TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Siap Jadi Bank Digital Terbesar, Sea Bank Indonesia Konsisten Terapkan GRC

Busthomi
18 July 2022 | 13:45
rubrik: Event, GCG
Siap Jadi Bank Digital Terbesar, Sea Bank Indonesia Konsisten Terapkan GRC

Jakarta, TopBusiness – PT Bank SeaBank Indonesia, salah satu bank digital yang disokong oleh grup teknologi papan atas di ASEAN, Sea Limited akan terus mengejar target menjadi bank digital terbesar di segmennya. Saat ini, bank digital satu ini mulai focus menggarap segmen ritel dan UMKM di Indonesia.

Untuk mencapai target tersebut, pihaknya konsisten dalam mengembangkan bisnis dan inovasi, salah satunya dengan menggarap implementasi GRC (Governance, Risk, & Compliance) secara konsisten. Apalagi memang, menurut pihak SeaBank Indonesia, dengan induk yakni Sea Limited yang sudah terdaftar di New York Stock Exchange, maka implementasi GRC ini menjadi satu kewajiban.

Hal ini seperti disampaikan oleh Komisaris Utama SeaBank Indonesia, Dono Boestami saat membuka presentasi penjurian TOP GRC Awards 2022 yang digelar secara virtual, pada Senin (11/7/2022) lalu. Acara penjurian ini diselenggarakan majalah TopBusiness dan bekerja sama dengan sejumlah lembaga terkemuka di Tanah Air, antara lain Asosiasi GRC Indonesia, Perkumpulan Profesional Governansi Indonesia, CRMS Indonesia, IRMAPA, ICoPI, dan lain sebagainya.

“Ini satu kehormatan bagi kami SeaBank bisa masuk nominasi di TOP GRC Awards 2022, dari sebanyak ratusan perusahaan yang ikut penjurian,” kata Dono membuka pembicaraan. “Bagi kami, khusus untuk GRC ini menjadi bagian penting dari grup kami. Mayorias kepemilikan dari Sea Ltd yang berbasis di Singapura itu adalah perusahaan yang sudah listed di New York Stock Exchange. Jadi walau kita jauh dari New York, sekecil apa pun kejadian di dalam grup akan berdampak secara signifikan kepada listing entity yang ada di New York Exchange itu,” paparnya.

“Dan untuk diketahui, basis kami itu Sea Ltd adalah teknologi company. Makanya, ini yang membedakan kami dengan bank-bank digital lainnya. Karena strong point kami ada di digital di induk kami tersebut,” lanjut komisaris yang sudah malang melintang di banyak perusahaan, termasuk pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT MRT Jakarta itu.

Pemaparan sendiri disampaikan oleh Sasmaya Tuhuleley, selaku Direktur Utama SeaBank, lalu disusul berturut-turut oleh Direktur Bisnis Junedy, selanjutnya Direktur Kepatuhan & Manajemen Risiko Joice Farida Rosandi, dan Direktur Keuangan Lindawati Octaviani. Kemudian dalam proses tanya jawab dengan Dewan Juri, dibantu oleh Anti Deisnasari sebagai Head Subdirektorat Complaince & AML/CTF serta Juri Adrianto sebagai Kepala Subdirektorat Non-financial Risk Management SeaBank Indonesia.

Sasmaya pun mengupas awal mula sejarah SeaBank ini yang awalnya bernama PT Bank Kesejahteraan Ekonomi (Bank BKE) yang didirikan tahun 1991 silam. Dan mulai beroperasi sejak 27 Februari 1992. Dan mulai 2020 lalu, SEA Group menjadi pemegang saham pengendali tak langsung setelah akuisisi oleh PT Danadipa Artha, anak perusahaannya.

“Dan di Juni 2021, resmi berganti nama menjadi PT Bank Seabank Indonesia (SeaBank) dan meluncurkan perbankan digitalnya. SEA Group sendiri merupakan perusahaan teknologi terkemuka di Asia Tenggara. Dan Sea Limited adalah perusahaan teknologi konsumen global yang didirikan pada tahun 2009,” kata Sasmaya.

“Dan kini menjadi bisnis internet berskala pertama dari Asia Tenggara yang terdaftar di New York Stock Exchange (NYSE) pada Okt 2017. Dengan brand-brand yang terkenal adalah Shopee, dan brand game online seperti Garena yang memiliki game seperti Free Fire dan lainnya,” lanjut dia.

