Jakarta, TopBusiness – PT BPR Bank Daerah Sukoharjo (Perseroda) atau Bank Sukoharjo menjadi salah satu finalis dan kandidat penerima penghargaan TOP BUMD Awards 2025. Untuk itu, BPR milik Pemerintah Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah ini baru saja mengikuti penjurian TOP BUMD Awards 2025 yang digelar Majalah TopBusiness secara daring, Selasa (11/2/2025).
Dalam presentasi yang disampaikan langsung oleh Direktur Utama BPR Sukoharjo, Maryanto, S.H, M.Si itu, terungkap banyak kiprah apik Bank Sukoharjo selama tahun 2024 itu. Salah satunya, BPR Sukoharjo sangat massif dalam menyalurkan kredit, dari mulai kredit sindikasi hingga kredit mikro dengan plafon belasan juta rupiah.
Dan kendati banyak memberikan pembiayaan, tapi kinerjanya tetap sehat. Selain mampu menjaga rasio kredit macet atau non-performing loan (NPL) yang rendah, Perusahaan juga konsisten membukukan laba.
“Makanya, salah satu misi kami adalah, ‘Fokus Membantu Peningkatan Ekonomi Masyarakat melalui Kemudahan Akses Permodalan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di Seluruh Kabupaten Sukoharjo,’ sehingga kami dalam hal ini banyak menyalurkan kredit, termasuk untuk kredit-kredit plafon kecil atau maksimal sebesar Rp15 juta, plus dibantu dengan subsidi bunga,” jelas Maryanto.
Dalam penjurian kali ini, Maryanto didampingi timnya yaitu, Direktur Kepatuhan Ika Rustika, SH, SKAI Agus Setyanto, PE Kepatuhan Lisa Hermawati, PE Analisa & Penyelesaian Kredit Hendro Budi Susilo, dan PE Umum Margono Saswi.
“Jadi, berdasarkan Peraturan Bupati Sukoharjo No 28 Tahun 2022 tentang Pedoman Pelaksanaan program Subsidi Bunga kepada Usaha Mikro dan Kecil di Kabupaten Sukoharjo, Bank Sukoharjo merupakan salah satu bank yang ditunjuk untuk memberikan subsidi bunga untuk plafond kredit maksimal Rp15 juta,” jelasnya.
Selain itu, untuk menggenjot kredit lainnya, Bank Sukoharjo juga sejauh ini sudah banyak menyalurkan kredit ke kepala desa dan perangkat desa se-Sukoharjo.
“Karena kami mengelola gaji kepala desa dan perangkat desa, maka Bank Sukoharjo sampai dengan 31 Desember 2024 telah menyalurkan kredit kepada kepala desa dan perangkat desa tersebut sebanyak 840 debitur dengan plafon mencapai Rp98,25 miliar,” tandasnya.
Meski begitu, kinerja Bank Sukoharjo masih tergolong sehat. Kesehatan bank tersebut memang terlihat dari rasio keuangannya. Ya, tingginya kredit itu juga terlihat dari Loan to Deposit Ratio (LDR) yang tinggi di angka 119,59% per akhir 2024 lalu, tapi tetap sehat.
Hal ini karena untuk biaya atau BOPO (Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional) juga masih terkendali di 75,67%. Sementara NPL juga rendah di angka 2,80%. Dengan permodalan yang kuat di posisi 46,65% dan cash ratio masih kuat di 14,98%. Sehingga masih menguntungkan dengan Return on Asset (RoA) di angka 2,54%.
Dan ini terlihat juga performa keuangan selama 2024 tersebut. Dengan posisi kredit yang disalurkan selama 2024 lalu sebanyak Rp112,14 miliar. Dengan posisi asset sudah mencapai Rp153,16 miliar. Sementara untuk tabungan sebesar Rp62,04 miliar dan deposito di angka Rp31.72 miliar. Dengan pendapatan yang tinggi di angka Rp15,87 miliar dan biaya lebih rendah di posisi Rp12,12 miliar.
“Sehingga per akhir 2024 itu kami masih menorehkan laba (sebelum pajak) sebesar Rp3,27 miliar. Ini masih meningkat dibanding tahun 2023 lalu yang sebesar Rp3,17 miliar. Makanya dengan kinerja tersebut, kami juga menyebutkan di misi keempat kami adalah, ‘Sebagai salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sukoharjo’,” terang Maryanto.
