Riau, terutama Sungai Pakning selama periode 2014 – 2016 merupakan fenomena bencana alam yang menyebabkan berbagai turunan masalah, baik itu terkait lingkungan dan sosial.
Bencana alam yang telah menjadi perhatian dunia internasional karena sebaran asap ke berbagai negara Asia Tenggara ketika bencana terjadi tak terelakkan dan pada akhirnya menjadi fokus penanganan berbagai pihak. Selain menyebabkan kerugian ekonomi hingga mencapai Rp 221 triliun, kebakaran hutan dan lahan gambut juga merusak ekosistem asli gambut yang menjadi penyangga utama simpanan karbon nasional.
Indonesia merupakan negara kedua di dunia dengan luas lahan gambut terluas mencapai 22,5 juta hektar dengan Riau sebagai provinsi nomor tiga dengan luas lahan gambut terluas. Pelepasan karbon karena kebakaran hutan dan lahan gambut di Riau juga menambah rentetan kerusakan iklim yang mengakibatkan pemanasan global (global warming).
Dari sisi struktural, permasalahan kebakaran disebabkan beberapa faktor seperti tumpang tindihnya kebijakan atas pengelolaan hutan dan lahan gambut, krisis iklim, hingga alih fungsi lahan gambut menjadi lahan pertanian dan atau perkebunan monokultur super luas yang merusak ekosistem gambut.
Dari sisi kultural, rendahnya tingkat perekonomian masyarakat dan keterbatasan kapasitas sumber daya manusia lokal yang tinggal di sekitar lahan gambut turut memperbesar risiko kerusakan lingkungan karena tidak siapnya masyarakat dalam menghadapi alih fungsi lahan yang masif.
Dalam konteks seperti itu, KPI Unit Sungai Pakning mempunyai program untuk memberikan solusi permasalahan dan berkolaborasi dengan pihak terkait dan berkepentingan dalam rangka mengatasi dampak akibat karhutla.
“Program inovasi sosial kami tentang kampung gambut berdikari merupakan sebuah solusi untuk mengatasi permasalahan dan bencana yang terjadi di wilayah kami. Kegiatan, kami tentunya dilaksanakan bersama dukungan berbagai pihak yaitu masyarakat, pemerintah hingga perusahaan dengan tujuan menciptakan kampung gambut yang berdikari. Inilah kontribusi kami kolaborasi bagi negeri,” pungkas dia.
