Jakarta, TopBusiness – Di tengah gempuran digitalisasi dan perubahan dunia kerja yang cepat, PT Macananjaya Cemerlang —perusahaan percetakan asal Klaten yang dikenal sebagai satu grup dengan penerbit besar Intan Pariwara— berhasil membuktikan diri sebagai salah satu perusahaan manufaktur yang serius menempatkan human capital sebagai pusat strategi bisnisnya.
Suryo Adityo, Head of HRD & GA PT Macananjaya Cemerlang, menjadi sosok di balik penguatan sistem Human Capital Management System (HCMS) yang kini diakui berperan besar dalam daya saing perusahaan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa HR bukan sekadar pengelola administrasi, tapi mitra strategis yang ikut menuntun arah bisnis,” tutur Suryo dalam wawancara penjurian TOP Human Capital Awards yang digelar Majalah TopBusiness secara daring, Rabu (22/10/2025).
PT Macananjaya Cemerlang lahir pada tahun 1991, awalnya hanya mencetak buku untuk grup internal Intan Pariwara. Namun, krisis moneter 1998 menjadi titik balik. Perusahaan memperluas pasar hingga ke percetakan umum, termasuk Al-Qur’an, Iqra, kalender, hingga produk berbahan dasar kertas lain.
Kini, kapasitas produksinya membentang di lahan seluas 7,4 hektare dengan fasilitas canggih, mulai dari mesin cetak webasal Jerman hingga sheet-fed lima warna.
Namun, Suryo menegaskan, kekuatan utama perusahaan bukan sekadar pada mesin atau produksi besar-besaran, melainkan pada manusia di baliknya.
“Perubahan paling fundamental yang kami lakukan adalah menggeser paradigma: dari mengelola pegawai menjadi mengelola talenta. Itulah roh dari sistem Human Capital Management yang kami bangun.”
Di bawah sistem HCMS, perusahaan mengintegrasikan seluruh aspek SDM, mulai dari perencanaan tenaga kerja, pengembangan kepemimpinan, manajemen kinerja, hingga succession plan. Tujuannya jelas: menciptakan SDM yang tangguh, adaptif, dan sejalan dengan arah bisnis perusahaan.
HCMS Sebagai Mesin Strategi Bisnis
Implementasi HCMS di PT Macananjaya Cemerlang dibangun di atas tiga fondasi: atribut inti, atribut pilar, dan atribut penggerak.
Atribut inti mencakup tujuan fundamental perusahaan (purpose), nilai-nilai dasar (core values), serta keunggulan kompetitif melalui strategi branding SDM. Nilai yang dipegang kuat adalah “PRINT”—singkatan dari Passion, Respect, Integrity, Teamwork.
Atribut pilar berisi strategi pengembangan SDM melalui leadership development, succession plan, dan performance management. Setiap karyawan memiliki target terukur yang dikaitkan langsung dengan target unit kerja dan perusahaan. Evaluasi dilakukan secara transparan dan terukur, dilengkapi sistem penghargaan bagi yang berprestasi.
Sementara itu, atribut penggerak menitikberatkan pada komunikasi SDM, tata kelola, dan analitik berbasis data. “Kami mengembangkan People Analytics agar pengambilan keputusan HR tak lagi berbasis asumsi, tapi berdasarkan data konkret,” jelas Suryo.
HCMS juga mengubah peran HR menjadi business partner sejati. HR kini terlibat dalam perencanaan strategis, memastikan setiap perubahan bisnis memiliki dampak positif terhadap pengembangan karyawan. “Kami bukan lagi sekadar mencatat cuti, tapi ikut menyusun strategi perusahaan,” ujarnya.
Talent Mobility dan Regenerasi SDM
Salah satu implementasi nyata HCMS di PT Macananjaya Cemerlang adalah talent mobility—mekanisme rotasi, promosi, dan mutasi lintas fungsi atau lintas perusahaan dalam grup.
“Di tempat kami, mobilitas talenta bukan sekadar pindah posisi, tapi cara untuk memperkaya pengalaman dan menyiapkan kader masa depan,” ujar Suryo.
Ada dua jalur utama yang dijalankan: vertical movement (promosi naik jabatan) dan lateral movement (mutasi antar divisi). Sistem ini memberi peluang bagi karyawan HR berpindah ke divisi marketing, atau karyawan produksi mencoba peran di bidang keuangan. “Kami ingin karyawan terbiasa lintas fungsi. Dunia kerja sekarang menuntut multitasking,” tambahnya.
Selain itu, PT Macananjaya Cemerlang rutin memberikan beasiswa pendidikan untuk jenjang S1 dan S2 bagi karyawan tetap yang berprestasi. Mereka yang lulus seleksi akan mendapat dukungan penuh biaya kuliah, dengan ikatan dinas tertentu setelah menyelesaikan studi.
“Kami ingin mereka berkembang, tapi juga tetap berkontribusi untuk perusahaan,” ujar Suryo.
Dalam sistem pengembangan SDM, perusahaan menggunakan pendekatan 70-20-10.
Sebanyak 70 persen pembelajaran berasal dari aktivitas proyek, penugasan, dan internship; 20 persen dari mentoring, pelatihan, dan benchmarking; dan 10 persen dari digital learning serta sertifikasi.
