Jakarta, TopBusiness – Dalam upaya memperkuat kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan, PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna) menegaskan komitmennya melalui program pemberdayaan warung tradisional bertajuk Sampoerna Retail Community (SRC), sebagai ujung tombak inisiatif sosialnya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat.
SRC merupakan bagian dari program Sampoerna untuk UMKM, yang hingga saat ini telah menjangkau lebih dari 67.000 pelaku UMKM di seluruh Indonesia. Inisiatif ini telah menjelma menjadi salah satu gerakan pemberdayaan UMKM terbesar di Indonesia, khususnya sektor ritel mikro.
“Kami punya program Sampoerna Retail Community atau SRC, yang merupakan program pemberdayaan UMKM ritel yang kita lakukan sejak tahun 2008. Sampai saat ini kami sudah memiliki lebih dari 250 ribu toko kelontong yang tergabung dalam SRC di seluruh Indonesia,” ungkap Janitra Almer, Anggota Departemen Regional Engagement dan Sustainability PT HM Sampoerna saat mengikuti wawancara penjurian TOP CSR Awards 2025 secara daring, Jumat (31/5/2026).
Masih menurut Janitra, melalui program SRC tersebut, warung-warung kelontong tradisional tidak hanya mendapatkan pelatihan usaha, tetapi juga akses teknologi dan jaringan komunitas agar mampu bersaing di era modern. “SRC membantu toko kelontong untuk meningkatkan daya saing melalui pelatihan, digitalisasi, dan kolaborasi,” kata Janitra.
Salah satu inovasi utama dalam program ini adalah pengembangan aplikasi AYO SRC dan kerja sama dengan toko grosir anggota AYO TM, yang membantu mempercepat transformasi digital dan efisiensi rantai pasok UMKM.
“Di dalam SRC juga ada aplikasi AYO SRC yang digunakan oleh para toko kelontong untuk bisa berinteraksi, promosi, dan menjangkau pelanggan secara digital. Ada juga toko grosir yang tergabung dalam AYO TM sebagai supply chain toko SRC,” ujarnya.
Tak hanya itu, aspek sosial dari SRC juga diperkuat lewat pembentukan Komunitas Toko SRC yang aktif dalam kegiatan sosial masyarakat. Beberapa komunitas bahkan melakukan kegiatan seperti bersih-bersih lingkungan, penanaman pohon, hingga edukasi UMKM lokal.
“Komunitas toko SRC ini juga aktif melakukan kegiatan sosial di lingkungannya masing-masing, seperti bersih-bersih lingkungan, penanaman pohon, edukasi UMKM, dan kegiatan sosial lainnya,” tutur Janitra.
Selain menguatkan UMKM hilir, HM Sampoerna juga memberi perhatian khusus pada sektor hulu, yakni petani tembakau. Program pertanian berkelanjutan menyasar 22.000 petani tembakau mitra, dengan sistem kemitraan yang adil dan pendampingan langsung oleh lebih dari 300 agronom profesional.
“Kami melakukan pendampingan terhadap sekitar 22.000 petani tembakau mitra. Mereka kami latih agar dapat meningkatkan hasil panen dan kualitas tembakau. Kami juga memiliki lebih dari 300 agronom untuk mendampingi mereka,” beber Janitra.
Langkah ini sejalan dengan prinsip kemitraan berkelanjutan, di mana petani dibekali kemampuan agronomi dan akses terhadap teknologi dan pasar secara lebih adil.
Tata Kelola CSR: Terstruktur, Kolaboratif, dan Terukur
Tak hanya program, tata kelola CSR PT HM Sampoerna Tbk. juga terbilang rapi dan sistematis. Setiap kegiatan diawali dengan pemetaan sosial melalui metode partisipatif seperti Focus Group Discussion (FGD) dan social mapping.
“Kami melakukan pemetaan isu sosial melalui social mapping dan FGD untuk mengetahui aspirasi stakeholder dan dampak sosial dari bisnis kami,” papar Janitra.
Implementasi program didukung oleh kerja sama dengan strategic partner dan implementation partner, serta pengukuran berbasis data yang dilakukan secara periodik. Hasil evaluasi menjadi dasar perbaikan berkelanjutan dan dilaporkan secara transparan dalam laporan tahunan ESG.
“Monitoring dan evaluasi dilakukan secara periodik, dan hasilnya kami gunakan untuk continuous improvement. Kami juga melakukan pelaporan tahunan terkait CSR dan ESG secara transparan,” tambahnya.
Semua inisiatif sosial yang dijalankan Sampoerna bukan semata karena kewajiban regulasi, tapi bagian dari strategi korporasi jangka panjang.
“Bagi kami ESG bukan hanya kewajiban, tapi juga bagian dari strategi bisnis untuk keberlanjutan jangka panjang,” tegas Janitra.
Melalui program-program seperti SRC dan pendampingan petani, serta tata kelola yang kolaboratif dan transparan, PT HM Sampoerna Tbk. membuktikan bahwa membangun bisnis tak harus mengesampingkan tanggung jawab sosial. Justru, melalui pendekatan ESG yang menyeluruh, keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan bisa tumbuh seiring.
