Jakarta, TopBusiness – Seiring dengan berjalannya program revitalisasi Perumda Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) melalui kerja sama operasi dengan Taman Safari Grup dan kian kondusifnya sektor wisata, kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Solo, juga terus meningkat. Kian ramainya jumlah pengunjung di Solo Zoo ini, selain berdampak langsung pada peningkatan pendapatan juga memberikan multiplier effect ekonomi yang luas di Kota Solo.
Tak dapat dipungkiri, Pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu memberikan dampak buruk ke sektor pariwisata. Tak terkecuali bagi pengelolaan Kebun Binatang yang juga menjadi salah satu paling terdampak. Adanya pembatasan sosial serta pelarangan wisata bagi masyarakat, memberi dampak buruk ke berbagai destinasi kebun binatang, termasuk Solo Zoo yang dikelola Perumda TSTJ. Pemasukan dari tiket turun drastis, semenetara biaya operasional terus berjalan, termasuk untuk perawatan dan pemeliharaan aneka satwa yang ada di dalamnya.
Namun, berkat kesigapan dan kerja keras tim manajemen Perumda TSTJ, badai itu bisa dilalui dengan sigap, sehingga bisa tetap eksis bertahan dan selamat dari keterpurukan yang lebih dalam. Bahkan kebun binatang ini bisa bangkit dan pulih lebih cepat pasca Pandemi Covid-19. Terlebih adanya terobosan melalui revitalisasi obyek kebun binatang ini menjadi Solo Safari.
“Harus kita akui pandemi covid-19 menjadi pukulan berat bagi dunia pariwisata yang juga berdampak besar terhadap pengelolaan beberapa obyek wisata kebun binatang. Dari data asosiasi Perhimpunan Kebun Binatang Se- Indonesia (PKBSI), banyak pengelola kebun bianatang di Indonesia yang mengalami keterpurukan. Namun Alhamdulillah, berkat kerja keras dan kesigapan seluruh tim kami dan sejalan dengan program revitalisasi, Taman Satwa Taru Jurug Solo bisa terus ksis dan cepat bangkit dari pandemi. Dalam beberapa tahun terakhir ini, jumlah pengunjung terus meningkat yang juga berdampak pada peningkatan kinerja usaha,” ungkap Direktur Utama Perumda Taman Satwa Taru Jurug, Achmad Syukri Prihanto, dalam wawancara penjurian “Top BUMD Awards 2025” secara virtual melalui aplikasi zoon meeting pada (13/01/2025), yang dihelat Majalah TopBusiness Jakarta.
Dalam presentasinya, drh S Nuraini selaku Manager Konservasi dan Operasional Perumda TSTJ menyampaikan banyak hal terkait lompatan dan capaian positif pasca program revitalisasi TSTJ. “Sebelum adanya Kerjasama Operasi dengan Taman Safari Grup melalui revitalisasi, Kondisi TSTJ tampak kumuh, kondisi satwa juga masih butuh perhatian khusus. Kondisi satwa terisolisir, kondisi kandang satwa yang belum memadai (terbatas & jeruji besi). Beberapa fasilitas umum kurang terawat dan banyak PKL memenuhi area terlihat kumuh. Namun setelah direvitaliasi, kondisi TSTJ kini terlihat lebih menarik dan modern dan tertata lebih estetik. Sehingga lebih memiliki daya tarik untuk para pengunjung. Target kunjungan meningkat mencapai 600.000 pengunjung setiap tahun dari sebelumnya 500.000 pengunjung per tahun . Pasca pandemi yang dibuka Januari 2023, hanya dalam empat bulan omzet Solo Safari tembus Rp14 miliar. Dan bisa memberi setoran PAD meningkat hingga 100%,” ungkap Nuaraini kepada Tim Juri TOP BUMD Awards 2025.
Baru dibuka pada akhir bulan Januari 2023, objek wisata Solo Safari di Solo, Jawa Tengah tahun lalu menyumbang pendapatan pajak daerah hingga lebih dari Rp2 miliar. Dari setoran pajak sebelumnya yakni di kisaran Rp300 juta-Rp500 juta. Dan yang menrik juga bahwa program renovasi dan revitalisasi ini tidak memakai dana APBD, namun mendapat hibang sehingga tidak menggangu APBD Pemkot Solo.
“Dengan adanya modernisasi pengelolaan mellaui kerja sama dengan Solo Safari selain memberikan kebanggaan bagi warga Solo, juga memberikan dampak positif untuk pendapatan dan ekonomi daerah. Keberadaan kerja sama dengan Taman Safari Grup pasti juga memberikan multiplier effect ekonomi masyakat di Kota Solo. Efek domino dengan adanya wisata juga mendorong usaha terkait, seperti berkaitan hotel, tour & travel, pertunjukan hiburan, kuliner dan sebagainya,” katanya lagi.
Adapun pajak yang disetorkan ke daerah tersebut, berasal dari pajak hiburan, pajak restoran dan pemasukan lainnya. Menurutnya, selain dengan Solo Safari, sedikitnya ada tiga KSO lain yang berkaitan dengan aset TSTJ. Seperti Panggung Hiburan, Wahana Kolam Keceh, dan Wahana Bumper Car. “TSTJ tidak hanya mengelola kebun binatang tapi juga mengelola banyak aset atau lahan yang juga terus kita optimalkan,” ujarnya.
Selaras dengan tema “TOP BUMD Awards 2025, yaitu “Tata Kelola dan Digitalisasi Dalam Membangun Kinerja Bisnis dan Layanan BUMD”, Nuraini dalam sesi Presentasi dan Pendalaman juga memaparkan berbagai upaya novasi terkait peningkatan tata kelola untuk GCG, kinerja layanan, dan inovasi dengan digitalisasi. “Untuk program digitaliasi, kita mulai tata data base dan penerapan barcode untuk berbagai kepentingan,” ujarnya.
Kegiatan TOP BUMD Awards merupakan ajang corporate rating atau penilaian untuk penghargaan bagi BUMD yang dinilai berhasil atau berprestasi, baik terkait kinerja bisnis maupun layanan bagi masyarakat atau pelanggan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Majalah TopBusiness, bekerjasama dengan Institut Otonomi Daerah (i-OTDA) serta beberapa lembaga Tim Penilai. Di antaranya Lembaga Kajian Nusantara (LKN) Asta Cita, PPM Manajemen, PT Sinergi Daya Prima, Dwika Consulting, Melani K Harriman & Associate, Solusi Kinerja Bisnis (SKB) serta beberapa Staf Pengajar dari Universitas Indonesia dan Universitas Padjajaran Bandung, serta beberapa Lembaga lainnya.
Editor: Agus H