Ya, salah satu kinerja yang membanggakan dari Bank Sukoharjo adalah setoran PAD yang konsisten dalam setiap tahunnya.
Berturut-turut dalam empat tahun ini, kata dia, setoran PAD Bank Sukoharjo ke kas daerah pada tahun 2021 sebesar Rp1,87 miliar. Lalu di tahun 2022 mencapai Rp2,02 miliar, di tahun 2023 senilai Rp1,80 miliar, dan di tahun 2024 lalu yang merupakan raihan laba dari tahun 2023 itu PAD-nya sebesar Rp1,38 miliar.
Strategi Kredit dan Inovasi
Maryanto merinci, agar kualitas kredit tetap sehat, pihaknya memiliki strategi dalam penyaluran kredit. Pertama, kata dia, bekerja sama dengan bagian perekonomian dan SDA sebagai narasumber sekaligus mensosialisasikan produk bank dalam pertemuan dengan UMKM binaan bagian perekonomian.
Kedua, bekerja sama dengan Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan sebagai narasumber sekaligus mensosialisasikan produk bank dalam pertemuan dengan pedagang dan UMKM binaan Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Sukoharjo.
Ketiga, mengundang para penyedia jasa yang ada di Kabupaten Sukoharjo untuk sosialisasi pembiayaan kredit multiguna proyek Pemerintah Daerah. Keempat, melakukan kerja sama dengan Dinas Pertanian (PPA) untuk memberikan bantuan permodalan kepada para petani yang berada di Kabupaten Sukoharjo.
Kelima, melakukan canvasing pada hari libur dengan sasaran para pedagang di pasar, daerah-daerah industri seperti sentra industri rotan, batik, shuttlecock, gitar, genting, dan UMKM lainnya.
Keenam, penawaran pemberian subsidi bunga untuk plafond pinjaman di bawah 15 juta. Ketujuh, modifikasi produk kredit guna lebih bersaing dengan BPR lain. Kedelapan, promosi melalui WA, SMS, Customer get Customer dan Debitur sudah lunas, Take Over, Debitur Existing di top up.
Kesembilan, seluruh karyawan diwajibkan menawarkan produk bank di lingkungan domisili dan komunitas yang diikuti. Kesepuluh, Pick up service untuk proses permohonan kredit. Kesebelas, melakukan promosi kepada debitur yang sudah lunas dengan riwayat kredit lancar. Keduabelas, melakukan penawaran top up untuk kredit lancar dengan analisa kemampuan bayar dan cover agunan.
“Dan ketigabelas, melakukan penyaluran kredit sindikasi berkerja sama dengan bank yang sehat,” kata dia.
Untuk menggenjot kredit atau kinerja secara umum, BPR Sukoharjo juga memiliki beberapa inovasi. Seperti, pemanfaatan media sosial melalui Whatsapp, Instagram, TikTok, Website, dan Facebook serta tetap melayani pickup service; pemanfaatan digitalisasi seperti Virtual Account (VA), QRIS, PPOB dan rencana aplikasi Mobile Banking untuk mempermudah nasabah melakukan transaksi, pengecekan saldo, transfer antar rekening di Bank Sukoharjo, serta mempermudah dalam pembayaran angsuran kredit.
Lalu, adanya mobil Kas Keliling untuk menjangkau daerah yang jauh dari kantor kas guna mendekatkan pelayanan kepada nasabah.
Dalam hal digitalisasi itu, beberapa inovasi yang sudah dilakukan, antara lain, mengembangkan dan mengoptimalkan VA untuk pembayaran dan transfer melalui bank umum dengan sistem host to host berkerja sama dengan bank Mandiri, BNI, BRI, Bank Jateng.
Lalu, melakukan layanan jemput bola (tabungan) menggunakan E-Collector yang transaksinya sudah realtime; digitalisasi arsip internal dengan “SIADIT” untuk mempermudah pencarian berkas; melakukan Tracking User guna memantau posisi petugas marketing di lapangan. Kemudian, adanya MBS otorisasi yang digunakan untuk memberikan persetujuan terhadap transaksi yang melebihi limit; juga MBS publikasi untuk pemantauan laporan-laporan keuangan seperti neraca, laba rugi dan rasio-rasio; serta teknologi Informasi yang dimiliki telah siap dikembangkan untuk transaksi secara elektronik.
