TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Bukan Cuman Formalitas, Indonesia Re Jadikan GRC Sebagai Senjata untuk Wujudkan Bisnis Berkelanjutan

Abi Abdul Jabbar Sidik
25 July 2025 | 14:32
rubrik: Event
Bukan Cuman Formalitas, Indonesia Re Jadikan GRC Sebagai Senjata untuk Wujudkan Bisnis Berkelanjutan

Jakarta, TopBusiness – Di tengah turbulensi industri reasuransi global, PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re menjawab tantangan dengan cara yang tidak biasa: memperkuat fondasi tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan lewat integrasi sistem GRC (Governance, Risk, Compliance) yang menyeluruh. 

Dalam presentasi wawancara penjurian TOP GRC Awards 2025 yang digelar Majalah Top Business dan berlangsung secara daring, Kamis (24/7/2025), Robbi Y Walid selaku Direktur Manajemen Risiko, Kepatuhan, SDM dan Corporate Secretary mengungkap strategi menyeluruh perusahaan.

“Bagi kami, GRC adalah kunci tidak hanya untuk bertahan, tapi juga tumbuh secara berkelanjutan. GRC bukan tren sesaat, ini kompas strategis,” ujar Robbi membuka presentasinya.

Tata Kelola Perusahaan yang Konsisten dan Transparan

Robbi mengatakan bahwa Indonesia Re menerapkan prinsip Good Corporate Governance (GCG) secara mendalam dan berkesinambungan. Tidak hanya mengikuti regulasi OJK, Kementerian BUMN, dan UU Keterbukaan Informasi Publik, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi ke seluruh elemen perusahaan.

Beberapa elemen utama GCG yang diterapkan antara lain:

  • Pedoman GCG dan Tata Kelola Terintegrasi: Diperbaharui sesuai roadmap OJK, mengatur arah pengelolaan perusahaan dan anak usaha secara seragam.
  • Whistleblowing System (WBS): Menyediakan kanal pelaporan internal untuk pelanggaran yang dilengkapi jaminan kerahasiaan dan prosedur tindak lanjut.
  • Self-Assessment GCG: Skor GCG meningkat dari 4,85 (2023) menjadi 4,86 (2024), menunjukkan perbaikan berkelanjutan.
  • Pengadaan Barang dan Jasa: Dilakukan secara transparan sesuai pedoman internal.

“Kami ingin GCG hadir sebagai budaya, bukan sekadar dokumen atau aturan. Karena dengan tata kelola yang konsisten, kepercayaan stakeholder terbangun dengan sendirinya,” jelas Robbi.

Selain itu, lanjut Robbi, Penerapan risk-based budgeting, pembentukan Tim Workstream ESG, serta inisiatif digitalisasi seperti paperless system menjadi bukti komitmen nyata perusahaan terhadap transformasi GCG yang adaptif dan ramah lingkungan.

Manajemen Risiko sebagai Budaya, Bukan Sekadar Prosedur

Manajemen risiko di Indonesia Re mengacu pada ISO 31000:2018 dan POJK 44/2020. Robbi menjelaskan bahwa pendekatannya tidak hanya berbasis prosedur, tetapi dibudayakan hingga ke lini individu.

Ia menambahkan bahwa perusahaan meraih skor Risk Maturity Index sebesar 2,90 dari skala 5, menempatkannya di fase Good Practice. Struktur, proses, hingga sistem pelaporan dan evaluasi risiko telah diterapkan secara menyeluruh, didukung oleh perangkat lunak SIMRI berbasis web.

BACA JUGA:   Dukung Bisnis Berkelanjutan, Perusahaan RI Perlu Terapkan ESG

Disamping itu, perusahaan juga telah menerapkan Struktur “Three Lines of Defense” dengan pembagian:

  • Lini Pertama: Risk owner di unit operasional.
  • Lini Kedua: Divisi Manajemen Risiko dan Kepatuhan.
  • Lini Ketiga: Internal Audit.

Impelementasi Manajemen Risiko juga didukung dengan aplikasi SIMRI (Sistem Manajemen Risiko Indonesia Re). SIMRI memungkinkan integrasi pelaporan risiko strategis, operasional, pasar, asuransi, dan lainnya, sesuai dengan SEOJK No. 1/SEOJK.05/2021.

