Jakarta, TopBusiness – PT LRT Jakarta kian serius membenahi diri dengan mengandalkan tata kelola perusahaan yang baik, manajemen risiko, dan kepatuhan hukum atau yang dikenal dengan konsep GRC (Governance, Risk, and Compliance). Bagi perusahaan ini, GRC bukan sekadar memenuhi regulasi, melainkan pondasi utama untuk menumbuhkan bisnis yang sehat, memperkuat reputasi, dan menjamin keberlanjutan jangka panjang.
Langkah ini disampaikan langsung oleh Manajer Manajemen Risiko PT LRT Jakarta, Tridewi Pujamawaty, saat memaparkan presentasi pada sesi Wawancara Penjurian Top GRC Awards 2025 yang digelar Majalah TopBusiness secara daring, Selasa 29 Juli 2025.
Dalam paparannya, Dewi menegaskan bahwa GRC telah diintegrasikan dalam seluruh aspek bisnis LRT Jakarta sejak dari tingkat direksi hingga pelaksana operasional. “LRT Jakarta sudah memiliki organ-organ pendukung GRC baik di level direksi maupun komisaris,” ujar Dewi.
Ia menekankan bahwa struktur GRC bukan sekadar konsep di atas kertas. “Struktur ini kami jalankan di semua lini organisasi, mulai dari kebijakan, tata kelola, hingga audit dan pengawasan,” kata dia.
Transformasi Transportasi dan Langkah Bisnis
Sejak beroperasi pada Desember 2019, LRT Jakarta telah berkembang pesat. Dari jalur perdana sepanjang 5,8 kilometer yang menghubungkan Pegangsaan Dua hingga Velodrome, layanan ini menjadi bagian dari wajah baru transportasi modern di ibu kota. Meski jumlah penumpang harian rata-rata baru sekitar 3.600 hingga 4.000 orang per hari, jalur perdana itu berhasil menjadi pondasi bagi ekspansi yang lebih besar.
Perusahaan kini sedang mengerjakan proyek Fase 1B yang menghubungkan Velodrome sampai Manggarai sepanjang 6,4 kilometer. Hingga Maret 2025 progres pembangunan sudah mencapai 50 persen dan ditargetkan selesai di akhir 2025. Fase baru ini akan menambah enam stasiun sekaligus: Velodrome, Rawamangun, Pramuka BPKP, Pasar Pramuka, Matraman, dan Manggarai. Ketika beroperasi kelak, target penumpang diproyeksikan melonjak hingga 80 ribu per hari atau 29 juta orang per tahun setelah integrasi penuh dengan jaringan TransJakarta dan KRL di Manggarai.
Transformasi LRT Jakarta juga merambah sektor bisnis non-operasional. Area stasiun kini dioptimalkan untuk ruang usaha, tenant kuliner, hingga penyediaan layanan perawatan dan overhaul kereta untuk armada di luar Jakarta, termasuk layanan di Bandara Soekarno-Hatta. T
Tridewi menyebut, diversifikasi pendapatan ini adalah cara perusahaan memperkuat ketahanan finansial tanpa bergantung semata-mata pada subsidi. “Diversifikasi pendapatan ini bagian dari strategi jangka panjang agar bisnis perusahaan tidak bergantung hanya pada subsidi,” jelasnya.
Membangun GRC Terintegrasi
Dalam sesi wawancara, Tridewi menjabarkan bahwa GRC LRT Jakarta dibangun di atas tiga pilar utama: tata kelola perusahaan atau Good Corporate Governance (GCG), manajemen risiko, dan manajemen kepatuhan. Tiga pilar ini berjalan bersama dan saling menopang, tidak berdiri sendiri.
GCG di LRT Jakarta dijalankan dengan merujuk pada Keputusan Gubernur DKI Jakarta, ketentuan Kementerian BUMN, dan pedoman internal yang mengatur seluruh proses perusahaan. Sistem whistleblowing yang dikelola oleh Deloitte, e-procurement, pedoman anti penyuapan, serta budaya anti gratifikasi dijalankan untuk memastikan integritas.
“Perusahaan juga sudah memiliki Pedoman Tata Kelola Perusahaan, Prosedur Pelaporan Pelanggaran, Pedoman Pengendalian Gratifikasi… serta Kebijakan Manajemen Mutu, KPK3 dan Lingkungan,” kata Dewi.
