Jakarta, TopBusiness – Dalam upaya memperkuat fondasi keberlanjutan dan daya saing di industri manajemen investasi, PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) secara progresif menerapkan prinsip-prinsip Governance, Risk, and Compliance (GRC) sebagai kerangka kerja strategis di seluruh lini operasionalnya.
Langkah ini tak hanya menjawab tuntutan regulasi dan tata kelola yang baik, namun juga menjadi bagian integral dari transformasi perusahaan dalam menghadapi tantangan industri keuangan yang semakin kompleks dan terdisrupsi.
Hal ini seperti terungkap dalam presentasi Bahana TCW saat wawancara penjurian TOP GRC Awards 2025 yang diselenggarakan Majalah TopBusiness dengan menggandeng beberapa lembaga profesional di bidang GRC, pada Selasa (22/7/2025).
Dalam kesempatan tersebut, hadir untuk memberikan presentasi adalah Novi Imelda selaku Direktur Manajemen Risiko & Compliance, Hario Soeprobo selaku Komisaris Utama, dan Gervasius Calvindy selaku Head of QA.
Dalam pemaparan resminya, Novi Imelda menyampaikan bahwa implementasi GRC terintegrasi merupakan wujud nyata dari komitmen perusahaan terhadap pengelolaan dana yang transparan, etis, dan akuntabel.
“GRC bukan hanya fungsi pengawasan, tapi menjadi bagian dari DNA kami dalam menciptakan kepercayaan, menjaga keberlanjutan bisnis, dan menjawab ekspektasi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Novi.
Dan faktnya, implementasi GRC dengan baik menjadi Bahana TCW menjadi Manajer Investasi (MI) yang kian dipercaya investor ditilik dari sisi dana kelolaan atau asset under management (AUM) mencapai Rp43,87 triliun hingga Juni 2025. Ini menempatkan Bahana TCW bercokol di peringkat kedua nasional dari sisi AUM untuk fund only.
Dengan pendapatan operasional per akhir 2024 adalah sebesar Rp234,6 miliar, liabilitas sebesar Rp102,4 miliar, asset sebesar Rp502,5 miliar, dan laba bersih di angka Rp42,0 miliar. “Dengan CAGR 2007-Mei 2025 sebesar 16,32%,” katanya.

Governance di Semua Lini
Sebagai anak usaha dari holding Indonesia Financial Group (IFG), Bahana TCW menempatkan prinsip good corporate governance (GCG) sebagai pilar utama dalam pengambilan keputusan strategis.
Tata kelola perusahaan dilaksanakan melalui struktur organisasi yang jelas, pemisahan fungsi (segregation of duties), serta pembentukan berbagai komite yang mendukung peran Direksi dan Dewan Komisaris.
Komite-komite tersebut antara lain Komite Investasi, Komite Manajemen Risiko, Komite Kepatuhan Anti Penyuapan, Komite Teknologi Informasi, hingga Komite ESG (Environmental, Social and Governance). Tiap komite memiliki terms of reference yang merujuk pada regulasi OJK seperti POJK No. 24/2014 dan POJK No. 17/2022, yang mengatur tata kelola dan perilaku manajer investasi.
“Prinsip tata kelola kami tidak berhenti pada formalitas. Seluruh komite kami aktif melakukan evaluasi berkala terhadap kebijakan, strategi, dan penerapan GRC untuk memastikan proses bisnis berjalan secara etis, efisien, dan bertanggung jawab,” tambah Novi.
Sebagai bukti penguatan governance, skor dari self-assessment GCG Bahana TCW pada akhir 2024 mencapai 94,90 – melonjak signifikan dibanding tahun sebelumnya.
Peningkatan ini disumbang oleh dua hal utama: efektivitas pelaksanaan tugas Dewan Komisaris dan penguatan fungsi manajemen risiko melalui penunjukan direktur yang membawahi fungsi risiko dan kepatuhan.
Manajemen Risiko sebagai Pilar Strategis
Di tengah dinamika pasar modal dan ketidakpastian ekonomi global, Bahana TCW menjadikan manajemen risiko sebagai elemen strategis, bukan sekadar fungsi kontrol. Perusahaan mengadopsi pendekatan tiga lini pertahanan (Three Lines of Defense) yang terdiri dari:
- Lini pertama, yakni seluruh unit operasional termasuk tim investasi dan pemasaran.
- Lini kedua, yakni fungsi risk management, compliance, dan unit Portfolio Analytics Group (PAG).
- Lini ketiga, yakni internal audit yang bersifat independen.
