Jakarta, TopBusiness – PT Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) atau Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang menegaskan komitmennya terhadap pengembangan kawasan industri terpadu yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan bisnis, tapi juga berlandasan pada prinsip governance, risk, dan compliance (GRC) yang kuat serta berkelanjutan (sustainable).
Dalam sesi presentasi penjurian TOP GRC Awards 2025 yang digelar secara daring, Rabu (20/8/2025), manajemen KITB memaparkan soal penerapan GRC di perusahaannya yang tidak berhenti pada pemenuhan regulasi, melainkan dirancang sebagai pengungkit nilai tambah jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.
“Kami percaya bahwa penerapan GRC bukan hanya kewajiban, melainkan juga sebuah strategi untuk menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi para pemangku kepentingan, baik itu pemerintah, investor, masyarakat sekitar, maupun lingkungan,” ujar Indri Septa Respati, Direktur Pemasaran & Pengembangan sekaligus Plt Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko KITB dalam sesi presentasi penjurian tersebut.
Dalam penjurian daring ini, Indri didampingi Kepala Divisi Risk management & ESG Muhammad Agung Gunawan, Kepala Departemen Corp. Com, CSR & Community Development Tanya Liwail Chamdy, Kepala Departemen Corporate Secretary, Protocoler & Stakeholder Management Muhammad Rizza Akbar, Officer Risk Management Aditya Rizqiantama, serta Officer Compliance Muhammad Nafi Yudanto.
Tim dari KITB ini membawakan materi presentasi berjudul Incredible Growth, Strong Governance: Shaping a World Class Integrated Industrial City Through GRC & Sustainability.
Melalui penjurian ini, kata Indri, pihaknya berharap dapat menunjukkan bahwa KITB bukan sekadar kawasan industri, tetapi juga sebuah ekosistem bisnis berkelas dunia yang transparan dan berkelanjutan.
Sebagai proyek strategis nasional (PSN) yang ditingkatkan menjadi KEK, KITB memegang mandat ganda yakni mengakselerasi investasi sekaligus mengawal keberlanjutan. Ini tentu sesuai visi KITB yakni menjadi kota industri cerdas, terintegrasi, dan berkelanjutan untuk menyukseskan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Saat ini, total area yang dikelola KITB mencapai 4.300 hektare. Fase 1 seluas 3.100 hektare telah berjalan, dengan sekitar 2.100 hektare kawasan yang infrastrukturnya telah dimatangkan untuk kegiatan industri.
KITB juga mengelola listrik jaringan bawah tanah, sistem air minum dan pengolahan limbah (IPA/IPAL) berteknologi ramah lingkungan, suplai gas bumi yang telah tersambung ke depan pabrik, serta NOC (Network Operation Center) dan command center untuk pemantauan terpadu, termasuk kualitas lingkungan. Di sisi konektivitas, pelabuhan bahan baku disiapkan, dan jalur kereta logistik direncanakan bersama KAI.
Dari sisi kepastian hukum, tenaga kerja dan investor diuntungkan oleh skema HGB di atas HPL dengan masa pemanfaatan hingga 80 tahun, salah satu yang terpanjang di Indonesia. “Status KEK kami mencakup industrial dan manufacture, distribusi dan logistik, serta pariwisata. Status ini terbukti mengakselerasi minat investasi di KITB,” kata Indri.
Performa Bisnis
Meski baru resmi berdiri pada akhir 2020, performa bisnis KITB bukannya merangkak, melainkan konsisten menanjak. Berdasarkan paparan manajemen, aset, pendapatan, dan laba perusahaan mencatat tren kenaikan yang signifikan tahun demi tahun.
Jumlah aset pada 2021 tercatat masih sebesar Rp 1,3 triliun, kemudian naik menjadi Rp 1,49 triliun pada 2022, Rp 2,36 triliun pada 2023 dan melonjak jadi Rp 3,17 triliun pada 2024. Demikian pula pendapatan KITB tercatat Rp 196,27 miliar pada 2021, kemudian naik menjadi Rp 249,92 miliar pada 2022, meningkat lagi menjadi Rp 573,71 miliar pada 2023 dan menjadi Rp 715,7 miliar pada 2024.
Untuk laba komprehensif juga melesat dari Rp 31,5 miliar pada 2021, kemudian naik menjadi Rp 73,86 miliar pada 2022, selanjutnya Rp 208,03 miliar pada 2023 dan naik lagi menjadi Rp 291,83 miliar pada 2023.
“Biasanya perusahaan baru itu ‘batuk-batuk’ ya, Pak. Pendapatannya naik-turun, asetnya juga enggak stabil. Tapi yang ingin saya highlight adalah alhamdulillah secara konsisten dari tahun ke tahun perusahaan ini perform dengan sangat baik,” ujar Muhammad Agung Gunawan, menambahkan.
Implementasi GRC
Terkait penerapan GRC, kata Agung, KITB telah memiliki kelengkapan sistem dan infrastruktur GRC yang mengacu pada Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-2/MBU/03/2023 tentang Tata Kelola Perusahaan yang Baik. Berbagai komite yang diamanatkan regulasi juga dibentuk dan dioperasionalkan dengan job description yang jelas.
