Jakarta-Thebusinessnews. Metode Hazton sebuah metode tanam benih padi yang dikembangkan oleh Distan TPH Kalbar sejak tahun 2013. Pada metode tanam ini, dalam satu lubang tanam direkomendasikan untuk menggunakan 20-30 bibit/anakan padi. Motedi ini terbukti berhasil melipatgandakan hasil panen, metode ini juga membuat pekerjaaan petani menjadi lebih ringan karena tidak perlu banyak melakukan penyiangan dan penyulaman, dan mempersingkat umur panen padi.
Gubernur Kalbar Cornelis berpesan bahwa Petani di Kalimantan Barat kini tak perlu minder lagi. Dengan Metode Hazton dan produktivitas yang tinggi dirinya optimis Kalimantan Barat mampu mencapai ketahanan pangan.” Apalagi lahan potensial yang tersedia masih sangat luas.” Ucap dia dalam siaran pers,Rabu(2/3/2016)
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat Dwi Suslamanto melaporkan bahwa Gapoktan di Kalbar yang mengaplikasikan Metode Hazton telah berhasil melipatgandakan hasil panen mereka. Di Desa Peniraman sendiri dari produktivitas rata-rata sebelumnya hanya 3,38 ton/ha kini meningkat menjadi 10,42 ton/ha atau naik tiga kali lipat. Berkat keberhasilan ini penerapan Metode Hazton terus meluas di kalangan petani di Kalbar. Di Desa Peniraman sendiri dari awalnya lahan percontohan hanya seluas 25 hektar telah berkembang menjadi 200 hektar.
Berkat keunggulannya tersebut, Metode Hazton telah direkomendasikan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kalimantan Barat sebagai salah satu upaya riil dalam menekan tingkat inflasi khususnya yang bersumber dari komoditas bahan pangan. “Awalnya banyak petani yang enggan mengaplikasikan Metode Hazton ini. Namun kini dengan banyaknya contoh sukses, metode ini sudah dikenal secara nasional dan bahkan banyak daerah lain yang ikut mengaplikasikan” ungkap Dwi.
Ketua Gapoktan Nekad Maju, Rokib yang pada kesempatan tersebut mewakili seluruh Gapoktan se-Kalbar mengungkapkan pada awalnya dirinya juga sempat ragu dengan Metode Hazton karena dengan penggunaan 20-30 bibit/anakan padi dalam satu lubang tanam itu berarti modal tanam yang harus ditanggung pun bertambah. Namun kini semuanya terjawab, meskipun modal tanam perhektar naik dari Rp 5 juta menjadi Rp 7 juta, namun pendapatan naik dari Rp 10 juta menjadi Rp 30 juta perhektar. “Kedepannya meskipun tak dibantu modal bibit lagi kami akan swadaya karena sudah tahu hasilnya” papar Rokib.(Red)