Jakarta, TopBusiness—Bank NTB Syariah pada saat ini punya beberapa strategi bisnis. Satu di antara itu adalah memerkuat kolaborasi dengan bank lain.
“Bisnis bank, saat ini, punya aktivitas bisnis kompleks dan risiko yang naik. Maka kolaborasi tersebut sangat diperlukan,” kata Direktur Utama Bank NTB Syariah, Kukuh Rahardjo, saat presentasi untuk Dewan Juri Top BUMD Awards 2023, yang digelar Majalah TopBusiness dan sejumlah lembaga seperti Institut Otonomi Daerah, Dwika Consulting, Yayasan Pakem, Lembaga Kajian Nawacita, SGL Management, Sinergi Daya Prima, PPM Manajemen, dan lain-lain (28/2/2023).
Strategi bisnis berikutnya, papar Kukuh, adalah penguatan modal. Hal ini haruslah dilakukan secara berkelanjutan.
Bank NTB Syariah pun menjalankan strategi bisnis berikut ini: menaikkan sinergi dan integrasi dalam perekonomian syariah.
Kemudian, ia pun menjelaskan pencapaian kinerja keuangan Bank NTB Syariah di tahun 2022. Pada tahun tersebut, Bank NTB Syariah tumbuh bagus. Nilai aset ada di Rp13 triliun.
DPK mendapatkan kenaikan sebesar 20,1% kalau dibandingkan year on year dengan tahun 2021.
Untuk nilai pembiayaan di tahun 2022, di angka Rp8,72 triliun yang berarti tumbuh 17,8% secara year on year.
Rasio kecukupan modal berbanding aset (CAR) di 26%. Sedangkan BOPO (biaya operasional berbanding pendapatan operasional) di angka 80%. RoA di angka 1,9%; NPF di 1,05%. Nilai DPK (dana pihak ketiga) di Rp8,14 triliun.
Kemudian, laba Bank NTB Syariah di tahun 2022 senilai Rp181 miliar. “Angka tersebut naik 30,76% kalau kita bandingkan dengan pencapaian tahun 2021,” Kukuh mengatakan.
Saat ini, Bank NTB Syariah punya nasabah sebanyak 961.438. “Peringkat komposit Bank NTB Syariah,” Kukuh menjelaskan, “ada di angka 2 atau ‘sehat’.”
