Jakarta, TopBusiness – PT Medela Potentia Tbk (IDX: MDLA) menegaskan komitmennya dalam membangun perusahaan yang tangguh dan berkelanjutan melalui penerapan GRC. Hal ini seperti diungkap Wimala Widjaja, selaku Direktur MDLA.
Sebagai perusahaan induk di sektor distribusi farmasi dan alat kesehatan dengan jaringan yang luas MDLA menghadapi tantangan operasional yang tinggi. MDLA sendiri tercatat memiliki anak usaha, yakni PT Anugerah Argon Medica (AAM), Dynamic Argon Co. Ltd., PT Djembatan Dua, PT Deca Metric Medica, dan PT Karsa Inti Tuju Askara (KITA).
Strategi dan Kinerja Bisnis
Medela Potentia memiliki kiprah yang cukup panjang sebagai perusahaan districusi farmasi. Wimala Widjaja mengatakan, saat ini perusahaan telah melayani sekitar 3.000 rumah sakit di seluruh Indonesia, 20 ribu apotek, 3.000 klinik dan lebih dari 2.000 puskesmas dan institusi pemerintah lainnya.
”Ditambah lagi 50 ribu gerai-gerai retail, baik itu tradisional maupun modern yang kami layani. Itu semua kami lakukan dengan keberadaan kami di seluruh Indonesia dengan 36 kantor cabang. Dan kami adalah salah satu pemasok utama di system jaminan kesehatan nasional ini yang barangkali bapak-bapak juga mengikuti itu sudah 90% dari masyarakat Indonesia itu masuk ke dalam system jaminan nasional ini,” ungkapnya.
Adapun terkait strategi bisnis, Wimala percaya bahwa untuk tetap eksis dan terus menjaga keberlangsungan dari usaha, ada dua yang selalu diupayakan perusahaan, yakni pertumbuhan dan selalu berupaya untuk relevan mengikuti tuntutan dan perkembangan zaman.
“Jadi, kalau kita bicara growth, kita harus mengupayakan pertumbuhan di sisi Top Line dan juga di sisi Bottom Line. Untuk terus bisa tumbuh di sisi top Line kami terus akan mengupayakan untuk menggambarkan keberadaan kami dengan titik-titik kantor cabang kami dan juga berusaha untuk meraih lebih banyak lagi kepercayaan dari para principal yang merupakan mitra utama kami. Dan Bottom Line kalau untuk tumbuh kami percaya kami harus terus lebih efisien dan meningkatkan produktivitas kami,” tandasnya.
Sementara itu, untuk sesuai dengan tuntutan zaman, hal itu diejawantahkan perusahaan dengan terus dari waktu ke waktu memodernisasi alat kerja dengan beralaskan teknologi informasi yang lebih terkini.
Menyinggung soal kinerja bisnis, Wimala mengungkap bahwa dalam 20 tahun ke belakang secara besaran bisnis perusahaan sudah tumbuh 10 kali lipat. Itu berarti dalam kurun 20 tahun ke belakang itu perusahaan setiap tahunnya bertumbuh double digit.
“Dan ini kalau kita melihat terakhir tahun 2024 secara top line kami mencapai lebih dari Rp14 triliun, itu juga suatu besaran yang tidak kecil. Dan kami bertumbuh 11% dibandingkan tahun 2023. Dan secara bottom line, net profit itu kami juga tumbuh 13% lebih baik daripada pertumbuhan top line. Dan itu tentu saja akan meningkatkan laba yang ditahan. Dengan demikian ekuitas pemegang saham itu juga meningkat,” ungkapnya.
Penerapan GRC
Soal penerapan GRC, perusahaan yang bergerak di industri kesehatan seperti Medela Potentia telah menjadikan aspek GRC menjadi sebuah keniscayaan. Misalnya dari sisi kepatuhan, perusahaan harus patuh terhadap sejumlah regulasi, khususnya dari badan POM dan Kementerian Kesehatan untuk menjaga keutuhan perusahaannya.
“Dan kami percaya compliance (kepatuhan) itu harus dipastikan dengan implementasi governance (tata kelola) yang baik. Karena kita punya 36 cabang di seluruh Nusantara di tambah Kamboja, ada 3000 karyawan, tanpa governance yang baik, mustahil kita bisa meyakinkan tingkat kepatuhan yang diperlukan untuk menjaga keberlangsungan usaha kami,” tandas dia.
Kepatuhan terhadap regulasi juga menjadi perhatian utama perusahaan di mana seluruh kebijakan internal dan SOP perusahaan telah disusun sejalan dengan peraturan pemerintah dan standar industri farmasi yang ketat. Hal ini tidak hanya bertujuan menghindari pelanggaran, tetapi juga memastikan setiap produk dan layanan yang diberikan memenuhi standar kualitas dan keamanan tertinggi.
Indikator keberhasilan implementasi kepatuhan diukur dari nihilnya insiden pelanggaran hukum serius, meningkatnya reputasi perusahaan, terbentuknya budaya sadar risiko dan etika, serta hasil audit internal dan eksternal yang positif. Selain itu, kemampuan perusahaan dalam merespons cepat perubahan regulasi menjadi salah satu nilai tambah dalam iklim bisnis yang dinamis.
Lebih lanjut, Wimala Widjaja, menyampaikan bahwa implementasi GRC bukan sekadar memenuhi kewajiban regulasi, melainkan menjadi bagian integral dari strategi keberlanjutan perusahaan.
Menurutnya, GRC merupakan pilar penting dalam menjaga integritas, efisiensi, dan reputasi perusahaan, sekaligus memberikan keyakinan kepada seluruh pemangku kepentingan bahwa bisnis dikelola secara profesional dan bertanggung jawab.
Perusahaan telah menerapkan sistem tata kelola perusahaan yang komprehensif, termasuk kode etik yang wajib dipahami dan dijalankan oleh seluruh karyawan, sistem pelaporan pelanggaran (whistleblowing system), hingga pembentukan berbagai komite governance.
Selain itu, hubungan antara induk dan anak perusahaan diatur secara jelas melalui pedoman yang mencakup prinsip kerja sama, pengambilan keputusan, manajemen risiko, hingga kebijakan SDM.
Dari sisi manajemen risiko, MDLA telah menerapkan standar internasional ISO 31000. Perusahaan juga berada pada level 4 dalam Risk Maturity Level, yang menunjukkan bahwa pengelolaan risiko telah terintegrasi secara proaktif di sebagian besar fungsi organisasi. Tidak hanya itu, Medela Potentia juga telah menerapkan Three Lines of Defence.
Wimala mengatakan dengan aktivitas yang banyak melibatkan 36 cabang di mana dalam satu tahun mungkin lebih dari 3 juta transaksi yang melibatkan pergerakan orang, pergerakan barang, dan lainnya, sehingga berakibat memunculkan potensi risiko yang terjadi di mana-mana.
“Oleh karena itulah yang namanya Risk Management itu juga sesuatu yang sudah kami coba terapkan sejak lama mengikuti standar ISO 31000,” tandasnya.
Dengan fondasi GRC yang semakin kuat, MDLA optimistis mampu menjaga keberlangsungan usaha, meningkatkan kepercayaan investor dan mitra usaha, serta terus memberi kontribusi nyata bagi pembangunan sistem kesehatan nasional yang lebih andal dan transparan.
Editor: Busthomi
