Jakarta, TopBusiness – Bank Dunia memberikan penilaian positif atas perkembangan ekonomi Indonesia sebagai dampak beragam kebijakan akomodatif guna mendorong pemulihan ekonomi. Di tengah ancaman resesi ekonomi global, Indonesia cukup bisa menjaga stabilitas perekonomian dengan pertumbuhan ekonomi pada level sekitar 5%. Sejalan dengan pertumbuhan ini, PT Bank OCBC NISP Tbk juga mencatat pertumbuhan kinerja berkelanjutan secara positif.
Pada paruh pertama tahun 2022, Bank OCBC NISP berhasil mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 12% year on year (YoY) yang didorong oleh peningkatan pendapatan bunga bersih sebesar 4% YoY dan penurunan pada beban cadangan kerugian penurunan nilai sebesar 16% YoY. Tidak hanya itu, kinerja keuangan utama Bank turut mencatatkan pertumbuhan positif di Semester I 2022 ini.
Seperti asset sebesar Rp223,4 triliun atau naik 11% (yoy), lalu Dana Pihak Ketiga berhasil dihimpun Rp171,5 triliun terkerek 14%, kredit yang dikucurkan pun meningkat 10% menjadi Rp127,1 triliun, dengan nilai ekuitas setara Rp32,8 triliun atau meningkat 5% dari sebelumnya Rp31,3 triliun.
Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur Bank OCBC NISP mengatakan, aktivitas perekonomian yang semakin pulih juga tercermin dari permintaan kredit yang membaik. Di Bank OCBC NISP, secara keseluruhan penyaluran kredit meningkat 10% YoY pada Semester I 2022 yang terutama didorong oleh pertumbuhan kredit perbankan ritel sebesar 15% dan kredit perbankan bisnis sebesar 7%.
Tidak hanya itu, penyaluran kredit Bank OCBC NISP untuk para pelaku usaha perempuan melalui program TAYTB Women Warrior mencatat peningkatan signifikan sebesar 41% YoY dan peningkatan jumlah nasabah sebesar 20% YoY pada Semester I 2022.
“Selain karena menjalankan penyaluran kredit dengan tetap berpedoman pada prinsip kehati-hatian, pemulihan ekonomi berkontribusi positif pada penurunan rasio NPL di Bank OCBC NISP. Pada akhir Juni 2022, NPL gross berada pada level 2,4% sementara NPL net berada pada level 0,8% di mana keduanya mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya,” tegas Parwati dalam keterangan tertulisnya, dikutip Senin (1/8/2022).
Dia melanjutkan, walaupun Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, pertumbuhan ekonomi global diprediksi berada pada kisaran 3,0% tahun ini dan tahun depan. Ditambah dengan terus berlanjutnya perang antara Rusia dan Ukraina, ketidakpastian dan ancaman resesi semakin sulit dihindari.
Kondisi Indonesia sendiri menurut Kementerian Keuangan masih cukup positif terlihat dari utang luar negeri pemerintah dan utang korporasi yang menurun. “Untuk itu, kita perlu tetap optimis sekaligus waspada agar terus dapat menangkap peluang di tengah ancaman resesi. Bank OCBC NISP sendiri akan terus mempertahankan kinerja positif dan membantu nasabah dalam memenuhi kebutuhan perbankannya sehingga bersama dapat melaju jauh dan berkontribusi pada perekonomian Indonesia,” ujarnya.
Transaksi Digital Genjot DPK
Lebih jauh ditegaskannya, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan CASA atau dana murah serta meningkatnya transaksi digital oleh nasabah Bank OCBC NISP merupakan indikasi yang baik akan kesadaran nasabah untuk mengelola keuangan dan memanfaatkan layanan digital untuk kebutuhan perbankan sehari-hari.
Hal ini terlihat dari beberapa indikator kinerja keuangan, di antaranya: pertama, DPK tumbuh sebesar 14% YoY pada posisi akhir Juni 2022 dengan komposisi CASA sebesar 56,7% dibandingkan dengan total DPK. “Komposisi ini mengalami peningkatan yang pesat jika dibandingkan dengan Juni 2019 di mana komposisi CASA Bank OCBC NISP sebesar 37,6%,” katanya.
Kedua, jumlah transaksi melalui ONe Mobile pada Semester I 2022 mengalami peningkatan sebesar 31%, nilai transaksi mengalami peningkatan sebesar 24%, sementara jumlah pengguna bertambah 19% dibandingkan periode yang sama di tahun 2021.
Untuk nasabah korporasi, layanan Velocity@ocbcnisp mengalami pertumbuhan nilai transaksi sebesar 27%, jumlah frekuensi transaksi dan pengguna masing-masing sebesar 20% dan 15% dibandingkan periode yang sama di tahun 2021.
Ketiga, penyaluran KPR mencatat kenaikan sebesar 26% YoY termasuk didukung oleh program KPR Easy Start, kredit kepemilikan rumah dengan skema cicilan terjangkau dan bertingkat untuk generasi muda.
FOTO: Istimewa
