TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Cashflow Positif, Perumdam Waesai Barru Terus Genjot Kinerja

Busthomi
24 February 2023 | 17:51
rubrik: BUMD, Event
Cashflow Positif, Perumdam Waesai Barru Terus Genjot Kinerja

FOTO: TopBusiness

Jakarta, TopBusiness – Tantangan yang dihadapi Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Waesai Barru dari Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan memang cukup berat. Selain menghadapi tantangan alam di mana berada di daerah yang sebagian pantai dengan garis pantai yang panjang dan sebagian pegunungan, membuat pemasangan perpipaan juga membutuhkan biaya tinggi.

Selanjutnya, masalah lainnya adalah biaya operasional yang tinggi juga membuat beban perusahaan cukup tinggi. Sebab, di Perumdam ini, harga produksi lebih tinggi dari harga jual produk dari Perumdam Tirta Waesai Barru. Hal ini membuat kinerja perusahaan merugi dalam beberapa tahun.

Namun begitu, Perumdam terus menggenjot kinerja untuk menjadi lebih baik. Sehingga, sekalipun masih merugi tetap memiliki arus kas atau cashflow yang positif. Apalagi memang pendapatan perusahaan juga terus terkerek naik, sehingga saldo kas juga terus meningkat. Kinerja demikian menjadikan Perumdam Waesai Barru sebagai salah satu kandidat penerima penghargaan TOP BUMD Awards 2023.

“PDAM Kab. Barru, dalam  upaya  terus meningkatkan kinerja keuangan yaitu mengalami peningkatan pendapatan, namun biaya operasional dan pemeliharaan juga mengalami peningkatan. Sehingga PDAM Kab. Barru selalu mengalami kerugian, akibatnya harga produksi (HPP/M3) lebih tinggi dibandingkan harga jual/M3, namun saldo kas setiap tahunnya mengalami peningkatan,” ujar Direktur Utama Perumdam Tirta Waesai Barru, Kabupaten Barru, H. Suheri Made, M.Si.

Pernyataan Dirut Perumadam Tirta Waesai Barru ini terungkap saat mengikuti proses penjurian TOP BUMD Awards 2023 yang digelar pada hari Senin (20/2/2023) lalu, secara daring.

Bahkan dalam lima tahun ini, kata Suheri, pendapatan yang diperoleh PDAM juga mengalami peningkatan terus. Bahkan sebelum dan selama pandemi, pandapatannya terus meningkat. Namun memang karena biaya operasional yang juga meningkat, apa daya kerugian tak bisa dihindari.

“Peningkatan pendapatan setiap tahunnya dengan mengadakan pergantian meter pelanggan yang rusak atau tidak ada meteran, juga reklasifikasi pelanggan, penambahan sambungan baru, pembayaran rekening on line, sistem aplikasi billing untuk akurasi data meter dan bacaan meter sistem foto, serta penurunan tingkat kehilangan air (NRW) dengan pembentukan DMA untuk mengantisipasi kebocoran/kehilangan air,” jelas Suheri.

BACA JUGA:   BPR Subang Gemi Nastiti Cerdas Mengemas Potensi Pasar

Lebih jauh dia memaparkan, sejak 2017 pendapatan Perumdam Tirta Waesai terus meningkat. Mulai dari Rp5,88 miliar (2017), Rp6,65 miliar (2018), Rp7,15 miliar (2019), Rp8,31 miliar (2020), Rp9,15 miliar (2021), dan tahun lalu pendapatan kembali naik menjadi Rp9,87 miliar.

Namun meski pendapatan naik dibanding tahun lalu, sayangnya biaya operasi dan pemeliharaan juga kembali naik di tahun lalu. Dari Rp11,05 miliar (2021) menjadi Rp12,18 miliar (2022). Sehingga kerugiannya juga naik dari Rp1,89 miliar (2021) menjadi Rp1,83 miliar (2022). Biaya operasi yang tinggi ini juga lantaran harga pokok produksi (HPP/M3) lebih tinggi dari rata-rata harga jual/M3, dimana dua-duanya mengalami kenaikan di tahun lalu.

“Untuk HPP/M3 di tahun lalu sebesar Rp6.565 naik dari tahun sebelumnya di Rp6.330. sementara rata-rata harga jualnya masih lebih rendah yakni sebesar Rp5.102 di tahun lalu. Cuma tahun ini juga enggak akan naik. Padahal selama enam tahun tak ada penyesuaian tariff, apalagi saat ini tahun politik,” ujar dia, sembari diiringi dengan tawa.

Untungnya, saldo kas juga masih konsisten meningkat. Bahkan senantiasa meningkat dalam lima tahun terakhir. Di tahun 2022 lalu, saldo kas sebesar Rp1,83 miliar naik dari tahun 2021 lalu yang sebesar Rp1,76 miliar. Adapun untuk saldo kas di tahun-tahun sebelumnya juga meningkat, masing-masing adalah Rp352,49 juta (2017), Rp893,80 juta (2018), Rp1,01 miliar (2019), Rp1,03 miliar (2020), dan Rp1,76 miliar (2021). Cashflow yang bagus ini pun sempat juga dipuji oleh para dewan juri.

Dengan kondisi keuangan yang seperti itu, maka berdasarkan hasil penilaian dari BPKP dalam tiga tahun terakhir yakni 2020, 2021, dan 2022 dari berbagai indicator sudah masuk kategori “SEHAT”.

