Jakarta, TopBusiness – PT Sumsel Energi Gemilang (Perseroda) menilai penting terhadap pemahaman governance, risk management and compliance atau GRC pada sebuah entitas bisnis. Apabila tak diterapkan akan menjadi penghalang untuk terus bertumbuh.
Saat sesi pemaparan materi presentasi bertema Building Resilient Future through ESG & GRC, Direktur Utama Sumsel Energi Gemilang, Wahyu Setiaji, menilai bahwa pemahaman soal GRC dalam suatu entitas bisnis terkhusus bidang minyak dan gas merupakan sesuatu hal yang penting.
Dia menyatakan bahwa GRC merupakan sebuah konsep yang terbilang baru. “Kita terus terang yang namanya ini ‘kan bicara GRC. Itu adalah sesuatu yang baru, walaupun mungkin yang namanya GCG atau good corporate governance itu sudah sudah lama, dari tahun 90-an sampai tahun 2020 sudah mulai,” kata dia di hadapan Dewan Juri TOP GRC Awards 2023, di Jakarta, berlangsung secara dalam jaringan melalui aplikasi rapat zoom.
Lalu dia mengatakan soal kepatuhan atau compliance terhadap beragam regulasi yang ada. Itu dilakukan untuk menghindari celah kecurangan. “Oleh karena itu, pemahaman-pemahaman itu menjadi penting dan kita mulai mengerti apa itu GRC. Yang pertama yang harus kita lakukan adalah compliance. Itu adalah nomor satu. Karena apa-pun perusahaan itu berlangsung, kalau tidak compliance atau tidak regulasi pasti akan menjadi persoalan hukum, seberapa besar apa-pun laba yang dihasilkan. Itu tidak ada artinya kalau tidak compliance,” ungkap dia.
Lalu dia menjelaskan tentang bagaimana mengelola risiko yang merupakan bagian dari upaya secara hati-hati untuk mengendalikan roda bisnis perusahaan. “Kemudian yang namanya risk management. Itu juga kita belajar dari masa lalu bahwa prudent menjadi nomor satu. Jadi yang namanya risk management, itu adalah sesuatu yang harus dilakukan,” tutur dia.
Selanjutnya Wahyu menjelaskan soal tata kelola. “Lalu, tata kelola pun kita coba untuk perbaiki semuanya. Dan kita melangkahnya dengan suatu optimisme, Insya Allah,” ujarnya.
Wahyu pun mengakui bahwa di Sumsel Energi Gemilang belum secara utuh mengimplementasikan risk management karena masih belum diformulasikan. Karenanya, perseroda tengah bekerja sama dengan pemangku kepentingan untuk menuntaskan dokumen. “Risk management, ini memang kebetulan. Kalau kami jujur. risk management masih terus kita formulasikan dibantu dengan BPKP. Bagaimana menerapkannya? Kita sih modul-modulnya sudah ada, lalu kita tinggal mengimplementasikan itu,” kata dia.
Dirinya menegaskan perseroda tetap berusaha melaksanakan dengan dimulai melalui pemahaman tentang GRC. “Memang dalam penerapan GRC ini, yang pertama memahami saja itu tidak mudah, gitu ya. Upaya, minimal dari pejabat struktural yang di level 1, itu paham semua. Lalu setelah memahami, kemudian tentu kita harus membuat dokumen yang menjadi pegangan. Ini juga kita lakukan, dan itu juga tidak mudah,” kata Wahyu.
Dijelaskan, perseroda melakukan kerja sama dengan BPKP untuk konsep risk management dan tetap menjalankan nilai-nilai GRC secara terkendali. “Dan di sini BPKP yang berperan yang sangat baik membantu kita. Dan yang terakhir adalah implementasikan. Jadi sampai poin ketiga, ini juga kita masih banyak hal yang belum sempurna untuk dilaksanakan. Bahkan dokumennya ada yang belum lengkap. Namun demikian kita selalu ada SPI (Satuan Pengawas Intern) yang selalu mengevaluasi pelaksanaan itu semua. Jadi kembali ada tiga ya bahwa kita memahami, kita kemudian membuat bukunya dan melaksanakan, kemudian mengevaluasi ini kita lakukan terus-menerus dengan di bawah pengawasan ataupun kendalinya ada di SPI”, pungkas dia.
