Jakarta, TopBusiness – Sebagai perusahan yang bergerak dibidang produksi batubara di Indonesia, PT Kaltim Prima Coal (KPC), tercatat aktif dalam mengidentifikasi dan memetakan dampak aktivitas perusahaan terhadap ekonomi masyarakat, sosial, dan lingkungan sebagai bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR).
Dalam pelaksanaan program CSR, KPC menerapkan prinsip-prinsip Good Mining Practice (GMP) untuk memastikan operasional pertambangannya dilakukan dalam tata cara yang bertanggung jawab.
Demikian seperti disampaikan Louise Gerda Pessirero Project Management & Evaluation, Eksternal Affair & Sustainable Developmenta PT Kaltim Prima Coal dalam wawancara penjurian TOP CSR Awards 2022yang diselenggarakan Majalah Top Business secara Virtual pada Jumat lalu.
“Good Mining Practice yang telah dikembangkan KPC menjadi kerangka kerja aplikatif sehingga dampak positif aktivitas pertambangan kami dapat dimaksimalkan. GMP dikembangkan oleh KPC menjadi sebuah kerangka dan parameter kerja yang aplikatif dari konsep dasar yang dikeluarkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral,” kata Louise.
Menurutnya, Prinsip GMP hanyalah salah satu aspek dasar perusahaan dalam melaksanakan pengembangan masyarakat. Sebagai katalis pembangunan dan promotor pengembangan masyarakat, pelaksanaannya mengacu pada norma-norma internasional, standar dan peraturan nasional dan secara internal rencana strategis, untuk mendukung penghidupan masyarakat pascatambang yang berkelanjutan.
“GMP terdiri dari kerangka dan berbagai parameter kerja yang kami kembangkan berdasarkan pengalaman bertahun-tahun, melalui penelitian internal, serta berbagai masukan dari para ahli pertambangan. KPC merumuskan GMP menjadi 9 aspek yang terukur dan sistematis dalam berbagai kegiatan operasional perusahaan,” ujar Louise.
Ia menambahkan pelaksanaan CSR dengan prinsip GMP yang dilaksanakan juga sejalan dengan visi CSR perusahaan yakni Mendorong tercapainya kemandirian dan kesejahteraan pascatambang di sekitar wilayah tambang melalui program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat yang berlandaskan pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
“KPC meyakini bahwa manfaat batubara tidak hanya terbatas pada produk batubara itu sendiri, namun lebih dari itu aktivitas pertambangan batubara dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi pertumbuhan sosial kemasyarakatan bila dikelola dan dilaksanakan dengan perencanaan baik dan cara-cara yang bertanggungjawab,” kata Louise.
“Kami senantiasa berupaya untuk meminimalisir dampak negatif yang akan timbul serta mengoptimalkan dan memperbesar ruang dampak positif, serta mengoptimalkan dan memperbesar ruang dampak positif sehingga tambang tersebut memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” sambungnya.
Sejauh ini KPC telah menjalankan pengelolaan lingkungan bersertifikat ISO 14001 di mana desain tambang dan strategi perencanaan dijalankan dengan mengedepankan aspek lingkungan. Program pemantauan lingkungan dijalankan secara luas dan komprehensif selama penambangan.
Untuk mencegah dan meminimalisir potensi pencemaran lingkungan, prosedur GMP dijalankan mulai dari pengelolaan air asam tambang, pemeliharaan keanekaragaman hati, konservasi air, efisiensi sumber energi, hingga restorasi lahan pascatambang yang telah mencapai 800 hektare.
Di Indonesia, KPC menjadi pelopor pemanfaatan abu dan debu batu bara (Fly Ash Bottom Ash/FABA) menjadi produk bernilai tambah, dari dua pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) mulut tambang (mine mouth) berkapasitas total 36 megawatt (MW) miliknya.
