Jakarta, TopBusiness – Pengelola Perusahaan Umum Daerah Air Minum atau Perumdam Tirta Senentang, Kabupaten Sintang Provinsi Kalimantan Barat telah menerapkan manajemen risiko dalam tata kelola perusahaan. Itu dimaksudkan agar dapat diminimalisir potensi risiko yang mungkin timbul dalam proses operasional dan layanan kepada pelanggan. Selain, untuk menciptakan efisiensi dan efektivitas kinerja.
Saat sesi pendalaman materi presentasi berjudul ‘SINERGI & STRATEGI PENGEMBANGAN PERUMDAM TIRTA SENENTANG KABUPATEN SINTANG’, Direktur Perumdam Tirta Senentang Jane Elisabeth Wuysang menyatakan bahwa pihaknya telah melaksanakan prinsip-prinsip manajemen risiko saat dirinya menjabat pada periode pertama dan hingga saat ini.
Menurut dirinya, manajemen risiko merupakan sesuatu harus dilakukan agar potensi risiko bisa diminimalisir. “Ya memang semua yang kita lakukan harus manajemen yah. Dari semua tingkatan dari KPM (kuasa pemilik modal) sampai dengan terendah. Itu harus kita jabarkan risiko apa yang dapat muncul. Kemudian kita lakukan updating mana yang sudah bisa kita eliminir atau yang masih ada terus nih,” kata Jane, dihadapan Dewan Juri TOP BUMD Awards 2022, yang berlangsung secara dalam jaringan melalui aplikasi zoom meeting, di Jakarta, Senin (11/04/2022).
Manajemen risiko dapat memberikan gambaran secara jelas akan potensi-potensi risiko yang bakal muncul, sehingga perumda bisa mengantisipasinya.
“Nah itu tentu sangat sangat membantu perusahaan dalam mengontrol jalannya perusahaan sampai sejauh mana sudah kita lakukan. Rencana tindak pengendalian sudah dieksekusi atau belum. Kemudian apa yang menjadi kendalanya, itu setidaknya menjadi barometer kami untuk melakukan operasional perusahaan dan dapat dilakukan pengendaliannya,” papar Jane.
Perusahaan telah memiliki manajemen risiko yang akan diperbaharui tiap semester. Manajemen risiko sangat diperlukan agar setiap risiko yang muncul pada setiap proses, dapat diantisipasi dan telah ada rencana tindak pengendaliannya.
Selanjutnya, Perumdam Tirta Senentang merupakan satu-satunya perusahaan di Kalimantan Barat yang telah memiliki manajemen risiko.
Perumdam sadar benar bahwa dalam penerapan manajemen risiko masih terbentur dengan sumber daya manusianya. Kendati begitu, bukan berarti tak dijalankan. Perusahaan daerah ini pada akhirnya melakukan edukasi dan sosialisasi sehingga insan-insan dapat mengerti dan paham mengenai pentingnya pengendalian risiko.
Menurut Jane, faktor tingkat pendidikan dari masing-masing pemegang risiko menjadi kendala bagi perumdam dalam menerapkan manajemen risiko. “Memang dengan kondisi SDM, yang yah kita harus menerima apa adanya dengan tingkat pendidikan yang bervariasi, kemudian itu tetap ada kesulitan pada saat kita menerapkan, bahkan pada saat kita membuat daftar resikonya sendiri itu agak kesulitan juga, karena orang ini tahu apa yang kerjakan tapi dia tidak tahu apa yang menjadi risiko dia. Mungkin kita lakukan pelan-pelan semua karena semua merupakan proses. Karena saya sendiri juga menyadari bahwa punya risiko apa-apa saja dan apa yang saya harus lakukan,” ungkap dia.
