Jakarta, TopBusiness – Terpilih sebagai salah satu finalis ajang TOP BUMD Awards 2023, Perumda BPR Kota Blitar (Bank Kota Blitar), Jawa Timur hadir pada wawancara penjurian yang diadakan Majalah TopBusiness secara virtual pada Rabu (15/2/2022) lalu.
Adalah Edy Prasetyo, selaku Direktur BPR Kota Blitar yang hadir memberikan paparan pada sesi penjurian mewakili Direktur Utama, Elya Dwi Admoko yang tengah berhalangan karena ada agenda lain.
Seperti tertuang dalam slide presentasinya, Bank Kota Blitar memiliki visi meningkatkan kualitas sumber daya dan potensi-potensi yang ada di Kota Blitar dalam rangka penguatan ekonomi kreatif yang dilaksanakan secara proaktif, positif, bertanggung jawab serta profesional melalui lembaga perbankan daerah.
Dengan misi yang dicanangkan, yakni bertindak sebagai motor penggerak dengan memperhatikan faktor kepercayaan masyarakat di dalam menggalang seluruh kegiatan ekonomi, sebagai ujung tombak pelaksana ekonomi kreatif di Kota Blitar serta membina masyarakat dalam membangun perekonomian secara terpola dan berkesinambungan sehingga mampu:
• Mengakomodir seluruh aspirasi nasabah dan masyarakat Kota Blitar.
• Menggalang kerja sama antar nasabah, antar kelembagaan dan instansi terkait serta Bank Umum demi kemaslahatan Nasabah.
• Membangun dan menumbuhkembangkan apresiasi dan kredibilitas lembaga, para nasabah dan seluruh masyarakat Kota Blitar.
“Visinya cukup panjang, tapi intinya visi dan misi ini untuk saat ini kami sudah berusaha melakukan modifikasi biar selaras dengan perkembangan digitalism yang mulai bergulir. Jadi, kami merancang visi dan misi yang baru, kami ingin menjangkau layanan yang lebih luas kepada masyarakat dengan melakukan pendekatan digital marketing,” ujar Edy di hadapan Dewan Juri.
Untuk diketahui, secara umum, BPR Kota Blitar, seperti dikatakan Edy, memiliki performa keuangan cukup baik bila dilihat dari beberapa rasio, seperti ROA, BOPO dan NIM.
“Ini kalau kita baca secara percentage mungkin ini cukup baik, angka cukup baik. Artinya ROA 1,09 ini sudah sesuai dengan yang persyaratkan sebesar 1,05. BOPO juga cukup efisien, di angka 86,94%. NIM juga cukup baik 7,29%,” ungkap Edy.
“Artinya, dengan asset kami yang sekarang sebesar Rp27 miliar, dan laba tahun lalu (akhir tahun 2022) sebesar Rp325 juta. Saya rasa nominal itu cukup kecil secara angka, tetapi secara percentage ROA kami memang tidak cukup bagus. Jadi, inilah PR kami ke depan,” sambuang Edy.
“Memang kami cukup longgar dengan ROA yang ada, dengan KPMM kami ini kami cukup longgar. Jadi, ini gambaran warning bagi kami di mana performance secara angka bagus, tetapi dengan kelonggaran ini menunjukkan bahwa performa kami secara keuangan dalam mengelola aktiva kami juga kurang maksimal,” sambungnya.
Lebih lanjut dalam paparannya Edy juga mengungkap soal Cash Ratio perusahaan yang masih longgar, di mana satu sisi menjadi kekuatan, sementara di sisi lainnya juga menjadi kelemahan. Artinya, secara keuangan BPR Kota Blitar memang memiliki modal dasar dan struktur yang kuat, namun secara performa dari sisi pengeluaran mungkin perlu dioptimalkan. Dari sisi LDR (Loan to Deposit Ratio) BPR Kota Blitar disebut bisa mencapai angka 69%.
“Jadi, secara angka sebenarnya kami memiliki dana yang cukup besar, tabungan kami mencapai Rp10,5 miliar, ini sebuah bentuk keberhasilan karena kami bisa menghimpun dana murah yang cukup besar. Kemudian deposito kami mencapai Rp5,5 miliar. Jadi, sisi baik/lebihnya dari BPR kami adalah kemampuan menghimpun dana murah kami yang cukup baik,” ujar Edy.
Dengan nilai tabungan sebesar Rp10,6 miliar dan deposito sebesar 5 miliar, serta simpanan di bank lain mencapai Rp1 miliar, artinya BPR Kota Blitar sudah cukup baik dalam hal menghimpun dana. Kendati demikian, Edy juga tidak menampik bahwa perusahaan masih memiliki PR, di mana perusahaan harus mengikuti pola tren perbankan saat ini yang dalam tiga tahun terakhir mungkin trennya sudah berubah dari perbankan yang sifatnya konvensional menjadi sistem layanan keuangan yang berbasis digital.
Hanya saja, Edy mengakui bahwa perusahaan memiliki keterbatasan, baik dari sisi SDM, TI, dan juga pengalaman. Sehingga selama ini, BPR Kota Blitar masih berputar pada upaya sinergi dengan beberapa lembaga keuangan berbasis digital.
“Jadi, seperti itu, kami belum bisa berdikari secara digital. Masih sebatas sinergi. Harapan kami adalah (adanya) alih teknologi sehingga (kami) bisa berdikari ke depannya. Itu adalah strategi kami ke depannya, tapi karena keterbatasan SDM, infrastruktur, artinya kami bersinergi dulu dengan beberapa lembaga fintech,” ujar Edy.
Selain upayanya dalam mengejar ketertinggalan dengan melakukan sinergi dengan sejumlah perusahaan fintech, BPR Kota Blitar juga akan melakukan penguatan SDM agar lebih siap dan menguasai teknologi digital. Ini juga disebut sebagai langkah transisi perusahaan dari bentuk konvensional menuju perbankan digital.
”Cuma tidak serta merta seperti itu, jadi mungkin kami akan lebih generik, artinya ada target-target market yang tidak dicipta untuk perbankan digital, ada target market yang sudah settle untuk dijangkau perbankan digital,” ungkapnya.
Dalam hal ini, BPR Kota Blitar mengambil acuan pada batasan usia, di mana untuk usia di atas 30 tahun ke atas, perusahaan akan tetap melayani secara konvensional, tetapi perusahaan akan merangkul ibaratnya para New Be yang mereka sudah paham teknologi sebagai target jangka panjang perusahan.
Penulis: Fauzi
