Jakarta, TopBusiness – Banyak prestasi yang ditorehkan PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) sebagai perusahaan yang memiliki dua entitas induk yaitu PT Pelindo Terminal Petikemas (99%) dan PT Pelabuhan Indonesia Investama (1%), atas kinerja yang telah dilaksanakannya. Baik itu pecapaian rekor yang dilakukan hingga kinerja operasi dan kinerja keuangan yang mumpuni.
Seperti misalnya, perseroan yang memiliki aktivitas bisnis jasa kepelabuhan ini mampu memecahkan rekor pelayanan kapal terbesar sepanjang sejarah IPC TPK beroperasi dan Terminal 3. Hal ini karena Kapal MV MSC Tianshan dengan panjang (LOA) 334 meter dicatat bersandar di Terminal 3 IPC Terminal Petikemas. Sebanyak hampir 2.000 petikemas (empty container) berukuran 40 feet dibongkar dari kapal tersebut untuk dapat membantu mengatasi kelangkaan petikemas dalam menunjang ekspor produk-produk Indonesia ke luar negeri.
Sementara itu untuk kinerja operasi yang mumpuni, misalnya pada kinerja operasi arus lalu lintas petikemas. Dicatat terjadi peningkatan secara yoy. Jika tahun 2020 arus lalu lintas petikemas sebesar 2,58 million TEUs, maka tahun 2021 meningkat menjadi 2,72 million TEUs. Untuk jumlah box pada arus lalu lintas petikemas juga mengalami peningkatan. Jika tahun 2020 dicatat sebesar 2,11 million box, maka pada tahun 2021 meningkat menjadi 2,23 million box.
Pada kinerja keuangan, IPC TPK juga mencatatkan adanya peningkatan pendapatan usaha. Jika tahun 2020 pendapatan usaha dicatat sebesar Rp 2,42 triliun, maka pada tahun 2021 dicatat sebesar Rp 2,51 triliun. Untuk Earning Before Interest Tax, Depreciation, and Amortization (Ebitda), pada tahun 2020 dicatat sebesar Rp 556 miliar, pada tahun 2021 meningkat menjadi Rp 559 miliar.
Menurut Corporate Secretary PT IPC Terminal Petikemas Amanda Maulina dalam penjurian TOP GRC 2022, keberhasilan perusahaan dalam menorehkan kinerja yang telah dilakukan, karena perusahaan mampu memberikan layanan berkualitas tinggi dan kompetitif yang kuat. Seperti misalnya, IPC TPK menurunkan biaya logistik dan waktu kapal sandar di pelabuhan. Penurunan biaya logistik ini dilakukan selepas IPC TPK bekerjasama dengan perusahaan pelayaran, meluncurkan New Services (Direct Call) ke berbagai negara.
Di samping itu, IPC TPK juga berhasil dalam mengimplementasikan digitalisasi di perusahaan. Implementasi digital merupakan upaya memberikan nilai lebih kepada pengguna jasa dengan meningkatkan layanan pada core bisnis pelabuhan menggunakan tren teknologi digital agar pelayanan menjadi lebih cepat, transparan dan dapat dijangkau di mana saja. Implementasi digital ini dilaksanakan di Operations, Back Office, dan Customer.
Dalam operations misalnya perusahaan mengimplementasikan: INAPORTNET (Trans. Ministry), Container TOS, SIMOP, Behandle Management System, Pertukaran Data Elektronik dengan Shipping Line, Autogate System, Autotally (Remote Tally System), Centralized Planning and Control, Auto collection, dan Mandatory NPE-PEB. Dalam Back Office, perusahaan mengimplementasikan: Data Quality system and dashboard (operation and financial), IPC Virtual Office, SISKAKU (Sistem Kerjasama Usaha). Dan untuk Customer, perusahaan dicatat mengimplementasikan: IPC E- Service, i-Hub – Single Platform untuk semua layanan IPC, dan CRM (Customer Relation Management).
Didukung Keberhasilan Implementasikan GCG dan Manajemen Resiko
Menurut Amanda Maulina kembali, hadirnya layanan berkualitas dan kompetitif sesungguhnya tidak lepas dari keberhasilan perusahaan dalam mengimplementasikan GCG dan manajemen risiko.
Keberhasilan mengimplementasikan GCG ditandai dengan keberhasilan IPC TPK menerapkan Governance Principles, Governance Commitment, Governance Structure, Governance Process, dan Governance Outcome. Hal ini ditandai dengan naiknya skor penerapan GCG dari tahun ke tahun. Pada tahun 2020 misalnya, skor GCG dicatat sebesar 97,04. Pada tahun 2021 dicatat naik menjadi 97,32
Sementara itu keberhasilan perusahaan yang beroperasi di 2 bidang yaitu Layanan Terminal dan Layanan Pendukung (seperti misalnya stripping stuffing dan depot kontainer) ini dalam mengimplementasikan manajemen resiko, ditandai dengan cukup baiknya nilai manajemen resiko yang diterapkan. Berdasar pengukuran tingkat maturitas manajemen risiko (eksternal assessment), dicatat meraih nilai atau skor sebesar 2.89 (Defined) dari skala 5.
Penulis: Irawan Joko Nugroho
