Jakarta, TopBusiness – PT Pupuk Kujang (Persero), anak perusahaan dari Pupuk Indonesia Holding Company, menegaskan komitmennya terhadap tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG), manajemen risiko yang efektif, dan keberlanjutan (ESG) dalam sesi penjurian Top GRC Awards 2025 yang digelar Majalah TopBusiness, Kamis (10/7/2025).
Presentasi dilakukan secara daring dan dipimpin langsung oleh Direktur Keuangan & Umum sekaligus Pelaksana Tugas Direktur Manajemen Risiko PT Pupuk Kujang, Yuni Setyaningrum. Turut hadir jajaran direksi, komisaris, dan perwakilan unit strategis yang menyampaikan kinerja dan kebijakan perusahaan dalam menjalankan prinsip GRC.
“Kami percaya bahwa integrasi antara tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan akan menjadi dasar yang kokoh bagi keberlanjutan usaha. Karena itu, strategi GRC kami selaraskan dengan prinsip ESG dan tujuan sosial serta lingkungan perusahaan,” ujar Yuni Setyaningrum dalam pemaparannya.
Strategi GRC Terintegrasi
Dalam paparannya, Yuni menjelaskan bahwa PT Pupuk Kujang telah mengimplementasikan berbagai kebijakan untuk memastikan kepatuhan dan pengendalian risiko berjalan secara menyeluruh. Salah satunya adalah pelaporan LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara) secara berjenjang hingga level BLD-3 yang berhasil dicapai 100 persen sesuai tenggat.
Selain itu, perusahaan telah memiliki pedoman tata kelola perusahaan melalui surat keputusan bersama antara dewan direksi dan dewan komisaris. Pupuk Kujang juga telah memperoleh sertifikasi SNI ISO 37001 tentang Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) dan mengembangkan sistem internal untuk pelaporan gratifikasi, benturan kepentingan, serta pelaksanaan pengendalian fraud.
Perusahaan juga aktif melakukan pelatihan dan sosialisasi budaya anti-fraud serta pengisian kuesioner pengendalian internal oleh seluruh karyawan.
Implementasi Manajemen Risiko dan Sertifikasi
Dari aspek manajemen risiko, Pupuk Kujang telah melaksanakan berbagai pelatihan dan sertifikasi seperti Qualified Risk Management Analyst (QRMA), Qualified Risk Management Professional (QRMP), dan Certified Governance Professional (CGP). Perusahaan juga menjalankan program manager update untuk para pengambil keputusan di level manajerial dalam penerapan risk management secara berkelanjutan.
“Risiko-risiko ESG seperti perubahan iklim, reputasi, dan sosial kami masukkan dalam sistem manajemen risiko sebagai bentuk kesiapan menghadapi tantangan global,” ujar Yuni menambahkan.
Untuk penguatan sistem, perusahaan juga menerapkan Business Continuity Management System (BCMS) berdasarkan ISO 22301 serta menyusun Financial Contingency Plan guna menjaga kesinambungan operasional bila terjadi gangguan besar.
Proyek Strategis dan Efisiensi Energi
Dalam aspek operasional dan keberlanjutan, Pupuk Kujang juga tengah menjalankan proyek-proyek strategis. Salah satunya adalah replacement pabrik Amoniak 1A yang telah beroperasi sejak 1976. Pabrik baru dirancang untuk lebih efisien dalam konsumsi energi dan bahan baku gas.
“Pabrik 1A yang lama membutuhkan sekitar 44 BBTU gas alam per ton amoniak. Dengan teknologi baru, konsumsi itu akan turun menjadi hanya 32 BBTU per ton. Ini langkah signifikan untuk efisiensi energi dan pengurangan emisi karbon,” jelas Yuni.
Selain itu, perusahaan juga berencana melakukan revamping pada Pabrik 1B untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi energi. Bahkan, Pupuk Kujang telah mulai memproduksi green amonia dalam skala pilot melalui kerja sama dengan PLNPI dan IHI.
Inisiatif ESG dan Keberlanjutan
Komitmen Pupuk Kujang terhadap keberlanjutan juga tampak dari berbagai program tanggung jawab sosial dan lingkungan. Beberapa di antaranya adalah:
- Kujang Merawat Hutan, Sejahterakan Desa: Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan di Banjaran melalui budidaya kopi dan madu hutan.
- Kampung Nanasku: Pemberdayaan petani nanas di lahan kritis wilayah Subang.
- Sakasapo (Satu Karyawan Satu Pohon): Gerakan penghijauan berbasis partisipasi karyawan.
- Dekarbonisasi pabrik dan lingkungan: Termasuk penggunaan green energy dari PLN sebesar 2,5 MW.
- Pengelolaan Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) dan edukasi lingkungan.
“Seluruh inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), seperti kesetaraan gender, pengentasan kemiskinan, edukasi lingkungan, hingga pengembangan ekonomi lokal,” ucap Yuni.
Sistem Pendukung dan Infrastruktur
Untuk mendukung sistem GRC dan ESG, Pupuk Kujang telah membangun infrastruktur teknologi yang mencakup:
- SIMRIS: Sistem pelaporan dan pemantauan manajemen risiko.
- Sistem Penilaian GCG internal berbasis aplikasi.
- Whistleblowing System terintegrasi dengan sistem Pupuk Indonesia dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
- Digital Integrity Pact: Seluruh karyawan wajib menandatangani pakta integritas secara daring setiap tahun.
“Kami terus memperkuat tata kelola, memperluas sistem informasi, dan menerapkan digitalisasi agar semua proses bisnis berjalan transparan, terukur, dan berkelanjutan,” tegas Yuni.
Lewat serangkaian strategi, inisiatif ESG, serta penguatan sistem GRC yang berbasis digital dan kepatuhan, Pupuk Kujang membuktikan bahwa transformasi tata kelola bukan sekadar slogan, tapi menjadi fondasi pertumbuhan berkelanjutan perusahaan.
“Kami percaya bahwa tata kelola yang kuat dan budaya risiko yang terintegrasi akan memperkuat daya saing perusahaan di masa depan,” tutup Yuni dalam sesi akhir presentasi.
