Jakarta, TopBusiness – PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung atau biasa disebut JIEP memulai inisiatif strategi program tanggung jawab sosial dan lingkungan (corporate social responsilibity alias CSR) dengan melakukan identifikasi risiko.
Menurut Medik Endra Wahyudi selaku Corporate Secretary & TJSL, pihaknya mengakui ada potensi risiko, sehingga perlu dilakukan identifikasi dalam menetapkan program tanggung jawab sosial dan lingkungan agar tepat sasaran. “Ada risiko secara sosial dan lingkungan yang harus kami identifikasi,” ujar Medik saat pemaparan materi presentasi berjudul ‘Tanggung Jawab Sosial & Lingkungan dari PT JIEP untuk Masyarakat Sekitar Kawasan Industri Pulogadung’, secara online melalui aplikasi zoom meeting, di Jakarta, hari ini.
Lalu, Medik memberikan contoh beberapa risiko yang mungkin dihadapi perusahaan terkait dengan cuaca ekstrem, salah satunya, sekaligus sebagai inisiatif program CSR. “Identifikasi dengan risiko yang mungkin bisa kami sampaikan terkait gangguan bisnis karena adanya tekanan perubahan iklim, bencana alam karena kita lihat bahwa saat ini perubahan iklim sangat drastis terjadi, sering kali juga akan bisa mengganggu aktivitas dari tenant serta investor yang ada di Kawasan Industri Pulogadung,” ungkap dia.
Setelah dilakukan identifikasi risiko, JIEP menyelaraskan dengan program-program CSR. “Dari identifikasi risiko yang ada, kami juga coba mengantisipasi dengan program TJSL yang dicanangkan di tahun ini, dimana salah satunya adalah program penanaman pohon untuk tetap membuat Kawasan Industri Pulogadung menjadi asri dan hijau, sehingga mengurangi dampak polusi,” beber Medik.
Langkah selanjutnya adalah perusahaan melakukan kolaborasi dengan pemangku kepentingan, satu diantaranya adalah masyarakat untuk bersama-sama melaksanakan program CSR di ring 1.
“Kemudian, kami juga melihat posisi ring Kawasan Industri Pulogadung, masyarakat perlu support saluran pembuangan air kawasan, serta di lingkungan masyarakat,” ucap dia.
Kemudian, lanjut Medik, ada waste management, dimana sarana-prasarana pengelolaan sampah kepada masyarakat perlu didukung. “Dan kami di tahun 2025, ini akan semakin intens untuk membantu masyarakat dalam mengurangi beban tumpukan sampah yang ada di Bantargebang,” tuturnya.
Lebih jauh, Medik menguraikan soal tekanan sosial-lingkungan terhadap JIEP. Karenanya, perusahaan berkolaborasi dengan pemangku kepentingan. Mereka memberikan masukan, arahan dan informasi atas isu-isu yang sedang dihadapi.
“Kemudian potensi risiko berikutnya adalah kaitannya dengan tekanan sosial-lingkungan kawasan Industri. Kita juga berkolaborasi dengan kelurahan, kecamatan, yang ada di sekitar Kawasan Industri Pulogadung, dimana para aparat masyarakat tersebut memberikan informasi sehingga kami bisa memberikan program yang tepat sasaran. Misalnya, dengan program gizi baik,” imbuh dia.
Selain itu, program CSR JIEP menyasar pada bidang pendidikan. “Kemudian, goes to school dimana para karyawati di JIEP akan mengajar di sekolah-sekolah sekitaran Pulogadung. Kemudian, kami juga akan memberikan beasiswa untuk siswa berprestasi dari masyarakat sekitar,” kata Medik.
Selanjutnya, program CSR JIEP di bidang ekonomi pun dilaksanakan. “Kami berkolaborasi dengan karang taruna di kecamatan, kelurahan di Kawasan Industri Pulogadung untuk mendorong kemandirian dan perputaran roda ekonomi di lingkup masyarakat,” tutur Medik.