BACA JUGA:   Berkat Kesigapan dan Konsistensi GRC, Pelni Selamat dari Badai Pandemi Covid-19

Direktur Bisnis Junedy menambahkan terkait Visi-Misi perusahaan yang sudah berubah seiring ganti kepemilikan dan segmen bank menjadi bank digital. Visi-nya adalah “Menjadi Bank Umum yang terpercaya dan andal, untuk melayani segmen ritel dan UMKM di Indonesia.” Dengan misi, “Menyediakan layanan keuangan yang berkualitas dan profesional untuk nasabah ritel dan UMKM di Indonesia.”

“Dengan teknologi yang ada kami bisa menjangkau UMKM di mana pun di Indonesia, sehingga dapat berkontribusi terhadap system perekonomian di Indonesia,” tegas dia.

Adapun nilai yang diadopsi oleh perusahaan ada 5, yaitu, ‘Kita Melayani’, yaitu pelanggan selalu benar; lampaui ekspektasi pelanggan, berikan di atas dan lebih dari yang diharapkan. ‘Kita Beradaptasi’ yaitu mengantisipasi perubahan dan membuat rencana lebih awal; menerima perubahan yang tidak terduga dan tetap melakukannya dengan baik. ‘Kita Berlari’ yaitu mempunyai dorongan dari diri sendiri yang kuat untuk menyelesaikan sesuatu, tidak perlu didorong-dorong oleh orang lain; selalu mempunyai rasa urgensi yang tinggi untuk menyelesaikan pekerjaan.

Lalu, ‘Kita Berkomitmen’ yaitu menjadi orang yang bisa diandalkan, melakukan apa yang kita janjikan akan lakukan; memegang standar yang tinggi yakni tidak mengambil jalan pintas bahkan saat orang lain tidak ada yang melihat; Berlaku sebagai seorang pemilik yani bersikap proaktif mencari cara agar organisasi kita bisa menjadi semakin baik. “Kita Tetap Rendah Hati’ yaitu mempunyai mentalitas bahwa kita adalah underdog yang masih harus belajar dan terus belajar dari kondisi pasar dan pesaing; menerima bahwa kita tidak sempurna dan tidak akan pernah menjadi sempurna; dan bekerja keras terlebih dahulu, merayakan, dan menikmati nanti.

Kinerja Positif di Tengah Pandemi

Lebih jauh ditegaskan Junedy, Sea Bank Indonesia terus menancapkan taringnya di kancah perbankan nasional, terutama di bank-bank digital nasional. Salah satunya ditengok dari sisi kinerja keuangan. Meski masih dalam pandemic, sejak ganti kepemilikan, pihak perseroan terus menggenjot bisnisnya menjadi semakin positif. Bahkan, berhasil meingkat secara signifikan.

Bisa ditengok dari sisi asset perusahaan di akhir tahun 2020 masih di angka Rp3,469 triliun dan melonjak menjadi Rp17,978 triliun per Mei 2022 ini. Dengan total kredit dari tahun 2020 di angka Rp1,924 triliun menjadi Rp6,116 triliun di Desember 2021, bahkan hingga Mei 2022 sudah di angka Rp12,566 triliun. Lalu di dua tahun sebelumnya, SeaBank masih mencatatkan rugi bersih senilai Rp598,1 miliar di Desember 2020 dan masih rugi di Desember 2021 di Rp313,395 miliar menjadi meraih laba di Mei 2022 lalu di angka Rp3,789 miliar.

Dengan rasio KPMM (kewajiban pemenuhan modal minimum) atau CAR menjadi 21,93% per Mei 2022 dari sebelumnya di angka 41,33% (2021) atau 51,58% (2020). Dengan RoA (return on asset) di 0,06% dari sebelumnya -5,17% Desember 2021 dan -14,11%. Lalu RoE (return on equity) juga sudah positif di 0,39%, padahal sebelumnya di -19,02% (des 2021) dan -49,72% (Desember 2020). Lalu net interest margin (NIM) juga meningkat menjadi 15,34% per Mei 2022 itu dari 7,04% (Desember 2021) atau 4,53% (di Desember 2020).

