Jakarta, TopBusiness—Webinar yang diikuti hampir 200 perusahaan BUMD (badan usaha milik daerah) dari seluruh Indonesia, telah berlangsung hari ini. Merupakan pra-event Top BUMD Awards 2022, webinar tersebut mengangkat tema ini: Membangun Kinerja Bisnis dan Layanan BUMD yang Berkelanjutan.
Acara ini digelar oleh Majalah Top Business (MSI Group), bekerja sama dengan sejumlah lembaga. Yakni sebagai berikut: I-Otda (Institut Otonomi Daerah), LKN (Lembaga Kajian Nawacita). Dan didukung pula oleh Solusi Kinerja Bisnis (SKB), SGL Management, Melani K. Hariman and Associates, Dwika Consulting, Sinergi Daya Prima, Yayasan Pengembangan Keuangan Mikro (Pakem), serta akademisi FEB Universitas Padjadjaran, Bandung.
Ketua Penyelenggaran Top BUMD Awards 2021 dan Pemimpin Redaksi Majalah TopBusiness, M. Lutfi Handayani, mengatakan bahwa webinar tersebut diharapkan bisa menaikkan wawasan para peserta. Dengan demikian, pada saat masa Covid-19, kinerja BUMD bisa tetap naik.
“Bila semakin banyak BUMD yang kinerjanya naik, maka pemerataan pembangunan nasional bisa lebih cepat tercapai,” kata Lutfi.
Ia pun menjelaskan sejumlah hal tentang Top BUMD Awards 2022. Penghargaan tersebut adalah pemberian penghargaan tahunan untuk BUMD terbaik dan berprestasi, yang melakukan banyak perbaikan dan kontribusi ke pembangunan ekonomi daerah.
“Dari waktu ke waktu, jumlah peserta Top BUMD Awards terus naik signifikan. Tujuan penghargaan tersebut adalah mendorong inovasi, tata kelola, keprofesionalan manajemen, dan lain-lain. Jika BUMD banyak yang berkinerja bagus, maka permasalahan bangsa seperti kemiskinan dan lain-lain, insha Allah lebih cepat diselesaikan,” kata Lutfi.
Sejumlah pembicara penting, mengisi webinar tersebut. Antara lain, Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Kementerian PUPR, Herry Trisaputra Zuna; Direktur Utama Bank Papua, F. Zendrato; Direktur Utama Perumdam Tirta Darma Ayu, Adi Setiawan; Direktur Utama Perumdam Tirta Kerta Raharja, Sofyan Sapar; Direktur Utama Food Station Tjipinang Jaya, Pamrihadi Winaryo; Direktur Utama Perumda Pasar Tohaga, H. Haris Setiawan; Direktur RSUD Iskak Agung Tulungagung, Supriyanto Dharmoredjo; Direktur Utama BPR Delta Artha Sidoarjo, Sofia Nurkrisnajati.
Beberapa Poin
Beberapa poin muncul dari webinar tersebut. Memberikan sambutan dalam webinar itu, Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Kementerian PUPR, Herry Trisaputra Zuna, mengatakan bahwa pihaknya mendorong adanya skema pembiayaan campuran dalam menaikkan level pelayanan air minum ke masyarakat.
“Skema KPBU (kerjasama pemerintah dan badan usaha) kita harapkan dapat diaplikasikan ke BUMD air minum di Indonesia. Dan sektor keuangan juga diharapkan dapat berpartisipasi untuk menaikkan kinerja BUMD air minum,” papar Herry.
Kemudian, Herry pun mengatakan bahwa pihaknya juga mengajak pemda untuk mendorong berlakunya skema KPBU untuk BUMD air minum.
Kini, dalam hal pembiayaan infrastruktur air minum, ada gap antara dana dari APBN dan APBD, dengan kebutuhan nyata. Maka skema KPBU dibutuhkan untuk mengatasi hal tersebut. “Lingkup KPBU bisa beragam, dari hulu hingga hilir,” kata Herry.
Direktur Utama Bank Papua, F. Zendrato, mengatakan bahwa pihaknya dalam masa Covid-19, masih bertahan dan mendapatkan kenaikan kinerja walau tak terlalu besar. “Modal inti kami kini Rp3,7 triliun. Dan tingkat kesehatan, dalam komposit 2 atau ‘sehat’,” kata Zendrato.
Laba Bank Papua pun naik, demikian pula dengan DPK (dana pihak ketiga). “Adapun aset kami naik 101% secara year on year.”
Beberapa hal, kata dia, perlu diperhatikan dalam bisnis bank. Pada tahun 2021, Bank Papua menggelar beberapa strategi seperti memerhatikan risk compliance, kultur, permodalan, HC (human capital). “Kemudian bank harus kokoh dalam pondasi, dan hal ini menyangkut tata kelola yang baik,” papar Zendrato.
