Jakarta, TopBusiness – PT PLN Nusa Daya mempunyai program CSR yang selaras dengan bisnis inti perusahaan, sekaligus mewujudkan konsep environmental, social and governance alias ESG.
Ketika sesi pendalaman dan tanya-jawab materi presentasi bertema ‘Program Magang Bersertifikat PT PLN Nusa Daya’, Direktur Keuangan dan Administrasi, Zulhendri, menceritakan bagaimana perusahaan dalam pencarian tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan unit-unit operasi kerja.
Zulhendri menyatakan, dirinya cukup lama di Pulau Sumatra dan Jawa. Jadi, memulai bisnis dari awal. Tadinya, PLN Nusa Daya ini sebagai penyedia tenaga listrik terintegrasi di Pulau Tarakan. Tapi, tahun 2016 akhir, ijin usaha penyedia tenaga listrik itu dikembalikan kepada PLN atas permintaan Pemprov Kalimantan Utara, sehingga pihaknya memulai bisnis yang baru dipenyediaan jasa operation and maintenance (O&M) ketenagalistrikan.
Lantas dirinya menjelaskan bagaimana sukarnya mencari sumber daya manusia. Apalagi, biaya yang dikeluarkan ternyata cukup besar, lantaran harus merekrut di luar wilayah unit operasional. “Ketika kami memulai ini dan wilayahnya itu Kalimantan sampai Papua. Kami memang menghadapi situasi yang berbeda dengan situasi Pulau Sumatra dan Jawa. Ada keterbatasan sumber daya manusia yang ketika melakukan untuk rekrutmen itu jauh sekali peminat yang kami temukan, dibanding ketika itu dilakukan di Jawa dan Sumatra,” kata dia di hadapan Dewan Juri TOP CSR Awards 2024, dalam jaringan internet melalui aplikasi rapat zoom, di Jakarta, hari ini.
Zulhendri tak sendiri, tapi didampingi staf di antaranya P. Gading Aji sebagai Sekretaris Perusahaan, kemudian Dina Shofwati (V.P SDM dan Umum) dan Al Kautsar (Manajer Strategi dan Pengembangan HC).
Zulhendri menjelaskan unit-unit operasi sejatinya harus ditangani dan berasal dari tenaga-tenaga lokal itu sendiri. “Kami temukan pelamar di teknik tidak banyak, ketika buka di Kalimantan, apalagi di Maluku dan Papua. Di Maluku dan Papua itu bahkan biaya rekrutmen sangat besar. Kenapa? Itu justru kami yang harus mendatangi titik-titik dimana kemungkinan akan ada anak SMK, kenapa begitu? Karena unit yang kami layani ini adalah unit yang di pulau-pulau yang pembangkitnya sebagian besar baru beroperasi, nambah kapasitas, gitu yah. Sehingga, kita memang mengupayakan itu tenaga lokal yang ada di pulau itu,” ujarnya.
Dalam konteks untuk mendapatkan SDM yang sesuai dengan kompetensi, maka perusahaan memunculkan program CSR dengan dasar pemetaan profil risiko dan tetap berfokus pada penyiapan sumber daya manusia. “Sehingga, bagaimana kita memilih pendidikan SMK teknik ini sebagai program utama yang ingin kita bantu kualitas, kesiapan kemudian peningkatan kompetensi. Jadi sebetulnya kita sudah memetakan profil risiko PLN ini cukup banyak, tapi kita fokus di bisnis kita karena kita penyedia layanan di perusahaan jasa yang menjadi enabler PLN. Kita dianggap sebagai perusahaan alih dayanya PLN. Jadi fokus kita memang menyiapkan sumber daya manusia,” beber dia.
Tak terkecuali, dia pun mengedepankan isu soal pemanfaatan tenaga kerja lokal, ini isu di tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDG’s yang isunya sebagian besar ESG. “Ini tentunya pendekatan sudah kita lakukan seperti itu, tapi karena kita fokus diperan sebagai perusahaan yang menyediakan layanan OM kelistrikan yang padat karya, maka fokus bagaimana mampu menjawab dan memitigasi risiko yang ada di profil risiko itu. Dan area-area OM improvement yang masih bisa digarap. Sehingga, itu yang membuat kita maju dengan program magang bersertifikat. yang lebih fokus pada pendidikan,” pungkasnya.