Uniknya, Bahana TCW mengadopsi Portfolio Analytics Group dari mitranya di AS, TCW (Trust Company of the West), sebagai “lini pertahanan dua setengah” (second-and-a-half line of defense).
PAG ini berperan menganalisis dampak strategi investasi terhadap portofolio secara menyeluruh, menambah lapisan kontrol terhadap eksposur risiko.
“Kami tidak hanya melihat risiko masa lalu atau yang sedang berjalan, tetapi juga menilai risiko dari setiap strategi yang akan diambil ke depan. Ini menjadikan manajemen risiko kami lebih prediktif dan adaptif,” jelas Novi.
Berdasarkan penilaian Risk Maturity Assessment yang mengacu pada Permen BUMN Nomor PER-3/MBU/03/2023, Bahana TCW meraih skor 3,58 dari 5—dalam kategori Good Practice Plus. Ini menandakan bahwa praktik manajemen risikonya melampaui standar dasar dan sedang menuju praktik terbaik.
Risiko yang dimonitor mencakup: Risiko pasar, Risiko likuiditas, Risiko kredit, Risiko operasional, Risiko hukum dan kepatuhan, Risiko reputasi dan strategis, Risiko investasi atas dana proprietary.
Perusahaan juga rutin menyelenggarakan Risk Control Self-Assessment (RCSA) untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan memitigasi risiko secara menyeluruh pada tingkat unit bisnis.
Kepatuhan: Proaktif, Bukan Sekadar Reaktif
Dalam aspek kepatuhan, Bahana TCW tidak hanya mematuhi regulasi eksternal seperti UU PT, UU OJK, POJK tentang manajer investasi, serta UU Pelindungan Data Pribadi (UU PDP), namun juga menyusun kebijakan internal yang progresif.
Termasuk di dalamnya kebijakan anti fraud, konflik kepentingan, gratifikasi, whistleblowing system (Sistem Pelaporan Integritas), dan kebijakan perlindungan data yang telah mengantarkan perusahaan memperoleh sertifikasi ISO 27001 dan ISO 27701.
Perusahaan juga menerapkan pelatihan kepatuhan secara rutin, termasuk e-learning agar seluruh karyawan memiliki pemahaman yang selaras tentang budaya kepatuhan dan sadar risiko.
“Kami ingin memastikan bahwa kepatuhan bukan hanya tanggung jawab departemen tertentu, melainkan menjadi bagian dari budaya perusahaan,” tegas Novi.
Dalam hal ini, fungsi kepatuhan bertindak secara proaktif, bukan sekadar menanggapi pelanggaran, melainkan mengantisipasi potensi ketidaksesuaian secara sistematis dan menyusun mitigasi yang diperlukan.
Transformasi Digital dan ESG sebagai Enabler GRC
Bahana TCW juga aktif melakukan transformasi digital dalam mendukung ekosistem GRC. Platform Bahana Link yang telah diperbarui menjadi One by AFG memperluas jangkauan literasi dan inklusi keuangan kepada masyarakat luas. Seluruh produk investasi perusahaan dapat diakses secara terbuka melalui situs web resmi untuk menjaga kesetaraan informasi.
Selain itu, implementasi ESG tak hanya menjadi wacana, tetapi telah diterjemahkan ke dalam investment decision making.
Sejak 2023, Bahana TCW resmi menjadi anggota United Nations Principles for Responsible Investment (UNPRI), yang mewajibkan penerapan prinsip stewardship dan ESG dalam pengelolaan portofolio. Tim investasi wajib memasukkan analisis ESG terhadap setiap emiten yang menjadi kandidat investasi.
GRC sebagai DNA
Upaya Bahana TCW dalam mengintegrasikan GRC ke dalam seluruh aspek bisnis bukan semata-mata untuk memenuhi regulasi, tetapi merupakan strategi jangka panjang untuk menciptakan nilai bagi investor, memperkuat ketahanan perusahaan, dan membangun kepercayaan publik secara berkelanjutan.
“Kami percaya bahwa GRC bukan proyek, tapi proses yang berkelanjutan. Ini adalah bagian dari bagaimana kami menjalankan bisnis secara bertanggung jawab dan berorientasi jangka panjang,” tutup Novi.
Dengan pencapaian dan fondasi GRC yang kuat, Bahana TCW kini menempatkan diri bukan hanya sebagai MI yang kompeten secara finansial, tetapi juga sebagai institusi yang menjunjung tinggi integritas, keberlanjutan, dan kepatuhan—sebuah kombinasi yang kian menjadi kebutuhan mutlak di era industri keuangan modern.
