
Jakarta, businessnews.id — Sekitar 90 persen rumah kelas menengah ke atas di Indonesia kemungkinan tidak dibangun ready stock. Tetapi, dibangun tatkala sudah ada pemesan. Sebab, pengembang ingin menyesuaikan desain bagian dalam rumah tersebut dengan keinginan konsumen. Budi Santoso, pengamat properti dari Federasi Pembangunan Perkotaan Indonesia, mengatakan hal tersebut di Jakarta (25/2).
Ia mengatakan, konsumen kelas tersebut sering ingin mengubah desain bagian dalam sebuah rumah sehingga berlainan dengan rancangan pengembang. Semisal, desain tiga kamar, diubah menjadi dua kamar berukuran lebih besar. “Mereka sering tidak memermasalahkan keluar biaya tambahan. Yang penting, pengembang menyetujui pengubahan itu. Nah, di sini, pengembang memilih tidak menyediakan rumah ready stock agar bisa di-customized dengan keinginan konsumen.”
Dalam pengubahan itu, ia menambahkan, sudah tentu fasad rumah tidak boleh diubah. Harus mengikuti desain awal yang ditetapkan pengembang.
Selain untuk mengikuti selera konsumen, ada faktor lain yang membuat pengembang itu kini cenderung menyediakan rumah inden—bukan rumah ready stock. Yakni, membangun rumah ready stock lebih membutuhkan nilai investasi yang tinggi. “Padahal, rumah ready stock belum tentu direspons oleh konsumen menengah ke atas yang berselera lain.”
Semua hal itu berlawanan dengan konsumen rumah subsidi. Karena dana yang terbatas, konsumen rumah subsidi mau atau tidak harus mengikuti desain yang sudah disediakan pengembang.
“Tetapi, sekarang ini pengembang rumah subsidi pun cenderung tidak mau membangun rumah ready stock. Karena faktor risiko investasi dan lain-lain,” ucap mantan staf ahli bidang perumahan di Pemerintah Propinsi DKI Jakarta tersebut. (DHI)
EDITOR: DHI