Robbi menuturkan untuk membangun budaya kesadaran akan risiko, perusahaan juga melakukan sosialisasi risiko kepada seluruh karyawan dilakukan minimal dua kali dalam setahun. Kegiatan ini ditindaklanjuti dengan kuisioner untuk mengukur kesadaran risiko dan efektivitas program.

“Kami tidak menunggu risiko menjadi masalah. Kami antisipasi, mitigasi, dan edukasi semua pihak di dalam organisasi agar risiko bisa dikendalikan sebelum berdampak,” tegas Robbi.

Kepatuhan sebagai Pilar Etika dan Kepercayaan

Robbi mengatakan dalam menghadapi regulasi yang terus berkembang, Indonesia Re mengadopsi manajemen kepatuhan berbasis UU No. 27/2022 dan POJK 8/2023. Fokusnya bukan hanya taat hukum, tetapi menciptakan integritas menyeluruh.

Beberapa pendekatan konkret yang dijalankan antara lain:

  • Penetapan kebijakan dan prosedur internal yang sesuai dengan regulasi.
  • Pelatihan dan program awareness berkala untuk seluruh insan perusahaan.
  • Penilaian risiko kepatuhan dan audit internal.
  • Penggunaan teknologi informasi untuk mendukung sistem monitoring dan pelaporan kepatuhan.

“Kepatuhan harus jadi refleksi karakter perusahaan, bukan karena tekanan dari luar. Kami tanamkan kesadaran ini di semua level organisasi,” ujar Robbi.

Dalam aspek kepatuhan, Indonesia Re juga telah mengadopsi ISO 37001 (anti-suap), ISO 20000-1 (layanan TI), dan ISO 27001 (keamanan informasi). Kombinasi ini memperkuat reputasi Indonesia Re sebagai perusahaan reasuransi yang kredibel dan berintegritas tinggi.

GRC Terintegrasi, Satu Kerangka, Satu Arah

Robbi menuturkan bahwa Indonesia Re memandang GRC bukan sebagai entitas terpisah. Integrasi GCG, risiko, dan kepatuhan dijalankan melalui satu kerangka kerja menyeluruh yang melibatkan struktur organisasi, komite terintegrasi, serta metode penilaian dan pelaporan risiko yang seragam.

BACA JUGA:   Pertamina Borong 13 Penghargaan di Acara Oil and Gas Level Internasional ICIUOG 2023, Ini Rinciannya

Adapun langkah-langkah konkret nya antara lain:

  • Pembentukan Komite Manajemen Risiko Terintegrasi.
  • Integrasi proses GRC ke dalam perencanaan strategis perusahaan.
  • Pelaporan tata kelola terintegrasi kepada OJK.
  • Indeks Kepatuhan Terintegrasi untuk monitoring anak dan induk perusahaan.

“Dengan pendekatan ini, semua elemen perusahaan bergerak dengan standar yang sama. Tidak ada celah atau duplikasi dalam manajemen risiko, tata kelola, dan kepatuhan,” ungkap Robbi.

Hal ini, kata Robbi, juga memperkuat kolaborasi antara entitas di dalam grup dan memastikan bahwa risiko lintas fungsi dapat dimitigasi secara komprehensif dan efisien.

Untuk mendukung terlaksananya GRC yang terintegrasi, Indonesia Re memiliki dukungan TI yang memadai pada setiap kebijakannya. Perusahaan tidak hanya mendigitalisasi proses bisnis untuk efisiensi, tetapi juga menjadikan TI sebagai fondasi implementasi GRC.

Robbi mengungkapkan sistem digital utama yang digunakan untuk mendukung implementasi GRC antara lain seperti:

  • New Reins: Core system untuk reasuransi umum.
  • SARJ dan SARK: Sistem untuk reasuransi jiwa.
  • RIU Connect: Sistem pertukaran data antar server berbasis API.

Sementara itu, platform digital GRC meliputi:

  • SIMRI: Untuk pelaporan dan mitigasi risiko.
  • GRC App: Untuk compliance matters seperti pelaporan regulator dan gratifikasi.
  • RBA (Risk Based Audit): Untuk perencanaan dan pelaksanaan audit internal.

