Jakarta, TopBusiness – Perum Perhutani menegaskan komitmennya dalam membangun tata kelola perusahaan yang berlandaskan prinsip Good Corporate Governance melalui penerapan GRC (Governance, Risk, and Compliance) secara menyeluruh dan terintegrasi.
Hal itu dilakukan perusahaan dengan ragam strategis untuk memperkuat akuntabilitas, keberlanjutan, dan nilai tambah bisnis melalui pendekatan berbasis GRC dan ESG (Environmental, Social, and Governance).
Plt. Direktur Utama yang juga menjabat sebagai Direktur Operasi Perhutani, Natalas Anis Harjanto, menegaskan bahwa perusahaan memiliki posisi penting sebagai BUMN klaster kehutanan.
“Kami mengelola kawasan hutan di wilayah Pulau Jawa dan Madura yang tentunya ini kawasan yang sangat penting dan juga strategis. Maka dengan pengelolaan hutan yang berkelanjutan, kami ingin memberikan value bagi negara maupun masyarakat,” ungkap Anis dalam wawancara penjurian TOP GRC Awards 2025 secara daring, Selasa (29/7/2025).
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Perhutani tak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga pada pelestarian sumber daya alam dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. “Visi misi kami tentunya kami ingin menjadi perusahaan yang terbaik di bidang kehutanan, berkelanjutan dan juga memberikan nilai tambah kepada seluruh pemangku kepentingan,” ujar Anis.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko, Sandy Mukhlisin, menyoroti keselarasan antara tema TOP GRC Awards tahun ini dan semangat Perhutani. “Tema hari ini saya rasa sangat sesuai sekali dengan apa yang menjadi core value kami, menjadi tagline kami, yaitu Lestari. Resilience to Sustainability ini sangat-sangat mendekati terhadap core value kami,” katanya.
Menurut Sandy, kelestarian dan keberlanjutan harus berjalan beriringan. “Kalau resilience tidak menjaga sustainability juga akan hancur. Kalau sustainability tapi tidak resilience, juga tidak bisa sustain. Jadi dua-duanya itu harus bisa jalan bareng dan kami mencoba menjawabnya melalui program-program yang dilakukan di Perhutani.” Paparnya.
Sandy juga menekankan bahwa seluruh aktivitas Perhutani saat ini didorong oleh prinsip integritas, terutama dalam pengelolaan risiko. “Karena kami sebagai perusahaan tentu memiliki resiko dan di situlah pentingnya GRC menjadi sebuah guidance yang membantu bagaimana kami bisa tetap menjalankan bisnis dengan baik,” tegasnya.
Sistem GRC Perhutani juga melibatkan peran aktif dari Dewan Pengawas dan Sekretaris Perusahaan dalam memastikan transparansi, akuntabilitas, dan sinergi antar divisi.
Selain itu, peran komunikasi strategis juga diperkuat. “Sekretaris perusahaan juga sangat membantu kami dalam mengomunikasikan program-program ini, baik kepada stakeholder internal maupun eksternal,” ujar Sandy.
ESG sebagai Strategi Bisnis
Penerapan ESG di Perhutani dilakukan bukan semata untuk memenuhi kepatuhan, tetapi sebagai strategi bisnis jangka panjang. “ESG bagi kami tidak hanya compliance, tetapi ini adalah kebutuhan. Kebutuhan terhadap lingkungan itu harus dijawab. Bahwa bisnis ini harus ramah terhadap lingkungan dan bisnis ini juga harus punya daya tahan terhadap lingkungan,” tegas Sandy.
“Kami memiliki program green energy, green product, green industry, dan juga green investment. Jadi semua aspek-aspek ESG itu kami tangkap menjadi sebuah nilai tambah dalam kami menjalankan bisnis.” tambahnya.
Perhutani juga membangun sistem manajemen risiko terintegrasi yang melibatkan partisipasi hingga level lapangan. “Kami punya enterprise risk management yang memang sudah terintegrasi. Di situ kami sudah menempatkan para pengelola risiko di unit kerja,” jelas Sandy.
Untuk memastikan pengawasan berjalan efektif, fungsi internal audit juga diperkuat. “Kami sudah punya direktorat kepatuhan yang memang bekerja langsung untuk memastikan bahwa semua aktivitas itu comply terhadap regulasi maupun terhadap aturan interna,” lanjutnya.
Transformasi Digital sebagai Penguatan ESG
Direktur Umum, SDM, dan Teknologi Informasi Perhutani, Denny Ermansyah, menjelaskan bahwa transformasi digital menjadi elemen kunci dalam penguatan GRC. Digitalisasi membantu mempercepat pelaporan, pengawasan, hingga mitigasi risiko secara real time di lapangan.
“Kami juga mengembangkan dashboard risiko, termasuk indikator-indikator terhadap mitigasi risiko. Termasuk juga pengelolaan kinerja kami berbasis elektronik,” ujar Denny.
Ia menambahkan bahwa transformasi digital bukan hanya pada aspek pengawasan, tapi juga mencakup sistem ERP, manajemen sumber daya manusia, dan pelaporan akuntansi berbasis SAP.
Dalam aspek sosial dan lingkungan, keterlibatan masyarakat menjadi hal yang sangat diperhatikan. “Perhutani itu tidak hanya sekedar mengelola kayu, kami juga mengelola masyarakat di sekitar hutan,” jelas Denny.
Ia menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan hutan tidak mungkin terwujud tanpa partisipasi aktif masyarakat desa hutan.
“Ketika masyarakat itu kemudian tidak ikut terlibat menjaga kawasan hutan, maka akan terjadi pembalakan liar, akan terjadi kerusakan lingkungan, dan itu sangat merugikan negara,” bebernya.
“Kami bisa menunjukkan bahwa sinergi dengan masyarakat itu adalah sebuah keniscayaan, dan dengan sinergi itu bisa meningkatkan kelestarian. Kami ingin menunjukkan bahwa dengan transformasi digital, kami bisa meningkatkan efisiensi,” pungkasnya.