BACA JUGA:   Jadi BUMD Handal, PT MMP Kaltim Fokus Transformasi Tata Kelola dan Digitalisasi

“Return on Equity dan Return on Asset) akan terus membaik seiring dengan kinerja bank yang positif. Ditambah pendapatan bunga dan beban–beban lainnya juga terus berkurang. Apalagi kita juga tak perlu buka cabang di seluruh Indonesia dengan bank digital ini, sehingga kita bisa lebih efisien dari bank-bank lainnya di Indonesia,” katanya.

Terkait pandemi ini, kata dia, justru sangat positif bagi perbankan di Indonesia terutama bank digital. Pada tahun 2021, inovasi dan pengembangan produk difokuskan pada pengembangan aplikasi perbankan digital. Edukasi mengenai cara penggunaan aplikasi juga telah dilakukan untuk mengakselerasi pemanfaatan teknologi ini.

“Peluncuran perbankan digital tidak hanya sejalan dengan prinsip keuangan berkelanjutan yaitu prinsip inklusif, namun juga menjawab kebutuhan akan perkembangan gaya hidup masyarakat saat ini yang mengharapkan kemudahan akan akses layanan keuangan tanpa harus hadir secara fisik, terutama sejak pandemi Covid-19 yang menyebabkan keterbatasan mobilisasi,” katanya.

Untuk itu, pihaknya menggenjot strategi bisnis dalam mendukung kinerja di masa Pandemi ii adalah fokus pada sinergi dengan ekosistem pemegang saham yang dimiliki. Baik dari sisi penghimpunan dana melalui produk yang simple, aman dan terintegrasi dengan pembayaran di ekosistem Shopee, hingga pembiayaan UMKM dan retail yang bertransaksi di ekosistem Shopee. “Sehingga dengan strategi tersebut kami bisa dibilang berhasil mengantongi profit yang relative cepat.”

GRC di SeaBank

Selanjutnya, Joice menambahkan, secara organisasi pihaknya sangat memahami GRC ini, salah satunya bisa dilihat dari struktur organisasi dan kebijakannya. Di struktur organisasi ini, sudah dilengkapi dengan komite-komite yang mendukung GRC. Seperti tiga komite di bawah Komisaris yaitu Komite Audit, Komite Pemantau Risiko, Komite Remunerasi & Nominasi.

Lalu ada enam komite di bawah Direksi yaitu Komite kebijakan Perkreditan, Komite Manajemen Risiko, Komite Asset & Liability, Komite Manajemen Kepegawaian, Komite Pengarah Teknologi, Komite Pemutus Kredit. Plus, di bawah Direktur Compliance & Risk Management juga ada Kepala Subdirektorat yaitu Kepala Subdirektorat Compliance & AML/CTF, Kepala Subdirektorat Financial Risk Management, dan Kepala Subdirektorat Non-financial Risk Management. “Ini bentuk pentingnay GRC di SeaBank,” kata dia.

“Dan salah tugas dari komite itu adalah Komite Pemantau Risiko Komisaris yang mengevaluasi kebijakan dan pelaksanaan manajemen risiko di Bank. Komite ini terdiri dari 1 Komisaris Independen dan 2 pihak independen ahli di bidang keuangan dan manajemen risiko,” sambung Joice.

Pentingnya GRC di SeaBank ini, kata dia, tidak hanya dari sisi organisasi yang lengkap, tapi juga dari sisi kebijakannnya. Untuk sistem dan kebijakan GCG Regulasi Eksternal (Menjadi dasar/syarat yang mengharuskan implementasi GCG) seperti POJK No. 55/POJK.03/2016 tentang Penerapan Tata Kelola bagi Bank Umum, dan juga SEOJK No. 13/SEOJK.03/2017 tentang Penerapan Tata Kelola bagi Bank Umum.

Adapun untuk kebijakan di internalnya, terkait dengan GCG adalah Kebijakan GCG Nomor POL-0101-002 tentang Kebijakan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (GCG). Dengan kebijakan ini, dampaknya adalah perusahaan memberikan kerangka penerapan prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG) dalam kelangsungan bisnis di industri perbankan dengan mengacu pada ketentuan Regulator.

