Jakarta, TopBusiness – Kinerja apik PT Pertamina EP Donggi Matindok Field atau PEP Donggi MF dalam memproduksi minyak dan gas bumi (migas) sudah terbukti membantu ketahanan energi nasional. Namun ternyata, kiprah mereka tak hanya sukses dalam menjalankan aktivitas operasionalnya untuk eksplorasi dan ekspoitasi, tapi PEP Donggi ini dinilai berhasil dalam menjalankan program pertanggungjawaban sosialnya.
Beberapa program dalam Corporate Social Responsibility (CSR) pun disebutnya sudah berjalan sukses. Lantaran program tersebut diusung dengan melibatkan banyak pemangku kepentingan (stakeholder). Dan tentu saja, sesuai kebutuhan masyarakat sekitar. Sebab, anak usaha PT Permina (Persero) ini konsisten menciptakan kebermanfaatan pada semua pihak dengan merealisasikan pendekatan konsep 5P (Planet, People, Profit, Peace dan Partnership).
Penjelasan tersebut disampaikan Widya Gustiani Astman selaku CommRel&CID Regional Indonesia Timur PEP Donggi saat memaparkan kinerja dan program CSR di acara penjurian TOP CSR Awards 2022 yang digelar Majalah TopBusiness, Selasa (15/3/2022) secara virtual.
Dalam pemaparan kali ini, tim dari PEP Donggi MF lainnya adalah Kikie Muhamat Rijkie selaku Officer CommRel&CID Zona 13, Hesty Apriani sebagai Officer CommRel Regional Indonesia Timur, Ananta Bayu P selaku Community Development Officer, dan Sofiana Nur Khasanahi sebagai Community Development Officer.
Aktivitas usaha perusahaan adalah menyelenggarakan usaha hulu di bidang migas meliputi eksplorasi dan eksploitasi serta penjualan produksi migas. Serta menyelenggarakan kegiatan usaha penunjang lain yang secara langsung maupun tidak langsung menunjang kegiatan hulu migas. Dengan wilayah kerja PEP Donggi MF sendiri cukup luas yakni di Kecamatan Toili Barat, Kecamatan Toili, Kecamatan Moilong, Kecamatan Batui Selatan, dan Kecamatan Batui, semuanya berada di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.
Menurut Widya, dengan kondisi tersebut, maka dalam menjalankan aktivitas bisnis Perusahaan selalu menjalin komunikasi dan koordinasi dengan para stakeholder, seperti masyarakat, pemerintah, swasta dan perusahaan lain di wilayah tersebut. “Kemitraan dengan stakeholder dibangun untuk memetakan dampak dan antisipasi risiko. Pelibatan stakeholder menjadi kunci keberhasilan aktivitas bisnis perusahaan,” katanya di Dewan Juri.
Langkah tersebut memang selaras dengan visi-misi PEP Donggi MF. Adapun visi tersebut adalah “Menjadi Perusahaan Migas Nasional Kelas Dunia.” Dan misinya yakni “Melaksanakan pengusahaan eksplorasi, eksploitasi dan operasi produksi Mmigas kelas dunia PEPC Regional 4 (Jawa Bagian Timur dan Indonesia Bagian Timur) dengan memegang teguh HSSE, Good Corporate Governance, Tata Nilai AKHLAK dan kemitraan melalui digital transformasi secara berkesinambungan untuk menghasilkan kinerja keuangan yang tinggi guna memaksimalkan nilai tambah kepada stakeholders.”
Komitmen dalam CSR
Lebih jauh ditegaskannya, dengan aktivitas usaha eksploitasi daneksplorasi migas itu, perusahaan pun tak pernah alpa dalam menggelar aksi pertanggungjawaban sosialnya dalam bentuk program CSR. Dan ternyata, komitmen manajemen perseroan juga cukup tinggi.
Diakuinya, “Managemen menaruh perhatian serius terhadap pelaksanaan CSR yang dilaksanakan perusahaan dengan menetapkan Pedoman Tata Kelola Organisasi ‘Pengelolaan Corporate Social Responsibility (CSR) No: B.13-006/PPC01110/2021-S9 Rev-01’ yang mengacu pada ISO 26000.”
“Pedoman ini mengatur perencanaan (renstra-rencana dan strategi, dsb), pelaksanaan/ implementasi hingga pelaksanaan monitoring program untuk memastikan program yang dilaksanakan terus bekelanjutan untuk mendukung bisnis perusahaan dengan menciptakan Creating Share Value (CSV) bagi stakeholders,” ungkapnya.
Dan memang, kata Widya, program CSR yang dilaksanakan oleh PT Pertamina EP Donggi Matindok Field ini sejalan dengan isu keberlanjutan dan kebutuhan masyarakat. “Sebab, penetapan program CSR selalu dikomunikasikan dengan Pemerintah Daerah setempat melalui ajang Musrembang, sehingga program yang dijalankan dapat mendukung program pembangunan yang bekelanjutan yang ditetapkan pemerintah.”
Dia pun memaparkan program CSR secara sekilas. Beberapa program CSR itu terbagi dalam tiga aspek yakni lingkungan, sosial, dan ekonomi. Di sosial ada program Bakul Itik (Bersama Kurangi Limbah Ikan dan Sampah Plastik). Program ini sudah mengacu ke Social Development Golas (SDGs) 1.
Lalu di sektor sosial ada program Pertamina SEHATI (Sehat Anak dan Ibu Tercinta) dengan cara inovasi Jemput Bola, lalu ada inovasi GEBRAK BANTING (Gerakan Berantas Ibu Hamil KEK, Gizi Kurang, dan Stunting). Ini sejalan dengan SDGs 2 dan 3.
“Adapun di aspek sosial, ada program yakni Oli Rante (Olahan Ikan dengan Konsep Zero Waste), lalu Proper KWAT (Produktifkan Pekarangan bersama Kelompok Wanita Tani), Koja (Kopi Jahe) Dongin, dan Halaman Herbal. Ini sudah sesuai dengan SDGs 12,” katanya.
Komitmen manajemen dalam mengusung program CSR itu ditunjukkan melalui rumusan tujuan pengelolaan tanggung jawab sosial dalam mendukung strategi bisnis berkelanjutan tersebut. Dengan beberapa ruusannya adalah: Pertama, menjaga keseimbangan bisnis secara efektif dan efisien antara operasi, tanggung jawab sosial, dan lingkungan dengan memperhatikan peraturan perundang–undangan, tata nilai unggulan perusahaan serta prinsip–prinsip good corporate governance (GCG).
Kedua, meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitar daerah operasi melalui program-program pengembangan masyarakat di bidang ekonomi, social, kesehatan maupun lingkungan yang berbasis pada partisipasi publik dan tidak menggantikan peran pemerintah.
Ketiga, membangun dialog, hubungan dan kemitraan yang baik dengan masyarakat dan para pemangku kepentingan. Keempat, turut serta berkontribusi dalam menciptakan perubahan iklim dengan berbagai kegiatan pengelolaan lingkungan, penggunaan teknologi terbarukan/ramah lingkungan, penghijauan dan penerapan konsep zero waste di setiap program dan kegiatan.
“Dan kelima yang tadi sudah disebutkan, kami ini dalam perumusannya memang ingin menciptakan kebermanfaatan pada semua pihak dengan merealisasikan pendekatan konsep 5P tadi,” sebutnya.
Inisiatif CSR Adopsi CSV
Masih dibeberkan Widya, sejauh ini PEP Donggi ini memiliki banyak inisiatif program CSR yang sudah senafas dengan pronsip CSV atau Berbagi Manfaat Bersama dan ISO 26000 SR. Program inisiatif strategis CSR ini dalam rangka untuk mendukung strategi bisnis berkelanjutan.
“Program tanggung jawab sosial yang diselenggarakan PT Pertamina EP Donggi Matindok Field selalu didesain dengan prinsip CSV. Salah satunya adalah inovasi Bakul Itik (Bersama Kurangi Limbah Pengelolaan Ikan dan Sampah Plastik). Melalui inovasi ini terbentuk sinergitas antarkelompok binaan Donggi Matindok Field yaitu Baronang Food (Pengolah Sambal Ikan), Sintuvu Singkeni (Pengolah Abon Ikan), Patra Wangi (Kelompok Wanita Tani) dan Sinar Harapan (Pengolah Minuman Herbal),” jelasnya.
Adapun, proses CSV yang terbentuk dari inoasi ini adalah: pertama, Baronang Food memperoleh tambahan limbah ikan dari kelompok Sintuvu Singkeni untuk diolah menjadi stik ikan dan POC; kedua, Kelompok Baronang Food imendapatkan tambahan bahan baku pembuatan POC berupa ampas jahe dari Kelompok Sinar Harapan.
Ketiga, Kelompok Baronang Food dan Sintuvu Singkeni juga memperoleh manfaat berupa suplai cabai yang lebih segar dan lebih murah dari harga di pasar sebagai bahan baku pengolahan sambal dan abon ikan dari kelompok Patra Wangi; keempat, Kelompok Patra Wangi memperoleh POC yang dihasilkan dari pengolahan limbah isi perut ikan dari Kelompok Baronang Food. Pupuk ini digunakan untuk memupuk sayuran dan toga yang ditanam, sehingga pertumbuhan dan hasil tanaman sayur dan jahe merah menjadi lebih optimal.