Hasil dari sistem ini sudah terlihat. Penilaian GCG perusahaan pada 2024 mencatat angka 89,71 melalui self-assessment, lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Tahun depan, perusahaan berencana melakukan penilaian eksternal untuk menguji lebih lanjut efektivitas sistem tata kelola yang ada.
Sementara itu, manajemen risiko dikelola dengan standar ISO 31000:2018. Perusahaan secara berkala melakukan identifikasi risiko, menilai tingkat paparan risiko, merumuskan mitigasi, dan menyampaikan laporan kepada pimpinan. Metode yang digunakan adalah konsep three lines of defense, yaitu unit operasional sebagai lini pertama, fungsi manajemen risiko dan kepatuhan di lini kedua, serta auditor internal dan eksternal sebagai lini ketiga.
Tridewi menjelaskan, sistem kepatuhan di LRT Jakarta juga semakin matang berkat penerapan ISO 37301:2021. “Kami melakukan self-assessment dua kali setahun untuk melihat apakah ada gap kepatuhan,” ujarnya. Hasil penilaian ini disajikan melalui dashboard khusus yang bisa diakses direksi untuk memastikan tidak ada celah di aspek regulasi.
Seluruh proses GRC ini tidak berjalan secara manual semata. Perusahaan mengandalkan teknologi digital untuk mempercepat proses, mengintegrasikan data, dan meningkatkan transparansi. Dari e-procurement, HRIS, hingga LRTJ Apps dan AKDA yang memudahkan pembelian tiket dan layanan internal, semua sistem terhubung dengan dashboard berbasis data. Teknologi ini membuat pengambilan keputusan lebih akurat dan terukur.
Di luar aspek kepatuhan, GRC juga dirangkai dengan konsep ESG (Environmental, Social, Governance) sebagai satu kesatuan. Perusahaan fokus pada efisiensi energi, pengelolaan limbah, program sosial seperti vaksinasi, pencegahan stunting, penyediaan fasilitas ramah perempuan dan anak, pemberdayaan UMKM lokal, hingga inovasi transportasi ramah lingkungan.
Menurut Dewi, pendekatan ini memastikan setiap langkah bisnis bukan hanya memenuhi aturan, tapi juga membawa dampak positif bagi masyarakat.
Hasil Nyata: Kinerja dan Kepercayaan Publik
Hasil dari tata kelola terintegrasi ini terlihat jelas pada kinerja LRT Jakarta. Jumlah penumpang terus meningkat. Pada 2020, tercatat 486 ribu penumpang, naik menjadi 721 ribu penumpang di 2022. Tahun 2023, jumlah penumpang melonjak menjadi 938.663 orang, melampaui target harian perusahaan. Bahkan hingga Mei 2024, sudah ada 465 ribu penumpang yang menggunakan layanan ini. Tingkat kepuasan pelanggan juga membaik, dari 88 persen pada 2020 menjadi 93 persen pada 2024.
Kinerja keuangan pun mengikutinya. Laba usaha pada 2023 mencapai Rp 15,41 miliar, melonjak 87 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Perusahaan juga mencatat skor kematangan kepatuhan (compliance maturity) sebesar 3,0 dan menargetkan 3,5 pada 2025.
“Penerapan GRC, dukungan TI, serta komitmen seluruh insan LRT Jakarta membantu meningkatkan efektivitas operasional sekaligus memperkuat kepercayaan stakeholder,” ujar Dewi.
Sinergi dengan PT Jakarta Propertindo (Jakpro) selaku induk perusahaan turut memperkuat posisi LRT Jakarta. Dukungan modal, integrasi pengembangan jalur, dan dukungan strategis lainnya membantu perusahaan memperluas layanan.
Dengan jalur fase 1B yang segera tuntas, LRT Jakarta bersiap menghadapi lonjakan penumpang. Targetnya jelas: melayani puluhan ribu penumpang per hari dengan layanan yang efisien, ramah lingkungan, dan tata kelola yang semakin solid.
“Implementasi GRC yang kami jalankan bukan hanya soal mematuhi aturan. Ini adalah komitmen jangka panjang untuk menjadikan LRT Jakarta sebagai moda transportasi modern, efisien, dan berkelanjutan yang berkontribusi bagi masa depan kota Jakarta,” tutup Dewi.
Melihat tren ini, 2024 menjadi tahun konsolidasi bagi LRT Jakarta. Penumpang makin percaya, bisnis baru mulai jalan, dan tata kelola semakin rapi. Dengan jalur baru yang segera tuntas, perusahaan ini diprediksi bakal mencetak lonjakan penumpang yang lebih tinggi lagi ke depan.