BACA JUGA:   Aksi Muda Indonesia, dari Asuransi Astra untuk Masyarakat Indonesia

Selanjutnya, untuk kebijakan terkait dengan manajemen risiko, antara lain adalah kebijakan manajemen Kelangsungan Bisnis (Business Continuity Management). Dengan kebijakan ini memberikan kerangka kerja Business Continuity Management (BCM) dalam mengembangkan, mengimplementasi, serta mengelola strategi rencana pemulihan bisnis termasuk melakukan pelatihan dan kaji ulang rencana kelangsungan bisnis sejalan dengan ketentuan yang mengatur mengenai Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum dan Penerapan Manajemen Risiko dalam Penggunaan Teknologi Informasi oleh Bank Umum.

Termasuk juga kebijakan terkait dengan implementasi kepatuhan yaitu Kebijakan Kepatuhan yang menetepakan kerangka pengelolaan kepatuhan dan batasan tanggung jawab pemangku kepentingan.

Adapun dalam implementasi manajemen risiko ini, kata dia, pihaknya menjalankan Three Lines of Defense dalam hal identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko. Di lini pertahanan pertama, untuk unit pengambil risiko terdiri dari fungsi bisnis dan fungsi pendukung. Lini ini memastikan desain dan implementasi control dan respons lain untuk menangani risiko yang terkait dengan aktivitasnya.

Untuk lini pertahanan kedua, ada unit pengawasan risiko terdiri dari fungsi Manajemen Risiko dan Kepatuhan yang melaksanakan tugas dan tanggung jawab secara independen dari lini pertahanan pertama. Lalu, di lini pertahanan ketiga, SKAI menilai dan mendeteksi kelemahan pengendalian dan/atau kesenjangan implementasi pada aktivitas mitigasi risiko, kepatuhan terhadap regulasi dan faktor lainnya serta memberikan opini atas efektivitas budaya risiko Bank Bank juga telah menetapkan kebijakan, prosedur, dan metodologi yang memadai di seluruh organisasi untuk memastikan pedoman manajemen risiko yang memadai dan arah kegiatan bisnis Bank sehari-hari.

IT Topang GRC

Dalam mengusung GRC ini, sebagai bank digital, tentu saja ditopang oleh kematangan TI perusahaan. “Sejalan dengan kemajuan teknologi dan perkembangan usaha, fungsi kepatuhan memastikan Bank menjalankan prinsip kehati-hatian dan memastikan kegiatan usaha Bank sesuai dengan regulasi dan perundang-undangan yang berlaku dengan memanfaatkan Teknologi Informasi, surat elektronik, pemanfaatan sitem pelaporan secara elektronik dari Regulator, dan lain-lain,” lanjut Joice.

“Dalam satu tahun terakhir, Seabank secara intensif telah melakukan pengembangan Teknologi Informasi dan perangkat yang dapat mendukung terlaksananya fungsi manajemen risiko secara lebih efektif, seperti: early warning tools, stress test, monitoring dashboard, scorecard untuk segmen ritel, Treasury Management System, dan lain-lain,” katanya.

Apalagi memang, bank sendiri terus massif dalam menggelar produk-produk terbarunya. Di Semester I 2022, SeaBank terus fokus menambah fitur-fitur terkait simpanan dan pembayaran yang sederhana, intuitif, dan mudah yakni, tabungan SeaBan, deposito Seabank, transfer (RTOL, SKN, infrabank), lalu ada e-wallet top up missal ke shopeepay, dan diret debit untuk shopeepay topuo, dll.

Selain itu, peningkatan operasional pendukung yang andal dan aman untuk mendukung kenyamanan transaksi berupa digital operations berupa agent KYC, customer service, payment Ops, fraud Ops, AML ops.

FOTO: TopBusiness

Tags: PT Bank SeaBank IndonesiaTOP GRC Awards 2022
Previous Post

Investor masih Menunggu Berinvestasi di Hulu Migas

Next Post

Bangun Desa Devisa Kluster Udang, LPEI Berkontribusi Genjot Pertumbuhan Ekspor Jawa Timur

Comments 1

  1. Elwani says:
    4 years ago

    Digital based bank AND the ultimate shareholder.listed at NYSE AND target market Million SME, SeaBak should be facilitated non-interest baring funds AND tax (fiscal) incentivizes in many instances as deemed necessary to support Million SME, 🔝🖕💪

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR