Jakarta, TopBusiness – PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) sadar bahwa penerapan GRC (Governance, Risk, Compliance) dapat memberikan dampak masif terhadap perusahaan, khususnya terkait keberlanjutan bisnis. Oleh sebab itu, PT Pelni berkomitmen menjalankan prinsip-prinsip GRC melalui ragam inovasi terkait implementasinya.
“Tugas-tugas kami mengelola risiko agar tercapai prinsip manajemen risiko yaitu menciptakan dan melindungi nilai serta mengawal dan membangun compliance (kepatuhan) yang lebih baik di PT Pelni sehingga kita menjamin sustainability Perusahaan,” ungkap Tatang RD selaku Vice President of Risk Management and Compliance saat mengawali presentasi penjurian TOP GRC Awards 2023 secara virtual, Jumat (28/7/2023).
Untuk mengimplementasikan GRC lanjut Tatang, Perusahaan membuat komitmen kepatuhan dan etika kepada seluruh insan Pelni. “Setiap pegawai di awal tahun ini menandatangani komitmen melalui digital portal PT Pelni sehingga kami menjamin seluruh pegawai itu menyatakan dan berkomitmen menjalankan kepatuhan serta mematuhi perilaku dan etika di PT Pelni,” terangnya.
Implementasi GRC
Untuk menunjang bisnis dan menjaga transparansi, PT Pelni menerapkan Implementasi GCG Pada Sistem Pengadaan Barang dan Jasa melalui inovasi digital bernama Siparsel, Simple, Accurate, Secure, Limitless. Aplikasi tersebut merupakan Upaya PT Pelni menerapkan digitalisasi di proses bisnis supply chain management demi efektivitas dan efisiensi biaya.
“Kami juga sudah memiliki sistem Siparsel, yaitu Simple, Accurate, Sure and Limitless. Ini merupakan sistem pengadaan barang dan jasa secara elektronik dan terbuka, transparan antara core bisnis kami di kantor pusat, cabang dan kapal sehingga betul-betul-termasuk inventori sehingga dapat dipantau secara digital line,” terang Tatang.
“Inventori di kapal, di gudang darat sehingga kami dapat melihat manfaat termasuk di dalamnya adalah budget lebih terkontrol. Dan tentunya data inventori lebih accurate. Di akhir tahun kami inventori dan itu deviasinya sudah semakin kecil antaranya konsinyering di kapal dan di darat,” lanjutnya.
Kemudian, lanjut Tatang, PT Pelni terus berupaya menerapkan digitalisasi di proses bisnis pengadaan dan perencanaan serta penganggaran untuk transparansi dan pengendalian biaya Perusahaan melalui E-Procurement dan Planning dan E-Budgeting. “Nah ini juga salah satu proses inovasi kami melalui e-procurement juga sehingga betul-betul transparan untuk pengadaan barang dan jasa termasuk kami membangun elektronik budgeting,” imbuhnya.
Dan yang tak kalah menarik adalah penerapan Whistle Blowing System (WBS). Sistem pelaporan yang menangani dugaan masalah pelanggaran dan penyimpangan perusahaan, baik melalui website, email dan atau via whatsapp (pesan). “Nah penerapan WBS (Whistle Blowing System) juga kami telah memiliki saluran whatsapp di nomor 08112804162,” paparnya.
“Dan kami sudah upload di website kami sehingga Masyarakat, customer maupun pengguna jasa kami bahwa ada saluran yang kita buka untuk melakukan pelaporan manakal terjadi dugaan pelanggaran di PT Pelni dilakukan oleh pegawai maupun oknum-oknum di lingkungan perusahaan kami sehingga kami terbuka untuk menerima laporan,” pungkasnya.
Penulis: Abullah Suntani
