Jakarta, BusinessNews Indonesia—Pengamat ekonomi Rizal Ramli mengatakan di Jakarta kemarin sore (10/1/2018) bahwa, dalam dua-tiga tahun ke depan, ekonomi Indonesia bisa saja tumbuh di atas 6%. Atau, malah 10% setelah berlalunya masa dua-tiga tahun tersebut.
“Tetapi, dengan sejumlah syarat yang harus dilakukan,” kata Rizal dalam sebuah diskusi yang digelar oleh alumni FISIP Universitas Indonesia angkatan 1978.
Dia menjelaskan, untuk mencapai pertumbuhan tersebut, pemerintah Indonesia harus menjalankan kebijakan yang tepat dan efisien. “You can change country by policy. Hal seperti inilah yang dilakukan Jepang,” kata mantan menteri koordinator perekonomian RI ini.
Satu hal yang bisa dilakukan adalah memompa pertumbuhan kredit. Pertumbuhan ekonomi tinggi tercapai ketika pertumbuhan kredit di kisaran 15% . Ketika masih berkisar 8%, adalah sulit mencapai pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. “Tetapi, tentu saja penyaluran kredit harus tetap prudent,” ucapnya.
Lebih lanjut, Rizal menjelaskan bahwa terkait pemompaan kredit, satu hal yang bisa digelar adalah PNM bisa memberikan kredit senilai Rp 2 juta sampai Rp 3 juta, ke ibu rumah tangga. Dengan demikian, ekonomi bisa lebih tumbuh.
“Kalau kredit itu diberikan ke suaminya, uangnya tidak berwujud. Tetapi lain halnya kalau diberikan ke ibu rumah tangga,” kata dia berseloroh.
Hal lain, sekuritisasi aset BUMN (badan usaha milik negara) bisa digelar intensif. Dari situ, ada dana segar yang bisa ditarik lebih dulu dengan menjaminkan aset ataupun pendapatan. “Tetapi, hal ini memang sering menjadi kontroversi. Dibilang bahwa kita menjual aset negara, dan lain-lain.”
Revaluasi aset BUMN pun perlu dilakukan. Karena dengan nilai aset yang lebih tinggi setelah revaluasi, BUMN lebih leluasa melakukan aksi menarik dana dengan sejumlah cara.
“Kalau APBN, itu memang sebagusnya fokus di infrastruktur seperti yang dilakukan Pak Jokowi sekarang. Tetapi ya bagusnya infrastruktur di luar Pulau Jawa yang dapat prioritas,” tegas Rizal lagi.