“Penggunaan teknologi mempercepat pengambilan keputusan, meningkatkan transparansi, dan mengurangi potensi pelanggaran. GRC tidak akan efektif tanpa dukungan teknologi,” kata Robbi.

“Integrasi ketiga aplikasi tersebut menciptakan ekosistem tata kelola yang terkoordinasi dan efisien. Hal ini menjadi kekuatan utama dalam menghadapi kompleksitas industri,” imbuh dia.

Dampak GRC terhadap Kinerja Keuangan

Semua upaya ini bukan tanpa hasil. Implementasi GRC yang terpadu di perusahaan memberi dampak cukup signifikan pada peningkatan kinerja perusahaan. Dimana, Sepanjang 2024, Indonesia Re berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang impresif. 

Perusahaan pelat merah ini sukses membukukan laba konsolidasi sebesar Rp 73 miliar, tumbuh 29,8 persen dibanding capaian tahun 2023 yang sebesar Rp 56,04 miliar.

Namun pencapaian yang paling mencolok datang dari laba standalone perusahaan induk yang meroket hingga mencapai Rp 143 miliar. Angka ini meningkat lebih dari lima kali lipat dibanding tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp 28 miliar. Kenaikan signifikan ini menjadi bukti efektivitas strategi bisnis dan pengelolaan risiko yang dijalankan manajemen selama tahun berjalan.

BACA JUGA:   Bank Jambi, Jagonya Bank UMKM di Asia

Dari sisi pendapatan, premi konsolidasi naik tipis dari Rp 6,45 triliun menjadi Rp 6,57 triliun. Meski pertumbuhannya hanya sekitar 1,9 persen, namun premi netto justru meningkat lebih solid dari Rp 3,39 triliun menjadi Rp 3,51 triliun atau naik 3,5 persen year-on-year. Ini menunjukkan bahwa perusahaan berhasil mempertahankan portofolio bisnis yang berkualitas tinggi dengan rasio retensi yang optimal.

Sementara itu, hasil underwriting perusahaan justru mengalami penurunan cukup tajam, dari Rp 178 miliar menjadi hanya Rp 119 miliar. Namun penurunan ini berhasil ditutupi oleh peningkatan signifikan dari hasil investasi yang melonjak 37 persen, dari Rp 321 miliar pada 2023 menjadi Rp 440 miliar di akhir 2024.

Total investasi Indonesia Re pun meningkat dari Rp 6,38 triliun menjadi Rp 6,93 triliun. Pertumbuhan ini menjadi penyumbang utama dalam menopang pendapatan non-teknis perusahaan di tengah tantangan industri asuransi dan reasuransi global yang masih diliputi ketidakpastian.

Namun di sisi lain, beban klaim netto tercatat meningkat cukup signifikan, dari Rp 2,16 triliun menjadi Rp 2,49 triliun atau naik sekitar 15 persen. Meski begitu, posisi solvabilitas perusahaan tetap berada dalam kondisi sehat. Rasio Risk Based Capital (RBC) Indonesia Re berada di angka 132,83 persen, sedikit meningkat dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 132,65 persen, dan masih jauh di atas batas minimum yang ditetapkan OJK sebesar 120 persen.

Dengan kinerja keuangan yang solid dan dukungan strategi investasi yang agresif namun terukur, Indonesia Re menegaskan posisinya sebagai salah satu perusahaan reasuransi terdepan di Indonesia yang mampu menjaga stabilitas keuangan sekaligus bertumbuh secara berkelanjutan.

“Kinerja ini adalah refleksi nyata dari GRC yang kami bangun. Karena GRC bukan sekadar kepatuhan—ini tentang menjaga daya saing dan keberlanjutan bisnis,” tutup Robbi Y Walid.

Tags: Indonesia RePT Reasuransi Indonesia Utama (Persero)TOP GRC Awards 2024TOP GRC Awards 2025
Previous Post

Gelar Panin Expo 2025, Clipan Finance Tawarkan Suku Bunga KPM Mulai dari 1,68%

Next Post

OJK Perkuat Tata Kelola melalui Pengembangan SI-GRC Terintegrasi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR