Jakarta, TopBusiness – PT Asuransi Jiwa Syariah Kitabisa atau SalingJaga, anak usaha dari platform galang dana Kitabisa, mendorong penerapan tata kelola perusahaan yang baik melalui pendekatan GRC (Governance, Risk, and Compliance).
Sebagai perusahaan asuransi jiwa syariah berbasis teknologi, SalingJaga menegaskan bahwa penerapan GRC bukan sekadar kewajiban regulasi, tetapi merupakan bagian dari strategi inti untuk membangun kepercayaan dan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Hal ini seperti diungkap Bryan Silfanus, Direktur Utama SalingJaga, pada sesi penjurian TOP GRC Awards 2025 yang digelar secara daring, Kamis (14/8/2025) lalu.
Tema presentasi yang diangkat SalingJaga pada sesi penjurian kali ini adalah Digital by Design: Scaling GRC with Agility and Purpose.
“Kenapa? Karena memang SalingJaga ini menarik, tidak hanya perusahaan jasa keuangan, tetapi kita juga lahir dari Kitabisa, yaitu sebuah perusahaan rintisan digital yang mempunyai fokus besar kepada Social Impact (value),” jelas Bryan.
“Dan kita memang masih kecil, kami melihat justru GRC itu menjadi sarana penting untuk scale growth. Sehingga poin (di tema) Digital By Design itu sangat penting dan saya harap menjadi salah satu cerminan dari tema utama TOP GRC Awards,” sambungnya.
Model bisnis SalingJaga dibentuk dari nilai-nilai sosial yang telah menjadi DNA Kitabisa sejak awal. Menurut Bryan, SalingJaga hadir sebagai bentuk evolusi dari aktivitas galang dana yang bersifat reaktif menjadi sistem perlindungan asuransi yang proaktif, berbasis komunitas dan nilai gotong royong.
“Asuransi ini kami lihat sebagai sarana komunitas untuk saling menjaga. Kalau penggalangan dana itu menjaga secara reaktif saat ada bencana, maka SalingJaga adalah versi proaktifnya—dana dikumpulkan lebih dulu sebelum musibah terjadi,” ujar Bryan.
Dengan pendekatan digital sejak awal, SalingJaga mengintegrasikan prinsip-prinsip tata kelola dan manajemen risiko ke dalam setiap aspek operasional. Bryan menekankan pentingnya GRC sebagai fondasi strategis untuk perusahaan rintisan digital, terutama di sektor jasa keuangan syariah yang mengedepankan prinsip kepercayaan dan keberlanjutan.
SalingJaga memosisikan nilai-nilai perusahaan dalam filosofi BASIC: Baik, Simpel, dan Canggih. Filosofi ini mencerminkan visi mereka untuk mengembalikan esensi asuransi sebagai bentuk kebaikan kolektif yang sederhana namun didukung teknologi modern.
Sejalan dengan itu, perusahaan mencatat pertumbuhan positif dengan kinerja finansial double digit di tengah kondisi industri asuransi yang cenderung stagnan.
Bryan mengatakan asuransi SalingJaga memandang bahwa GRC itu sangat erat kaitannya dengan sustainable business. Terlebih, bagi perusahaan asuransi yang dari sisi bisnis lebih mengutamakan kepercayaan (trust).
Dari sisi kepatuhan, perusahaan menerapkan struktur GRC yang agile namun taat regulasi. Bryan menyebut bahwa saat ini ia menjabat sekaligus sebagai Direktur Kepatuhan, untuk memastikan pengawasan langsung terhadap tim legal, risiko, kepatuhan, hingga anti-fraud dan APU-PPT, sesuai dengan POJK 23/2023.
“Kami ingin memastikan GRC tidak hanya dilihat sebagai fungsi kontrol, tapi sebagai mitra strategis bisnis. Karena itu, kami libatkan tim GRC dalam berbagai inisiatif perusahaan,” kata Bryan.
Penerapan prinsip syariah juga menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi GRC perusahaan. Dengan pengawasan dari Dewan Pengawas Syariah, SalingJaga memastikan setiap proses bisnis terhindar dari praktik yang mengandung riba, gharar, maysir (perjudian), maupun unsur ketidakadilan.
Dari sisi teknologi, SalingJaga telah menerapkan sertifikasi ISO 27001:2022 sebagai sistem manajemen keamanan informasi yang menyeluruh. Sistem ini mencakup kontrol akses ketat, enkripsi data nasabah, dan penerapan Single Sign On dengan autentikasi berlapis. Selain itu, perusahaan juga telah membangun sistem Business Intelligence untuk menganalisis perilaku nasabah dan kinerja produk secara real time.
Untuk memperkuat tata kelola, SalingJaga juga melakukan audit eksternal tahunan oleh firma akuntansi Big Four.
“Jadi, kami melihat, proses audit atau proses memastikan GCG ini dijalankan dengan baik itu sangat penting. Sehingga jarang sebenarnya asuransi yang lokal maupun tentunya asuransi jiwa syariah itu menggunakan Big Four karena costnya (dan) investasinya cukup banyak. Nah ini yang kami lakukan juga untuk memastikan implementasi proses kami selalu sesuai,” jelasnya.
Perusahaan juga mencatat peningkatan skor self-assessment Good Corporate Governance (GCG) dari 3 menjadi 2, yang menunjukkan perbaikan signifikan dalam penerapan tata kelola. Hal ini didukung oleh pelatihan dan sertifikasi manajemen risiko bagi seluruh jajaran pimpinan, termasuk komisaris dan pejabat satu level di bawah direksi.
Dalam implementasi kepatuhan, SalingJaga memastikan tidak ada sanksi dari regulator seperti OJK, PPATK, maupun DSN-MUI. Setiap unit kerja memiliki kebijakan dan prosedur yang selaras dengan regulasi OJK, serta secara rutin melakukan compliance gap analysis dan refreshment terhadap regulasi-regulasi terbaru.
“Tim GRC kita menjadi teman, bukan menjadi bloker bukan menjadi bottleneck untuk berkonsultasi berdiskusi agar menjaga, tidak hanya aktivitas bisnis tapi tentunya karyawan-karyawan kita di perusahaan,” ujar Bryan.
Dengan pendekatan GRC yang menyatu dalam strategi bisnis digital, SalingJaga menunjukkan bahwa transformasi dan tata kelola dapat berjalan beriringan bahkan dalam skala startup.
Langkah ini menjadi cerminan komitmen mereka terhadap pertumbuhan berkelanjutan yang berpihak pada nilai, komunitas, dan masa depan industri asuransi syariah di Indonesia.
Selain Bryan, pada sesi penjurian TOP GRC Awards 2025 juga dihadiri oleh Muhammad Zamachsyari selaku Direktur, Siti Badaria selaku Sekretaris Perusahaan, dan Aryo Pinandito – Manajemen Risiko & Kepatuhan.
Adapun dari sisi dewan juri, yang hadir pada sesi ini antara lain Melani K. Hariman (CEO Melani K. Hariman & Associates), Sentot Baskoro (Asosiasi GRK Indonesia), Prof. Satya Arinanto (Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia), dan Prof. Wahyudin Zarkasyi (Guru Besar Universitas Padjadjaran).
Editor: Busthomi