Direktur Utama Perumdam Tirta Darma Ayu, Adi Setiawan, mengatakan sejumlah hal dalam webinar tersebut. Antara lain bahwa di era digitalisasi, tantangan untuk BUMD air minum bertambah. Contohnya, konsumen minta dilayani cepat, dan ada tren untuk gemar menggugat. “BUMD air minum perlu memitigasi hal seperti itu,” kata Adi.
Pihaknya pun berharap agar pemerintah pusat mendorong pemerintah daerah dalam hal alokasi anggaran infrastruktur air minum. “Kalau anggaran kesehatan sebesar 20% dari APBN dan APBD, maka anggaran air minum idealnya sebesar 20% dari anggaran kesehatan itu. Air minum kan serumpun dari kesehatan, dan termasuk sanitasi,” papar Adi.
Direktur Utama Perumdam Tirta Kerta Raharja, Sofyan Sapar, menyatakan sejumlah pandangannya. Antara lain, dikatakannya bahwa kini pihaknya sedang investasi untuk jalur pipa panjang. “Di wilayah kami, ada banyak pengembang perumahan. Kami melayani kawasan Tangerang, Tangerang Selatan, daerah pengembangan, dan bahkan sebagian DKI Jakarta,” kata Sofyan.
Perumdam Tirta Kerta Raharja pun pada saat ini memerhatikan pentingnya transformasi digital. Di sini, pihaknya akan menggunakan kerja sama berbasis kinerja, dengan pihak investor. “Jadi, rencananya, investor berinvestasi lebih dulu dan hasilnya dilihat. Kalau pakai anggaran kami untuk transformasi digital, itu nilainya besar,” Sofyan menjelaskan.
Sementara itu, Direktur RSUD Iskak Agung Tulungagung, Supriyanto Dharmoredjo, memaparkan bahwa kini pihaknya menggelar sejumlah strategi untuk beradaptasi ke banyak hal baru. “Misalnya saja, di era disrupsi, kami dihadapkan ke era big data yang variasi-variasinya sangat banyak. Maka tidak mungkin untuk tidak beradaptasi. Di sini, kami mengarah ke smart hospital,” kata Suprianto.
Dikatakannya pula bahwa di masa Covid-19, jasa kesehatan pun bertemu sejumlah turbulensi. “Dan kita di era liberalisasi perdagangan dan FTE (free trade area). Kita pun menuju pengubahan sistem penyelenggaraan kesehatan menjadi sistem paket. Maka kami harus cari terobosan untuk keluar dari turbulensi-turbulensi tersebut,” kata Suprianto lagi.
Masih dalam webinar tersebut, Direktur Utama BPR Delta Artha Sidoarjo, Sofia Nurkrisnajati, mengatakan bahwa dalam situasi menantang seperti saat ini, adalah penting untuk mengoptimalkan semua potensi yang dimiliki.
Sejumlah terobosan telah dilakukan BPR Delta Artha Sidoarjo. Itu antara lain via sinergi dengan pemerintah daerah. “Di sini, kami mengelola rekening dana desa Kabupaten Sidoarjo, sejak tiga tahun belakangan ini. Dengan pengelolaan tersebut, kami pun bisa lebih dekat dengan pemerintahan desa. Juga, bisa lebih dekat ke nasabah potensial pada sebuah desa,” kata Sofia.
BPR Delta Artha Sidoarjo pun mengelola Kurda (Kredit Usaha Daerah) yang merupakan wujud komitmen Pemerintah Kabupaten Sidoarjo membantu pemulihan ekonomi nasional, khususnya ekonomi Sidoarjo. “Kurda merupakan sinergi kami dengan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Kredit ini merupakan strategi agar UKM naik kelas,” papar Sofia.
Direktur Utama Food Station Tjipinang Jaya, Pamrihadi Winaryo, menjabarkan sejumlah pernyataan. Antara lain bahwa isu ketahanan pangan untuk Jakarta, sangatlah perlu diperhatikan. “Jakarta, dikelilingi daerah penghasil pertanian, perkebunan. Adapun permintaan pangan dari Jakarta, sangat banyak. Sebanyak 10,56 juta penduduk Jakarta, tentu perlu pangan,” kata Pamrihadi.
Maka, Food Station Tjipinang membuat konsep ketahanan pangan Jakarta. Di situ ada konsep kuratif, preventif, pre-empty. Kini, konsep kuratif yang antara lain berbentuk operasi pasar, pelan-pelan ditinggalkan.
Untuk konsep preventif, BUMD tersebut punya kontrak dengan ribuan petani. Konsep onfarming di hulu dijalankan di konsep preempty. Di sini, Food Station Tjipinang Jaya, memberikan margin keuntungan yang sifatnya tetap ke petani di masa paceklik atau pun ramai.
“Ketahanan pangan bisa dilakukan via kolaborasi antara OPD (organisasi perangkat daerah) dengan BUMD pangan seperti kami. Di sini, OPD sebagai demand creator.”
