Jakarta, TopBusiness – Perusahaan e-commerce milik Grup Djarum, PT Global Digital Niaga Tbk atau yang dikenal dengan merek Blibli memastikan diri untuk melakukan aksi korporasi melalui skema penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). Aski korporasi tersebut dilakukan di saat kinerja keuangan preseroan masih membukukan rugi hingga Rp2,5 triliun per semester I-2022.
Namun begitu, menurut CEO & Co-Founder Blibli, Kusumo Martanto, Blibli mengaku masih optimistis dengan IPO ini. Lantaran adanya potensi bisnis e-commerce yang luar biasa besar di tambah kondisi pasar keuangan Indonesia masih positif dibanding negara-negara lain.
Selain itu, lanjut Kusumo, Blibli juga menyimpan banyak keunggulan yang bisa dirasakan manfaatnya oleh pelanggannya. Dan bersama tiket.com dan Ranch Market, Blibli juga menegaskan posisinya sebagai pemimpin ekosistem omnichannel perdagangan dan gaya hidup yang terintegrasi di Indonesia.
“Aksi korporasi (IPO) Blibli ini merupakan salah satu langkah strategis dalam mengembangkan bisnis yang berkelanjutan di era disrupsi dan menyongsong pertumbuhan ekonomi digital di masa mendatang,” terang dia, dalam acara di Jakarta, Selasa (18/10/2022).
Menurut dia, ekosistem Blibli mensinergikan tiga platform unggulan yaitu commerce (Blibli); online travel agent (OTA) dan gaya hidup (tiket.com); serta high quality supermarket chain terkemuka (Ranch Market) tersebut.
“Dengan demikian, Blibli dapat senantiasa fokus membangun kepercayaan, memberikan kemudahan dan nilai tambah bagi para pelanggan, serta menyediakan layanan yang lebih lengkap, bermanfaat dan terintegrasi dari tiap channel dan platform di dalam ekosistem,” ujarnya.
Lebih jauh Kusumo mengatakan, optimisme dia juga lantaran perekonomian nasional masih stabil dan tidak akan seperti negara-negara lain yang memiliki potensi terdampak dari isu resesi atau perlambatan ekonomi global. Sebab, Indonesia masih menjadi negara yang paling baik dari segi pertumbuhan ekonomi.
“Kita ini beruntung. Karena kita di Indonesia. Dari data yang ada di dunia, Indonesia masih menjadi negara paling baik dari segi pertumbuhan ekonomi,” jelas dia lagi.
Kusumo membeberkan berbagai indikator ekonomi lainnya yang menunjukkan optimisme tersebut. Hal itu terlihat dari indeks keyakinan konsumen yang masih tinggi, serta Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur yang masih terus ekspansif.
“PMI-nya bagus, secara trade juga surplus. Konsumsi dari energi bertambah. Yang paling gampang, kesannya itu joke ternyata jalanan makin macet. Itu artinya aktivitas ekonomi terus berputar,” tegasnya dengan menambahkan perkembangan inflasi yang perlu terus dimonitor.
Namun begitu, di tengah optimisme itu kinerja perseroan berdasarkan prospektus, ternyata Blibli masih mencatatkan rugi mencapai Rp 2,5 triliun pada periode tahun berjalan di Juni 2022. Kerugian Blibli ini juga membengkak jika dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, yakni Rp 1,57 triliun.
Untungnya, dari sisi pendapatan, Blibli telah membukukan Rp 6,7 triliun pada periode Juni 2022 atau meroket 123% dibandingkan periode yang sama dari tahun lalu, Rp 2,9 triliun. Dengan jumlah pendapatan neto pada periode tersebut telah mencapai 76% dari jumlah pendapatan neto tahun 2021.
Adapun dari aksi orporasi ini, Blibli bakal melepas sebanyak 17,77 miliar saham baru atau sebanyak 15%. Dengan harga awal saham IPO saham Blibli itu ditawarkan di rentang Rp 410-460 per lembar untuk.
Artinya apabila disetujui di harga terendah, perusahaan dapat memperoleh dana Rp 7,28 miliar dengan valuasi perusahaan Rp 48,53 triliun. Sedangkan di harga tertinggi, perusahaan mampu menggalang dana Rp 8,17 triliun dengan valuasi perusahaan Rp 54,47 triliun.
Masa penawaran awal atau bookbuilding akan dilaksanakan mulai hari ini 17 Oktober 2022 hingga 24 Oktober 2022. Masa penawaran umum direncanakan pada 1 hingga 3 November 2022. Rencananya, Blibli akan tercatat di Papan Perdagangan Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) menggunakan kodesaham “BELI”.
FOTO: TopBusiness
