Jakarta, TopBusiness – PT Patra Drilling Contractor (PDC), anak usaha PT Pertamina (Persero) dalam sektor jasa penunjang energi, menegaskan bahwa penerapan Governance, Risk, and Compliance (GRC) telah menjadi bagian integral dari strategi perusahaan. Langkah ini juga telah membuktikan, GRC mendorong kinerja yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.
Dalam ajang penjurian Top GRC Awards 2025, Jinoko Simbolon dari Legal & Compliance PDC menyampaikan, implementasi GRC di PDC bukanlah sekadar formalitas, melainkan telah menjadi DNA perusahaan.
“GRC bagi PDC bukan hanya sekadar formalitas, tetapi merupakan bagian dari DNA perusahaan dalam mendukung keberlanjutan bisnis, meningkatkan kepercayaan stakeholder, dan menjaga reputasi perusahaan,” ujar Jinoko Simbolon, di depan dewan juri TOP GRC Awards 2025 itu.
Dalam proses penjurian yang diselenggaran secara daring pada Selasa (26/8/2025) itu, hadir mendampingi Jinoko Adalah Muhammad Ariq Irfan dari Strategic Planning & Portofolio Management, Indah Purnama Khairani dari Risk Management, dan Sarah dari Legal Compliance.
Jinoko menambahkan, dalam rangka memperkuat penerapan GRC, PDC juga telah mengimplementasikan berbagai kebijakan strategis seperti Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) yang tersertifikasi ISO 37001 dan penguatan sistem pelaporan pelanggaran (Whistleblowing System) yang terintegrasi dengan holding Pertamina.
“Penilaian GCG oleh pihak eksternal juga menunjukkan hasil yang positif, dengan skor 82,78 dan kategori ‘Baik’,” kata dia.
Integrasi antara GRC dengan strategi serta aktivitas Perusahaan dalam konteks ESG, lanjutnya, juga memiliki dampak yang signifikan terhadap keberlangsungan aktivitas bisnis dan pencapaian target RJPP dan RKAP PDC.
Dengan adanya GRC dan ESG, disebut Jinoko, maka perseroan dapat dikelola sesuai dengan tata kelola perusahaan yang baik dan terhindar dari pelanggaran hukum dan kepatuhan terhadap peraturan, efisiensi biaya, mitigasi risiko yang baik, pengelolaan dampak lingkungan, sehingga meningkatkan reputasi perusahaan yang semakin baik bagi stakeholder serta mendapatkan keunggulan kompetitif dalam persaingan usaha.
“Komitmen PDC dalam mengimplementasikan GRC dan ESG tersebut juga merupakan komponen yang terintegrasi dari operational excellence PDC. Ini sebagai bentuk kontribusi terhadap Sustainable Goals (SDGs), sehingga dengan adanya implementasi GRC, ESG dan SDGs yang terkelola dengan baik akan menjadi solusi untuk pertumbuhan dan keberlanjutan perusahaan sesuai dengan prinsip-prinsip GRC, ESG dan SDGs,” sebut dia.
Sebuat dia, langkah-langkah di GRC tersebut menunjukkan bahwa integrasi GRC bukan hanya memperkuat kepatuhan, tetapi juga menjadi motor penggerak kinerja positif dan keberlanjutan jangka panjang bagi perusahaan.
Untuk diketahui, PDC memiliki visi, ‘Menjadi salah satu perusahaan penyedia jasa penunjang terbaik dalam industri energi di Indonesia.’ Dengan misi, ‘Menyediakan pelayanan terbaik kepada pelanggan dengan standar HSSE dan keunggulan operasional kelas dunia untuk mencapai kepuasan Pelanggan, Pemegang Saham dan Pekerja.’
Perseroan memiliki aktivitas bisnis adalah, pertama, EPC (Engineering, Procurement, Construction), unit bisnis ini khususnya EPC Pipeline termasuk penggunaan teknologi Horizontal Directional Drilling (HDD) yang sangat dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan dalam kelompok usaha Pertamina.
Kedua, Operation & Maintenance Services, untuk fasilitas produksi minyak dan gas di Indonesia. Ketiga, Outsourcing Management, untuk menyediakan dan mengelola Manpower serta jasa Service Contract atau kebutuhan Technical Expert guna memenuhi kebutuhan baik di Offshore, Onshore dan Office.
Keempat, Food & Lodging Services (FLS) yaitu, menyediakan jasa FLS termasuk pelayanan housekeeping dan laundry. Jasa ini terutama ditujukan untuk melayani pekerja lapangan migas dan panas bumi baik di Offshore maupun Onshore.
