Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah tajam pada perdagangan Kamis (29/01/2026). Pada sesi pembukaan, IHSG anjlok 357,76 poin atau 4,30 persen ke posisi 7.962,79.
Sejalan dengan pelemahan IHSG, indeks saham unggulan LQ45 turut tertekan. Kelompok 45 saham berkapitalisasi besar dan likuid tersebut turun 33,48 poin atau 4,12 persen ke level 779,05.
Tekanan jual langsung mendominasi pasar sejak awal perdagangan. Seluruh indeks sektoral terpantau bergerak di zona merah, dengan sektor teknologi, keuangan, dan barang baku mencatatkan pelemahan terdalam.
Secara rinci, sektor teknologi terkoreksi paling dalam seiring aksi ambil untung dan sentimen negatif global terhadap saham-saham berbasis pertumbuhan. Sementara itu, sektor keuangan ikut tertekan akibat kekhawatiran investor terhadap ketatnya likuiditas dan potensi perlambatan ekonomi global.
Aktivitas perdagangan saham terpantau cukup ramai. Hingga menit-menit awal perdagangan, nilai transaksi tercatat mencapai triliunan rupiah dengan volume perdagangan ratusan juta saham. Namun, tekanan jual terlihat lebih dominan, tercermin dari jumlah saham yang melemah jauh lebih banyak dibandingkan saham yang menguat.
Analis pasar modal menilai pelemahan tajam IHSG dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari global, pasar masih dibayangi kekhawatiran kebijakan moneter ketat bank sentral utama dunia, terutama terkait arah suku bunga Amerika Serikat yang berpotensi bertahan tinggi lebih lama. Kondisi tersebut mendorong investor global mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang.
Selain itu, volatilitas pasar regional Asia turut memberikan tekanan pada pergerakan IHSG. Bursa saham utama di kawasan Asia tercatat bergerak melemah, seiring meningkatnya aversi risiko investor terhadap ketidakpastian ekonomi global dan geopolitik.
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga masih mencermati sejumlah data ekonomi serta kinerja emiten yang dinilai belum sepenuhnya memberikan katalis positif dalam jangka pendek. Kondisi ini membuat investor cenderung bersikap wait and see sambil melakukan penyesuaian portofolio.
Meski demikian, pelaku pasar diharapkan tetap mencermati perkembangan selanjutnya sepanjang perdagangan hari ini. Analis menilai peluang teknikal rebound masih terbuka, meskipun volatilitas diperkirakan tetap tinggi.
Investor disarankan untuk tetap berhati-hati, mencermati sentimen global, serta selektif dalam memilih saham, terutama pada emiten dengan fundamental kuat dan prospek kinerja yang stabil di tengah dinamika pasar yang masih penuh tekanan.
