Jakarta, TopBusiness—Asia Tenggara terus menjadi pasar penting sekaligus berkembang pesat bagi ekspor pertanian Amerika Serikat (AS). Pada tahun pemasaran 2023/2024, kawasan ini mengimpor sekitar 9,08 juta metrik ton (mmt) kedelai utuh dan 20,89 mmt bungkil kedelai, cerminan tingginya permintaan dari sektor pangan ataupun pakan.
Asia Tenggara terus menjadi kawasan penting bagi pertumbuhan kedelai AS. “Hal ini didorong oleh meningkatnya permintaan, kelas menengah yang berkembang, dan konsumsi protein yang kian besar,” ujar U.S. Soybean Export Council (USSEC) Regional Director, Southeast Asia and Oceania, Timothy Loh.
Ia mengatakan itu dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi Majalah TopBusiness, hari ini.
“Melalui kemitraan jangka panjang dan komitmen bersama terhadap inovasi dan keberlanjutan, kami menghadirkan nilai bagi kawasan ini sekaligus membantu membangun masa depan yang lebih aman dan tangguh bersama,” kata dia.
Di antara negara di kawasan, Indonesia menonjol sebagai importir terbesar kedelai AS untuk kebutuhan pangan, menunjukkan posisi strategis negara ini bagi produsen AS.
Permintaan konsumen yang kuat serta budaya kuliner yang lekat dengan pangan berbahan kedelai seperti tempe dan tahu menjadi pendorong utama impor kedelai.
“Sementara itu, kebutuhan protein yang terus meningkat membuka peluang baru bagi bungkil kedelai Amerika untuk sektor pakan,” kata Loh.