Kelima, Transport & Logistic Warehouse, yaitu untuk mendukung operasional rig di lapangan migas, PDC menyediakan usaha penyewaan Heavy Transport Equipment, Light Vehicle serta penyediaan Open Yard dan Building. Dan keenam, General Trading & Services, menyediakan material-material yang dibutuhkan dalam usaha minyak dan gas bumi, Chemical Services dan Marine Services (Penyewaan Oil Boom untuk penanggulangan tumpahan minyak) serta ICT Business Solution.
“Dalam rangka menghadapi tantangan dan memposisikan PDC untuk mengoptimalkan potensi yang ada, PDC telah menetapkan Strategic Direction yang memiliki sembilan fokus utama, yaitu Resource Optimization Through Synergy Pertamina Drilling Group, Business Diversification Strategy, End to End Well Construction Project Integration, One Stop Solution Oil & Gas Equipment Trading, OTOBOSOR Project, Strengthening Working Capital, Sustainability Through HSSE Excellence, Procurement Excellence to Support Efficient Business Process, dan Adaptive Digitalization & Integration,” beber dia.
Menjadi Pionir
Dalam proses penjuria kali ini, Jinoko membeberkan banyak keberhasilan implementasi GRC di PDC, termasuk dampak positifnya terhadap kinerja bisnis dan keuangan yang terbukti menggenjot profitabilitas. Termasuk soal Compliance Management System (CMS) ISO 37301.
Ini tentu yang salah satu yang hebat dari PDC. Kata Jinoko, PDC berkomitmen untuk menjadi pionir dalam mengimplementasikan CMS ISO 37301 di lingkungan Pertamina Grup, yang ditargetkan mulai dijalankan tahun 2025.
“Kami sedang dalam proses setting up sistem Compliance Management ISO 37301. Ini akan menjadi terobosan baru dan kami berharap PDC menjadi pelopor dalam implementasinya di Pertamina Group,” tambah dia.
Sebutnya, di tengah semakin ketatnya regulasi dan tuntutan transparansi di sektor energi, PDC telah siap mengambil langkah progresif dengan mulai mengimplementasikan CMS berdasarkan standar internasional ISO 37301 tersebut. Langkah ini menjadikan PDC sebagai pelopor di lingkungan Pertamina Group, bahkan di antara perusahaan jasa energi nasional lainnya.
ISO 37301 adalah standar global untuk sistem manajemen kepatuhan yang dirilis oleh International Organization for Standardization (ISO). Berbeda dengan ISO 37001 yang fokus pada anti penyuapan, ISO 37301 menyediakan kerangka menyeluruh untuk mengelola seluruh aspek kepatuhan, termasuk hukum, regulasi, kode etik, dan kebijakan internal.
Standar ini menekankan integrasi kepatuhan dalam strategi dan proses bisnis, serta penguatan budaya etis di seluruh organisasi. ISO 37301 juga mendorong pendekatan risk-based thinking, yang sangat selaras dengan prinsip tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan (GRC).
Langkah PDC dalam mengadopsi ISO 37301 mencerminkan keseriusan perusahaan dalam menjadikan GRC sebagai keunggulan strategis, bukan sekadar kewajiban administratif.
Kinerja Bisnis
Implementasi GRC, kata dia, telah terbukti berimplikasi positif ke kinerja Perusahaan. Menurutnya, GRC telah diintegrasikan dengan strategi dan operasional perusahaan untuk menciptakan nilai tambah, efisiensi, dan kepatuhan terhadap regulasi.
Hal ini tercermin dari capaian kinerja keuangan PDC yang tetap tumbuh positif di tengah penurunan pendapatan.
Tercatat, per akhir 2024, laba bersih perusahaan naik menjadi Rp128 miliar, dibandingkan Rp113 miliar pada tahun sebelumnya, meskipun pendapatan turun dari Rp3,30 triliun pada 2023 menjadi Rp2,88 triliun di akhir 2024.
“Kenaikan laba ini dikaitkan dengan efisiensi biaya, diversifikasi bisnis, dan penguatan tata kelola yang dijalankan melalui pendekatan GRC,” kata Jinoko, pasti.
Sementara jumlah asset mencapai Rp1,72 triliun di 2024 naik dari tahun sebelumnya di Rp1,68 triliun. Dengan liabilitas yang menurun dari 1,03 triliun menjadi Rp965,15 miliar. Dan ekuitas di posisi Rp763,93 miliar dari tahun sebelumnya di angka Rp646,44 miliar.