KITB memiliki 11 Komite sebagai pendukung/pelaksana GRC antara lain Komite Audit, Komite Pemantau Risiko, Komite Nominasi dan Remunerasi, Komite Manajemen Risiko, Komite Bisnis (Investasi), Komite HC & Talent, Komite IT, dan Komite GCG. Selain itu ada tiga divisi pendukung GRC yaitu Divisi Corporate Secretary, Divisi Internal Audit, dan Divisi Risk Management & ESG.
Per Juni 2025, kata Agung, seluruh kebijakan terkait GRC yang diwajibkan regulasi juga telah dilengkapi oleh manajemen. Perusahaan juga sudah mengoperasikan Whistle Blowing System (WBS) berbasis website dan prosedur pengendalian gratifikasi yang disinergikan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). “Selain itu, KITB telah mengadopsi e-procurement untuk memastikan proses pengadaan yang bersih dan akuntabel,” ucap dia.
Sebagai wujud penerapan GCG, KITB menjalani asesmen perdana oleh BPKP pada 2023 dan meraih nilai 70, angka yang dinilai tinggi untuk asesmen pertama.
“Umumnya untuk asesmen pertama itu angkanya sekitar 50 sampai 60. Bahkan ada beberapa yang di bawah 50. Jadi ini salah satu note dari BPKP, prestasi KITB sebagai sebuah proyek strategis nasional. Ternyata bukan hanya bisnisnya yang digenjot tapi dari sisi GRC-nya juga kami penuhi,” ujar Agung.
Terkait manajemen risiko, kata Agung, seluruh lini atau divisi di KITB melakukan identifikasi profil risiko yang hasilnya disampaikan berjenjang dari Risk Officer ke Risk Champion hingga Kepala Divisi yang kemudian dilakukan integrasi dan pemantauan oleh Divisi Risk Management & ESG. Divisi ini kemudian secara aktif bersama sama memantau, mengevaluasi, melakukan kontrol dan mitigasi risiko bersama dengan direksi, dewan komisaris, dan seluruh karyawan.
KITB rutin mengukur risk maturity level. Level Risk Maturity Index (RMI) perusahaan dalam tiga tahun terakhir terus mengalami peningkatan secara signifikan baik secara level maupun skor. Pada 2022, skor RMI mencapai 1,2, kemudian naik menjadi 1,9 pada 2023 dan 2,5 pada 2024. Peringkat komposit manajemen risiko KITB disebut terbaik di klaster holding Danareksa.
Untuk penguatan budaya kepatuhan ditempuh melalui compliance review atas kebijakan/aktivitas yang berpotensi menyentuh aspek kepatuhan, monitoring-evaluasi berkala, serta sosialisasi dan pelatihan rutin untuk karyawan dan mitra.
Secara teknologi, KITB sudah menggunakan platform E-GRC yang terintegrasi dengan holding Danareksa. “Sistem ini membuat pelaporan GRC lebih andal, mengurangi kerja manual, dan mempercepat pengambilan keputusan,” jelas Agung.
Pemenuhan ESG
KITB mengedepankan kurasi tenant atau investor dengan mengacu pada dokumen SHIELD (Sheet for Investment, Engineering, and Logistic Development) sehingga hanya pelaku industri yang memenuhi kriteria hijau dan tata kelola yang baik yang akan diterima. “Kami sangat mengkurasi tenant agar sejalan dengan visi kawasan hijau. Jadi tidak sembarang industri bisa masuk,” tegas Agung.
Satu prestasi yang ditorehkan manajemen KITB adalah berhasil menggandeng masuknya produsen energi terbarukan asal Amerika Serikat, SEG Solar yang memproduksi panel fotovoltaik dengan volume 5 GW dengan nilai investasi mencapai Rp 8 triliun. Ini menjadi produsen panel fotovoltaik terbesar se-Asia Tenggara. “Investasi ini juga sebagai wujud dukungan transisi menuju energi hijau dan rendah karbon,” kata Agung.
Pada level operasional, panel surya dimanfaatkan untuk penerangan jalan dan rumah susun; EV charging dan kendaraan listrik mulai digunakan; dan gas bumi diintegrasikan sebagai sumber energi—dengan dukungan Renewable Energy Certificate (REC).
KITB juga menerapkan teknologi IPA/IPAL ramah lingkungan, monitoring kualitas lingkungan dilakukan real-time melalui command center. KITB juga mendorong gerakan pembersihan lingkungan dan peningkatan kapasitas SDM masyarakat sekitar untuk menciptakan multiplier effect.
Komitmen transparansi juga diwujudkan melalui penerbitan Laporan Tahunan dan Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report) yang komprehensif. “Bahkan sebelum holding memiliki pedoman ESG, kami sudah menyusun pedoman ESG sendiri. Kami ingin standar kami jelas dan terukur sejak awal,” ujar Agung.
Di luar kinerja finansial dan kepatuhan, KITB juga mengantongi rekognisi eksternal. Antara lain, predikat Wajib Pajak dengan Kontribusi Terbesar di KPP Pratama Batang tahun 2024, serta Top CSR Awards yang naik kelas dari Bintang 3, hingga bintang 4 dan bintang 5 dalam beberapa tahun terakhir.
Berkat kinerja GRC dan berbagai prestasinya tersebut, KITB untuk pertama kalinya terpilih menjadi kandidat peraih TOP GRC Awards 2025.