Uji coba pemanfaatan FABA dilakukan sejak tahun 2000, yang berujung pada hasil akhir berupa semen, campura beton, paving block dan substitusi pasir. Terbaru, perseroan sukses mengolah FABA sebagai penudung material berpotensi asam (Potential Acid Forming/PAF).
Uji coba tersebut sukses, di mana FABA berhasil diolah menjadi penghalang difusi oksigen dan materi alkali penetral asam, sehingga limbah batu bara menjadi aman bagi lingkungan karena tidak memicu terciptanya zat asam ketika bersentuhan dengan udara bebas.
Penggunaan FABA sebagai bahan baku PAF tahap awal dimulai November 2018 di Galaxy Dump, area Pinang seluas 2,6 hektare dengan 40.500 ton FABA. Pemanfaatan FABA tahap I tersebut dilanjutkan bahkan ketika pandemi mendera, dann baru selesai pada kuartal I-2020.
Tahun ini, pemanfaatan FABA untuk proyek serupa ditargetkan sebanyak 30.000 ton atau naik dari capaian tahun lalu sebanyak 15.000 ton. Tidak berhenti di situ, KPC juga memanfaatkan FABA sebagai bahan baku campuran dengan rejected coal untuk pembuatan low grade coal.
Sekilas tentang KPC
PT Kaltim Prima Coal (KPC) perusahaan pertambangan batubara yang berlokasi di Sangatta, Kalimantan Timur, Indonesia. Kami mengelola salah satu pertambangan open-pit terbesar di dunia. KPC adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang pertambangan dan pemasaran batubara untuk pelanggan industri baik pasar ekspor maupun domestik.
Dari kantor pusatnya di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimatan Timur dan kantor perwakilan di Jakarta, Samarinda, dan Balikpapan, KPC mengelola area konsesi pertambangan dengan luas mencapai 84,938 hektar. Dengan didukung oleh lebih dari 4.499 orang karyawan dan 21.000 personel dari kontraktor dan perusahaan terkait, kapasitas produksi batubara KPC mencapai 70 juta ton per tahun.
KPC disebut produsen batu bara terbesar di Indonesia dengan cadangan batu bara mencapai lebih dari 1 miliar ton. Volume produksinya mencapai lebih dari 60 juta ton per tahun. Apabila produksi batu bara nasional per tahun mencapai 600 juta ton, maka produksi KPC menyumbang 10%. Uniknya, perseroan berkomitmen memasok produknya untuk kebutuhan lokal dan ekspor secara seimbang.
KPC juga tercatat telah menerapkan sembilan aspek GMP sebagai kerangka kerja aplikatif, yang bisa diterapkan ke tataran teknis sebagai implementasi dari konsep dasar tata penambangan yang dikeluarkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang antara lain;
- Restorasi Area Pasca Tambang yang mencakup 800 hektare di dekat Taman Nasional Kutai
- Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yakni dengan proses pemanfaatan, pengolahan, hingga dikirim ke pihak ketiga berizin untuk dikelola
- Pengelolaan Air Asam Tambang (AAT), dimana material sisa tambang ber-pH rendah diolah dengan FABA agar lebih aman
- Penanganan Tumpahan Tanah yang terkontaminasi, minyak diolah dengan bakteri petrophylic (bioremediasi)
- Pemeliharaan Keanekaragaman Hayati, KPC melakukan revegetasi 1,2 juta tanaman di area reklamasi.
- Pemantauan dan Pengendalian Emisi dengan melakukan Perawatan berkala mesin untuk menjaga efektivitas pembakaran
- Konservasi Air dengan pemanfaatan air hujan dan air di waduk area pascatambang dan air daur ulang
- Efisiensi Sumber Energi berupa penghematan listrik di kantor & lokasi tambang
- Efisiensi Bahan Bakar berupa penggunaan Overland Conveyor (OLC) untuk mengganti truk pengangkut
Penulis: Abi Abdul Jabbar S
