Jakarta, TopBusiness – RSUD Dr. Soeroto Ngawi akui tak mudah dalam mengimplementasikan teknologi informasi atau TI guna mempercepat dan memudahkan layanan terhadap pasien. Perlu waktu dan kesabaran dalam menyosialisasikan dan mengedukasi tenaga-tenaga kesehatan di lingkungan rumah sakit.
Saat sesi wawancara dan pendalaman materi presentasi berjudul ‘Menuju RSUD Kebanggaan Warga Kabupaten Ngawi’, Direktur RSUD Dr. Soeroto, dr. Agus Priyambodo, MMKes mengakui bahwa penerapan TI di lingkungan rumah sakit tak semudah membalikkan tangan. “Jadi memang pegawai kami dengan latar belakang dan usia yang berbeda. Ada yang muda dengan melek TI, tetapi kami juga memiliki tenaga-tenaga yang ketika jaman sekolah dulu itu ndak mengerti komputer. Jadi kami harus bisa bersabar mengajari mereka, menumbuhkan kepercayaan diri mereka agar bisa menggunakan TI yang telah kita siapkan. Ya memang ini tidak semudah membalikkan tangan,” kata Agus, di hadapan Dewan Juri TOP BUMD Awards 2023, yang berlangsung secara dalam jaringan melalui aplikasi zoom meeting, di Jakarta, Selasa (07/03/2023).
Dijelaskan Agus, kunci keberhasilan guna mengimplementasikan TI di RSUD Dr. Soeroto adalah kesabaran dan bagaimana cara meyakinkan tenaga-tenaga kesehatan yang kurang melek teknologi informasi. “Ya kita harus bersabar, butuh waktu yang panjang. Kami merintis ini mulai 4-5 tahun yang lalu, sedangkan yang E-RM kita mulai 3 tahun yang lalu. Jadi di tahun pertama masih agak sulit. Jadi banyak semacam apa ya penolakan seperti mereka tidak percaya diri, masa bisa kita rekam medis secara elektronik,” beber dia.
Namun setelah memberikan pengertian dan pemahaman dengan sistem teknologi informasi dan komunikasi berbasis internet ini, perlahan namun pasti maka tenaga-tenaga kerja medis ini terbuka pikiran dan keterampilannya.
“Ya ternyata, ketika kita tawari apakah kita kembali pakai rekam medis yang seperti dahulu, semua menyatakan tidak. Enak dengan yang sekarang. Karena apa? Tenaga-tenaga mereka lebih hemat, karena dulu itu menulis butuh waktu lama. Sekarang bisa pakai template-template, copy paste. Juga mengurangi kesalahan,” ungkap Agus.
Lalu, Agus mencontohkan beberapa instalasi yang kini lebih nyaman dengan penggunaan TI. “Seperti laboratorium. Kalau dulu harus mengetik satu persatu. Nah sekarang dari mesin itu sudah bisa mengeluarkan hasilnya, dan tak perlu mengetik lagi. Akhirnya semua ini adalah kemudahan dan mereka saat ini sudah merasakan enaknya dengan teknologi informasi. Ini berbeda dengan 3-4 tahun lalu, mereka masih menyatakan justru dengan TI membebani mereka. Tapi saat ini sudah tidak,” papar dia.
Kemudian di instalasi farmasi, para petugas di sana sangat dimudahkan dan cepat produktivitasnya lantaran keakuratan data yang dihasilkan dari TI tersebut. “Terus yang di obat. Justru ini obat juga seperti itu. Kami dengan TI sangat membantu untuk keakuratan dan menghindari kesalahan obat. Kadang-kadang satu pasien itu berkunjung ke beberapa poli dan dokter, dan muaranya ke farmasi. Nah TI kami sudah bisa menyiapkan semacam alert atau peringatan ketika terjadi multifarmasi. Misalkan di dokter ini memberi obat ini, dokter B juga memberikan obat yang sama. Kalau kita tidak TI, pasti dia akan mendapatkan obat itu ganda. Nah dengan adanya TI langsung diperingatkan, dan ini sudah mendapatkan obat ini dari dokter A sehingga petugas farmasi sudah tidak memberikan obat ini lagi,” kata Agus.
Dalam pandangan Agus, TI akan membantu para tenaga kesehatan di bagian farmasi dalam mempercepat tugas-tugas sekalian mengurangi potensi kesalahan, karena keterbatasan daya ingat. “Nah itu bisa kalau dengan teknologi informasi karena kalau mengandalkan ingatan orang nggak ‘kan bisa. Oleh karena itu, akhirnya teman-teman kami di bagian farmasi pun sangat mendukung dengan yang teknologi informasi ini karena menghindari kesalahan membaca,” pungkas dia.
