Jakarta, TopBusiness – Terdongkrak oleh pengadaan vaksin Covid-19, Holding BUMN Farmasi yang terdiri atas PT Bio Farma, PT Kimia Farma Tbk danPT Indofarma Tbk berhasil mencatatkan kinerja bisnis yang fantastis pada 2021.
Ketiga BUMN farmasi tersebut membukukan pendapatan konsolidasi tahun 2021 sebesar Rp 43,4 triliun dan laba bersih Rp 1,93 triliun.
“Untuk postur laba rugi tahun 2021, kami secara konsolidasi mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,93 triliun atau mencapai 186,9 persen terhadap RKAP 2021,” kata Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) sebagai induk Holding BUMN Farmasi Honesti Basyir dalam Rapat Dengar Pendapat denganKomisi VI DPR RI di Jakarta, Senin (23/5/2022).
Jika dibandingkan dengan tahun 2020, maka laba bersih konsolidasi Holding BUMN Farmasi tahun 2021 tumbuh 567,8 persen.
Kenaikan laba bersih ini juga tentunya akibat dampak dari proses penanganan pandemi Covid-19 baik yang sifatnya penugasan maupun yang langsung dilakukan di sektor reguler.
Untuk pendapatan Holding BUMN Farmasi tahun 2021 dibandingkan dengan tahun 2020 tumbuh sebesar 20,23 persen. Kenaikan ini terutama karena kontribusi dari pengadaan vaksin Covid-19 untuk pemerintah sebesar Rp26,81 triliun.
“Di samping itu, kami juga mendapatkan kenaikan pendapatan dari bagaimana kita bersinergi dengan semua anak usaha mulai dari alat kesehatan sampai dengan obat-obatan penanganan Covid-19, dan tentunya vaksin Covid-19 itu sendiri. Jika dibandingkan dengan RKAP tahun 2021 maka terdapat kenaikan yang cukup signifikan realisasinya,” tuturnya.
Sementara itu, sepanjang kuartal I-2022, Holding BUMN Farmasi membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 7,1 triliun.
“Kalau kita melihat pencapaian pendapatan Holding BUMN Farmasi sampai akhir Maret 2022 maka pencapaian kita 99 persen dibandingkan target kuartal I tahun ini Rp 7,14 triliun dan pencapaian pendapatan kita sebesar Rp 7,1 triliun. Kalau dibandingkan dengan periode sama pada 2021, kita mengalami pertumbuhan sebesar 18 persen,” ujar Honesti.