“Lalu, kelima, jahe merah organik yang berkualitas dari Kelompok Patra Wangi digunakan oleh Kelompok Sinar Harapan untuk diolah menjadi jahe instan; dan keenam, beberapa produk yang dihasilkan seperti stik ikan dan minuman jahe juga dipasarkan di wilayah kerja perusahaan dan dikonsumsi oleh para pekerja,” katanya menggambar proses siklus pergram CSR yang CSV itu.
Dalam pemaparan di atas, program CSR tersebut dinamai ‘Oli Rante’. Yaitu, program pengolahan ikan dengan menerapkan Konsep Zero Waste. Program ini berupa daging ikan diolah menjadi sambal ikan, lalu kepala & tulang diolah menjadi stik ikan, serta isi perut ikan + prebiotic menghasilkan POC (Pupuk Organik Cair).
Program ini banyak dirasakan manfaatnya oleh perusahaan, masyarakat, dan stakeholder lainnya. Untuk perusahaan, dapat meningkatkan hubungan baik antara perusahaan dengan masyarakat di sekitar perusahaan. Juga, mitra binaan ini membantu pemenuhan kebutuhan buah tangan atau oleh-oleh bagi pekerja, mitra kerja yang akan pulang ke kampung halaman.
“Dan perusahaan juga berkontribusi dalam transfer pengetahuan dan keterampilan dalam menejerial kelompok dan usaha, pendampingan kegiatan pelatihan, perbaikan formula dan daya simpan produk, pendampingan pengolahan limbah non B3,” ujar dia.
Bagi penerima manfaat adalah Kelompok Baronang Food berupa, mendapat pelatihan dan pendampingan secara gratis dari perusahaan dan dinas terkait dalam pengembangan dan sertifikasi produk. Dan tentu saja meningkatkan pendapatan rumah tangga. Lalu bagi Kelompok Wanita Tani Patra Wangi, program ini bermanfaat untuk mendapat pupuk organic cair yang dapat dimanfaatkan untuk kesuburan tanaman.
Selanjutnya, dia menjelaskan, “Contoh program atau inisiatif strategis CSR untuk mengelola dampak yang ditimbulkan yaitu, Pertamina EP Donggi Matindok Field mencoba meminimalisir dampak kerja opersional perusahaan terutama di bidang lingkungan dengan memanfaatkan produk samping sulphur menjadi biosulfur fertilizer yang berguna bagi kesuburan tanaman.”
Program Unggulan
Disebutkannya, salah satu program CSR yang dinilai sangat diunggulkan dari 2020 lalu hingga saat ini adalah Pertamina SEHATI (Sehat Anak Ibu Tercinta). Ini merupakan Program CSR PT Pertamina EP Donggi Matindok Field yang berfokus pada Peningkatan Gizi Balita, Ibu Hamil, dan Ibu Menyusui sebagai wujud komitmen Perusahaan dalam menekan angka stunting di Kabupaten Banggai.
Program ini juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dalam mengakhiri kelaparan (SDGs No. 2) dan mewujudkan kesehatan yang baik dan kesejahteraan (SDGs No. 3).
Pentingnya Program Pertamina SEHATI, tutur Widya, karena berdasarkan data Studi Status Gizi Balita Indonesia, prevalensi stunting berada pada angka 27,7% – (SSGBI, 2019). Lalu, Kabupaten Banggai sendiri menjadi salah satu kabupaten yang memiliki banyak kasus permasalahan kesehatan anak, utamanya stunting yang mencapai angka 31,2% (RISKESDAS, 2018).
Bahkan, kemiskinan memengaruhi pola hidup dan keterbatasan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan gizi seimbang mereka. Dan Kabupaten ini masuk dalam peringkat 12 provinsi jumlah presentase penduduk miskin terbanyak (28.160 jiwa) – (BPS, 2019).
Permasalahan itu, katanya, diperburuk dengan pemahaman masyarakat yang masih rendah akan pentingnya pemenuhan gizi terutama pada ibu hamil. Plus, adanya kompleksitas masalah stunting di Indonesia, maka dibutuhkan sinergi semua pihak untuk mengatasi stunting.
“Dan kami sejak 2019 sampai 2022 sudah banyak melakukan peningkatan program ini. Mulai di 2019 dengan edukasi kesadaran stunting & GeMa CerMat. Di 2020 kami sudah jemput bola dengan memberikan pelayanan posyandu door to door. Lalu di 2021 dengan mempelopori inovasi Gebrak Banting tadi melalui pemberian makanan tambahan, dan di tahun ini kami kembangkan aplikasi Ruang SEHATI sebagai media edukasi dan monitoring dalam penanganan stunting,” pungkas dia.
FOTO: TopBusiness