“Kami tidak ingin karyawan hanya belajar di ruang kelas. Mereka harus belajar dari pekerjaan dan tantangan sehari-hari,” ujar Suryo.
Setiap tahun, HR melakukan learning need analysis untuk memetakan kebutuhan pelatihan. Program ini tak hanya menyasar karyawan level bawah, tetapi juga supervisor hingga direksi. “Leadership training kami adakan setiap bulan bersama grup Intan Pariwara. Kami ingin setiap level memahami tanggung jawab kepemimpinan,” ujarnya.
Wellbeing, Kunci Produktivitas
Suryo percaya bahwa produktivitas tak akan bertahan tanpa kesejahteraan. Karena itu, perusahaan menerapkan program employee wellbeing yang menyentuh enam aspek utama: fisik, mental, lingkungan, intelektual, finansial, dan spiritual.
Program fisik mencakup olahraga rutin dan pelatihan K3. Untuk mental, perusahaan menyediakan coaching dan counseling gratis bagi karyawan yang menghadapi tekanan kerja.
“Bahkan masalah pribadi pun bisa kami bantu. Kami ingin setiap orang merasa aman dan dihargai,” ujar Suryo.
Perusahaan juga aktif membina hubungan dengan masyarakat sekitar dan UMKM lokal. “Kami tumbuh di Klaten, jadi harus membawa dampak bagi lingkungan sekitar,” katanya.
Tak kalah penting, ada program literasi finansial untuk mengatasi maraknya pinjaman online. “Kami bekerja sama dengan bank lokal untuk memberi pelatihan pengelolaan keuangan. Kalau ada kasus pinjol, kami bantu selesaikan tanpa mempermalukan karyawan,” ungkapnya.
Digitalisasi HR dan HRIS Internal
Digitalisasi menjadi bagian tak terpisahkan dari transformasi SDM. PT Macananjaya Cemerlang membangun sistem HRIS (Human Resource Information System) secara mandiri, dikembangkan langsung oleh tim IT internal.
“Sistem ini memuat semua data: absensi, cuti, izin, hingga status BPJS dan saldo JHT,” jelas Suryo.
Sistem HRIS ini juga akan terintegrasi dengan Dinas Tenaga Kerja untuk memudahkan proses klaim pensiun dan manfaat sosial. “Kami ingin setiap karyawan bisa akses semua data dirinya tanpa harus bolak-balik mengurus berkas,” katanya.
Tak hanya administratif, sistem digital ini juga membantu HR dalam analisis performa dan workforce planning. “Kami bisa tahu beban kerja tiap divisi secara real-time, jadi keputusan soal efisiensi atau rekrutmen bisa lebih akurat,” tambahnya.
Perubahan tren dari buku fisik ke e-book menjadi tantangan baru bagi industri percetakan. Namun, menurut Suryo, perusahaan sudah menyiapkan langkah antisipatif.
“Sebagian klien memang beralih ke e-book, tapi ternyata banyak yang tetap membutuhkan buku fisik. Kami menjaga efisiensi SDM agar biaya produksi tetap kompetitif,” ujarnya.
Langkah yang diambil antara lain optimalisasi beban kerja dan efisiensi operasional. “HC memainkan peran penting di sini—bagaimana menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesejahteraan,” katanya.
Untuk menjawab kelangkaan tenaga terampil, PT Macananjaya Cemerlang membuka pelatihan operator cetak gratis bagi lulusan baru SMK dan DKV. Program ini berlangsung selama satu tahun.
“Kalau lulusannya bagus, langsung kami rekrut,” ujar Suryo.
Menurutnya, inisiatif ini bukan hanya soal rekrutmen, tapi strategi jangka panjang untuk menjaga regenerasi industri percetakan. “Skill operator cetak itu langka. Kami harus mencetak sendiri tenaga yang siap kerja,” tegasnya.
Tantangan Global dan Ekspansi Pasar
Selain pasar dalam negeri, Macananjaya Cemerlang telah menembus pasar ekspor sejak 2018. Produk stationeryperusahaan ini kini dikirim hingga ke New South Wales, Australia.
“Kami juga rutin ikut pameran buku di Frankfurt, Filipina, dan akan ekspansi ke Dubai untuk pasar Timur Tengah,” ujar Suryo.
Perusahaan juga menyiapkan English Day tiap Sabtu untuk melatih kemampuan bahasa karyawan. “Kami sadar ekspor butuh SDM yang bisa berkomunikasi global. Pelatihan bahasa jadi investasi jangka panjang,” tambahnya.
Perjalanan PT Macananjaya Cemerlang membuktikan bahwa keberhasilan bisnis bukan hanya soal mesin dan produksi, melainkan tentang manusia di baliknya.
Melalui penerapan sistem Human Capital Management yang terukur dan berkelanjutan, perusahaan ini berhasil membangun budaya kerja yang profesional, sehat, dan produktif.
“Kami ingin setiap karyawan merasa bahwa mereka bukan hanya bekerja di sini, tapi bertumbuh bersama perusahaan. Karena pada akhirnya, bisnis yang hebat dibangun oleh manusia yang hebat,” tutup Suryo Adityo.