BACA JUGA:   Kredit Kerisku, Kredit Spesial UMKM dari BPR Bank Kulon Progo

Tantangan dan Inovasi

Sejauh ini, seperti dijelaskan oleh Suheri, Perumdan Tirta Waesai Barru ini memiliki jumlah langganan atau SL sebanyak 11.418 SL dengan tingkat NRW yang di angka 31,96% dan cakupan wilayah sebesar 43% secara teknis dan 33,11% secara administrative.

“Untuk peringkat di provinsi sendiri berada di level ke-7 di Sulsel berdasar hasil dari penilaian Kementerian PUPR. Dengan kualitas air minum yang belum bebas dari bakteri e-colli dan koliform,” dia menjelaskan.

Dengan kondisi tersebut, salah satunya NRW yang masih tinggi tak lepas dari banyaknya tantangan yang dihadapi oleh Perumdam Tirta Waesai Barru ini. Diurai oleh Suheri, beberapa tantangan itu adalah: pertama, perlu perlakuan khusus untuk perbaikan kualitas air baku sebelum masuk ke IPA (khusus air permukaan) pada saat air keruh/banjir (lumpur, pasir, batu, kerikil dan kotoran lain langsung masuk ke IPA) dengan membangun Gret Chamber/Bak Prasedimentasi.

Kedua, kondisi pompa intake yang sudah lewat umur ekonomisnya (tua) dan perlu peremajaan pompa intake di hampir seluruh sumur Intake. Ketiga, kondisi pompa dosing yang rusak di hampir semua IPA, sehingga perlu peremajaan pompa dosing di hampir seluruh sumur IPA tersebut.

Keempat, meteran induk juga hampir seluruhnya rusak di setiap IPA dan perlu pergantian meteran induk. Kelima, meteran pelanggan masih banyak yang rusak dan berusia di atas 5 (lima ) tahun, sehingga dilakukan pergantian meteran pelanggan yang dilaksanakan setiap tahunnya.

Kendati banyak tantangan, Perumdam sudah melakukan banyak program kinerja dan inovasi yang dilaksanakan oleh manajemen dari tahun 2017-2021 dan ini layak menjadi contoh bagi BUMD yang   lain.

Seperti, pertama, reklasifikasi pelanggan sebanyak 2.277 SR; kedua, penambahan Sambungan Baru baik itu yang regular, promo dan penyambungan gratis untuk kalangan MBR sebanyak 4.117 SR. “Untuk diskon ini kami terapkan di akhir tahun, sehingga bisa menambahkan sambungan hingga 4.000 ribu lebih, padahal setiap tahun atau di tiga tahun lalu setahunnya hanya bertambah 300-an SL,” terang dia.

BACA JUGA:   Lestarikan Alam dan Berdayakan Masyarakat Kunci Sukses MPM Tumbuh Berkelanjutan

ketiga, pergantian water meter pelanggan sebanyak 2.593 SR; keempat, pembayaran rekening online yang mulai tahun 2019; kelima, sistem aplikasi billing untuk akurasi data meter dan bacaan meter sejak tahun 2019; keenam, penurunan tingkat kehilangan air (NRW) dengan pembentukan DMA untuk mengantisipasi kebocoran/kehilangan air dari 43,57 % tahun 2017 menjadi 31,96 % tahun 2021.

Ketujuh, mengoptimalisasi kapasitas IPA yang ada dan penambahan kapasitas pengolahan untuk meningkatkan cakupan pelayanan kehususnya pelayanan BNA/kota; kedelapan, mempertahankan Rasio Pelanggan dan karyawan berdasarkan Kepmen Dalam Negeri No. 47 Tahun 1999, yaitu 1.000 Pelanggan banding 7 Pegawai.

Dan kesembilan, penyusunan dokumen pendukung kinerja yaitu Busineess Plan, RKA setiap tahun, Rispam, SOP, Perda Penyertaan Modal Pemerintah Daerah.

Inovasi lainnya juga berupa penerapan IT dalam mendongkrak kinerja ini. Saat ini, Perumdam sudah menerapkan teknologi GIS yaitu untuk pembuatan peta jaringan perpipaan dan pelanggan. Juga ada Epanet, ini untuk pembuatan simulasi aliran air di perpipaan. Lalu, Aplikasi Billing, sistem pembacaan meter dengan foto terintegrasi dengana plikasi billing untuk rekening air. Pembayaran rekening online untuk pembayaran rekening aor melalui aplikasi, bank/ATM, kantir pos dan lainnya. Serta pembentukan DMA untuk mengetahui aliran air dalam pipa dan meminimalisasi NRW.

“Itulah kinerja kami dalam beberapa tahun terakhir. Dan PDAM Kab. Barru ini belum menyumbang PAD ke Pemerintah Daerah karena belum Full Cost Recovery (FCR), masih menderita kerugian setiap tahunnya, serta pelayanan baru mencapai 43,93% (teknis) dan 33,11% (administrasi),” pungkasnya.

Tags: Perumdam Waesai BarruTOP BUMD Awards 2023
Previous Post

INA dan SRF Resmi Jadi Investor Strategis KAEF

Next Post

Ini Kontribusi SIG Turunkan Angka Stunting di Kabupaten Gresik

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR