Jakarta, TopBusiness – PT Adimitra Baratama Nusantara (ABN) menegaskan komitmennya dalam menjalankan program Corporate Social Responsibility (CSR) yang berkelanjutan melalui ragam inovasi dan berbagai inisiatif sosial yang dijalankan.
Head Department External Relations ABN, Bambang Takaryanto mengungkapkan bahwa industri pertambangan, masih sering dikaitkan dengan kerusakan lingkungan. Karena itu, perusahaan merasa memiliki kewajiban untuk mengelola dampak operasionalnya melalui kegiatan yang positif dan berkelanjutan.
“Kalau kita bicara sektor pertambangan, khususnya pertambangan batubara, tentu ini identik atau yang ada dalam benak masyarakat tertentu itu adalah tentang kerusakan lingkungan. Sehingga hal ini, kami harus berupaya dan memang menjadi kewajiban kami bagaimana kami mengelola terhadap dampak atas kegiatan tersebut dengan kegiatan-kegiatan yang positif dan tentunya yang berkelanjutan.” ungkapnya mengawali presentasi wawancara penjurian TOP CSR Awards 2025 secara daring, Rabu (7/5/2025).
Hadir dalam kesempatan ini, Sudarmono Saragih selaku Direktur PT Adimitra Baratama Nusantara sekaligus Direktur Operasional TBS Energi Utama; Djoko Budi Susilo, General Manager Operation (Kepala Teknik Tambang); Abdul Rahim, Wakil Kepala Teknik Tambang (HSE Manager); serta Sugeng Rahayu dari Tim Departemen External Relations yang menangani Program Pengembangan Masyarakat (PPM) dan CSR.
Oleh karena itu, lannjut Bambang, program-program inisiatif CSR ABN didesain agar sejalan dengan delapan misi nasional (Asta Cita) yang dicanangkan Presiden Republik Indonesia dan Kabinet Merah Putih.
“Lima dari delapan cita ini adalah selaras dengan program kami, Bapak-Ibu. Jadi, cita yang kedua itu adalah swasembada pangan, kami juga ada di sana. Kemudian, cita yang ketiga itu membuka lapangan kerja, itu jelas,” bebernya.
“Kami saat ini hanya berproduksi lebih kecil dari tahun-tahun sebelumnya, itu pun sudah kurang lebih hampir seribu orang tenaga kerja yang terlibat di dalam kegiatan operasional kami, yang ini tentunya membuka lapangan kerja untuk banyak warga Masyarakat,” lanjutnya.
Ia menambahkan, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dari program, baik melalui sektor pendidikan maupun kesehatan. Selain itu, pembangunan berbasis desa dan pelestarian lingkungan juga menjadi fokus utama.
“Dan cita yang keempat berkaitan dengan peningkatan kualitas SDM, program kami bisa melalui pendidikan dan juga kesehatan. Dan cita yang keenam, pembangunan dari bawah, yaitu dari desa, ini adalah untuk pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan, kami ada juga. Dan cita yang kedelapan adalah penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan.” Tegasnya.
Tiga Pilar Program Unggulan
Sugeng Rahayu, selaku Tim Departemen External Relation, dalam presentasinya yang berjudul “Asta Cita & Program Prioritas melalui Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat”, memaparkan secara komprehensif berbagai program inisiatif CSR yang telah dijalankan.
Menurutnya, PT ABN mengidentifikasi empat kategori dampak, yaitu: ekonomi, sosial, lingkungan, dan budaya. Setiap kategori dampak dijawab melalui program-program konkret yang telah menunjukkan capaian signifikan. Salah satunya yakni program Bedah Rumah dan UMKM.
Sejak 2017, program Bedah Rumah telah membantu 220 KK, menyasar warga di 4 RT, 2 kelurahan, dan 3 kelompok tani. Program ini telah diadopsi Pemkab Kukar sebagai Rumah Besar Penanggulangan Kemiskinan.
“Ini gambaran yang kita kerjakan. Bedah rumah ini sudah berjalan sejak 2017 sampai saat ini yang berjalan. Di sini terlihat manfaat program yaitu sampai saat ini itu adalah 220 KK, 4 RT, 2 kelurahan, dan 3 kelompok tani,” papar Sugeng.
“Bahkan di sini terlihat Ibu, itu Pak Bupati waktu program pertama kali yang kami launching, kami minta beliau untuk meresmikan dan akhirnya ini jadi hal yang menarik dan diadopsi oleh Pemkab Kukar menjadi salah satu program unggulan di kabupaten dengan nama Rumah Besar Penanggulangan Kemiskinan,” tambahnya.
Untuk pemberdayaan ekonomi keluarga, PT ABN menjalankan program UMKM sejak 2019, yang mayoritas diikuti ibu rumah tangga dan telah menghasilkan produk unggulan seperti “Kulah Gen”.
“Program unggulan yang kedua ini adalah kemitraan UMKM. Di sini dominan, anggotanya adalah ibu-ibu rumah tangga. Dan memang kami dalam UMKM ini memang berusaha untuk ada tambahan income (pendapatan) di keluarga,” tegasnya.
“Program UMKM ini telah berjalan sejak 2019. Secara kuantitatif, terlihat peningkatan omset, jumlah usaha, dan jumlah tenaga kerja. Evaluasi kami menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat tinggi, dan bahkan beberapa produk UMKM sudah tersedia secara online, salah satunya bernama Kulah Gen,” lanjutnya.
Program unggulan lainnya dalam bidang pendidikan adalah Bimbel Genza. Program ini terbukti mampu meningkatkan akses dan kualitas pendidikan di wilayah operasional perusahaan. Dampaknya terlihat nyata, baik dari segi jumlah siswa yang melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, maupun dari peningkatan mutu sekolah dan kepuasan masyarakat.
“Jumlah siswa SMA di tempat kami yang masuk perguruan tinggi itu semakin meningkat dari 2020 sampai terkini 2025,” ungkap narasumber dalam presentasi.
Peningkatan kualitas sekolah juga tercermin dari naiknya indeks mutu, yang sebelumnya berada di angka 80 dan kini mencapai 85. “Indeks sekolahnya juga meningkat, saat ini sudah 80. Bahkan terkini itu kayaknya sudah sekitar 85,” lanjutnya.
Selain itu, program ini juga berhasil memperoleh respons positif dari masyarakat. Hal ini tercermin dalam nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terhadap program yang mencapai skor 4,31.
Dan yang tak kalah menarik adalah program di sektor ketahanan pangan, PT ABN menunjukkan komitmennya melalui program konversi lahan non-produktif menjadi lahan pertanian produktif. Seluas 35 hektare lahan yang sebelumnya tidak termanfaatkan kini telah disulap menjadi area persawahan yang dikelola oleh 60 petani lokal.
“Lahan yang sebelumnya tidak termanfaatkan, saat ini sudah sekitar 35 hektare dengan jumlah petani 60,” terang Sugeng.
Program ini tidak hanya membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga berdampak signifikan terhadap produktivitas. Produksi padi yang semula hanya 2 ton per hektare kini meningkat menjadi 4,5 ton per hektare. “Ada peningkatan produksi dari 2, saat ini ada 4,5ton untuk padi itu,” imbuhnya.
Strategi dan Tata Kelola CSR
Pelaksanaan program CSR di PT ABN didahului dengan perencanaan matang berbasis pemetaan sosial di enam kelurahan terdampak. Hal ini menjadi dasar agar intervensi perusahaan benar-benar menyasar kebutuhan masyarakat yang berkaitan langsung dengan dampak operasional perusahaan.
“Jadi social mapping kita lakukan di area kita yang tadi saya sampaikan, di enam kelurahan, sehingga nanti kita bisa tahu kebutuhan masyarakat apa. Kemudian untuk mengatasinya, nanti kita sinkronkan dengan dampak yang kita munculkan,” beber Sugeng.
Setelah pemetaan, perusahaan menyusun Rencana Induk Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (RIPPM) dan mengonsultasikannya dalam forum diskusi di tingkat kelurahan, kecamatan, hingga kabupaten. RIPPM yang telah disahkan oleh Direktorat Jenderal Minerba menjadi acuan pelaksanaan program.
“Selanjutnya kita akan susun Rencana Induk Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat, yang ini nantinya kita konsultasikan berupa FGD di tingkat kelurahan, kecamatan, dan terakhir nanti di tingkat kabupaten. Selanjutnya kita akan minta pengesahan dengan Minerba,” jelasnya.
Tahapan implementasi mencakup penyusunan proposal, sosialisasi, pelaksanaan di lapangan, hingga monitoring berkala. PT ABN juga menyiapkan sistem monitoring administrasi internal dan sistem pelaporan yang transparan, baik secara offline ke pemerintah daerah maupun online ke pemerintah pusat melalui aplikasi ERKB Minerba.
“Pelaksanaan kita mulai dengan membuat proposal, kemudian mensosialisasikan dengan masyarakat, kemudian menjalankan. Selanjutnya kita adalah monitoring, jadi ini berjalan, tidak hanya selesai sesaat saja,” katanya.
“Offline kita laporkan dari kecamatan, kabupaten. Kemudian untuk yang pusat, ini sistem online dengan program ERKB,” lanjutnya.
Evaluasi dilakukan setiap enam bulan dengan melibatkan stakeholder, termasuk survei kepuasan masyarakat terhadap efektivitas program yang dijalankan.
“Evaluasi yang kita lakukan atas program CSR maupun PPM kita, kita lakukan setiap 6 bulan sekali. Ini survei. Ada semua stakeholder kita, sekaligus kita lihat juga studi indeks kepuasan masyarakat di setiap program,” pungkasnya.
Tambahan, dari catatan redaksi, hasil evaluasi terbaru mencatat Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terhadap program ini mencapai angka sebesar 4,31, dengan kategori sangat baik.
