Jakarta, TopBusiness—PLN Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur (UIW NTT) punya beberapa program CSR atau pun TJSL (tanggung jawab sosial dan lingkungan) unggulan. Satu di antara itu adalah pemanfaatan FABA (fly ash and bottom ash/limbah sisa pembakaran batu bara) dari limbah PLTU (pembangkit listrik tenaga uap).
“Kami memanfaatkan limbah FABA itu untuk ekonomi masyarakat,” kata Manajer Komunikasi dan TJSL PLN UIW NTT, Margaretha Yupukono, hari ini, dalam presentasi untuk Dewan Juri Top CSR Awards 2025.
Margaretha lalu menjelaskan bahwa, program tersebut, memfasilitasi masyarakat untuk mengolah FABA menjadi bahan bangunan, material jalan, pupuk, dan lain-lain.
“Dengan program tersebut, PLN UIW NTT sekaligus mengurangi dampak lingkungan dan mengendalikan biaya operasional,” dia menjelaskan.
PLN UIW NTT, dalam program tersebut, memberikan alat-alat pengolahan FABA menjadi batako. Masyarakat pun bisa mendapatkan limbah FABA secara cuma-cuma. “Kemudian, kami pun memberikan pelatihan pengolahan limbah FABA.”
Kini, hasil pengolahan limbah FABA tersebut sudah digunakan untuk materi jalan desa, bahan bangunan di gereja, dan lain-lain. Pun, ada sebuah desa wisata yang dibangun berbasis material dari limbah FABA itu.
Kemudian, Margaretha merinci kuantitas dampak positif program pengolahan limbah FABA tersebut. Pertama, dari program itu, usaha mikro masyarakat mendapatkan omset di Rp730 juta per tahun.
Kedua, sebanyak 750 ton limbah FABA telah diolah oleh masyarakat. Ketiga, sebanyak 414 tenaga kerja telah diserap oleh program tersebut.
“Kemudian, program pengolahan FABA tersebut melibatkan sebanyak 70-an usaha kecil,” Margaretha menjelaskan lagi.
PLN UIW NTT telah menggunakan pihak independen untuk menilai program CSR yang mereka jalankan. Hasilnya, dalam penilaian terakhir, nilai IKM (Indeks Kepuasan Masyarakat) untuk ‘kinerja’ ada di 94.64. Selanjutnya, nilai IKM untuk ‘kepentingan’ ada di 95,64.
Adapun rasio SRI (social return on investment) program tersebut di 1,27.
