TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Kontribusi PAD Meningkat di Tengah Cakupan Terbatas, Ini Strategi Hebat Delta Tirta Sidoarjo

Busthomi
29 January 2026 | 09:00
rubrik: BUMD, Event
Kontribusi PAD Meningkat di Tengah Cakupan Terbatas, Ini Strategi Hebat Delta Tirta Sidoarjo

FOTO: TopBusiness

Jakarta, TopBusiness – Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Delta Tirta Sidoarjo terus memperkuat tata kelola perusahaan dan transformasi digital sebagai fondasi utama dalam meningkatkan kinerja bisnis sekaligus kualitas layanan air bersih kepada masyarakat.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam menghadapi tantangan keterbatasan cakupan layanan, tingginya kehilangan air, serta potensi krisis air bersih di masa depan.

Hal tersebut disampaikan Direktur Utama Perumda Delta Tirta Sidoarjo, Ir. Dwi Hary Soeryadi, M.M.T., dalam sesi penjurian TOP BUMD Awards 2026 yang digelar majalah TopBusiness, dengan mengusung tema “Tata Kelola dan Digitalisasi dalam Membangun Kinerja Bisnis dan Layanan Perumda Delta Tirta Sidoarjo.”

“Paparan tahun 2026 ini kami fokuskan pada bagaimana tata kelola dan digitalisasi menjadi kunci dalam membangun kinerja bisnis dan meningkatkan layanan Perumda Delta Tirta Sidoarjo,” ujar Dwi Hary di hadapan dewan juri saat mengikuti penjurian TOP BUMD Awards 2026, secara daring, Rabu (28/1/2026).

Ia menambahkan, upaya perbaikan berkelanjutan tersebut melanjutkan capaian perusahaan yang sebelumnya berhasil meraih Bintang 5 TOP BUMD Awards 2025 lalu.

Hadir mendampingi Dirut yakni, Bagus Devan Widartanto, S.E.I (Kepala Satuan Litbang); Muhammad Ali Abdurrosyid, S.T. (Manager ATR); ⁠Taufik Hidayat, S.T. (Manager Keuangan); ⁠Achmad Arief Prabowo (Plt. Manager SDM); dan ⁠Nadia Ratih – Sekretaris Perusahaan.

Kinerja dan Tantangan

Berdasarkan hasil audit BPKP Tahun 2024, Perumda Delta Tirta Sidoarjo mencatat skor kinerja 3,18. Sementara audit tahun buku 2025 masih dalam proses.

Dari sisi operasional, jumlah pelanggan tercatat 186.349 sambungan, dengan sekitar 37.745 pelanggan tidak aktif. Cakupan layanan air minum masih berada di angka 35,09 persen, sementara tingkat kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW) masih cukup tinggi, yakni 34,06 persen.

“Cakupan layanan kami masih 35 persen, dan NRW saat ini masih 34 persen. Ini menjadi tantangan utama yang terus kami benahi,” ungkap Dwi Hary.

BACA JUGA:   PUDAM Sumber Sejahtera Bangkalan Ikuti TOP BUMD Awards 2026, Menatap Kinerja Terbaik di Jawa Timur

Meski demikian, kualitas air minum yang disalurkan telah memenuhi standar air bersih, dengan layanan rata-rata 24 jam per hari kepada para pelanggannnya.

Dan untuk menjawab tantangan tersebut, Delta Tirta Sidoarjo konsisten mengembangan digitalisasi untuk mengatasainya. Saat ini, Perumda mulai menjalankan pilot project pemanfaatan sistem Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) sebagai upaya menekan kehilangan air dan meningkatkan efisiensi distribusi.

“Kami mencoba melakukan pilot project menggunakan SCADA, yang kami harapkan dapat menurunkan tingkat kehilangan air yang saat ini masih cukup tinggi,” jelasnya.

Dia menjelaskan, program pilot project berkelanjutan itu adalah DMA Shoji Land pemasangan meter digital PRV Loger dengan menggunakan teknologi SCADA untuk penurunan NRW itu.

“Investasi di SCADA ini memang kami anggakan tahun 2026 lumayan besar dibanding sebelumnya. Tahun lalu hanya Rp2 miliar untuk tahun ini kita coba bisa maksimal di Rp12 miliar. Sehingga harapannya ada tiga atau lima wilayah yang bisa kami tanam SCADA. Sehingga bisa terus turun (NRW),” katanya.

Sementara untuk mengatasi tantangan cakupan pelayanan yang masih kecil, Perumda Delta Tirta akan melakukan pemasangan jaringan distribusi baru untuk menjangkau calon pelanggan yang belum ada jaringan, melalui kerja sama B to B dengan pihak ketiga.

Selanjutnya, Perumda juga akan melakukan upgrating IPA yang ada dan pembangunan IPA baru dalam rangka mengatasi terbatasnya produksi air.

Selain itu, digitalisasi juga diterapkan secara menyeluruh melalui pengembangan Enterprise Resource Planning (ERP) yang telah diimplementasikan sejak 2021. Sistem ini mencakup modul pasang baru, keuangan, SDM, tata usaha, pergudangan, hingga monitoring dan evaluasi.

“ERP sudah kami implementasikan sejak 2021 dan terus berkembang. Saat ini hampir seluruh proses internal perusahaan sudah terintegrasi,” kata Dwi Hary.

Menariknya, seluruh sistem teknologi informasi tersebut merupakan hasil pengembangan internal Perumda Delta Tirta. “Semua sistem teknologi informasi yang kami gunakan adalah hasil karya internal Perumda Delta Tirta,” tegasnya.

BACA JUGA:   Semangat Gedung Baru, Perumdam Tirta Makmur Siap Wujudkan Akses Layak dan Aman Air Minum hingga 100%

Salah satu inovasinya adalah pengembangan Aplikasi Pelangi dalam peningkatan layanan. Kata dia, Perumda Delta Tirta telah mengembangkan Aplikasi Pelangi, sebuah platform digital yang memungkinkan pelanggan melakukan pendaftaran sambungan baru, mengecek rekening, melakukan pembayaran, hingga menyampaikan pengaduan melalui ponsel.

“Melalui Aplikasi Pelangi, pelanggan bisa mendaftar, melihat rekening, membayar, dan menyampaikan pengaduan langsung melalui handphone,” ujarnya. Aplikasi ini terbukti memangkas waktu proses pasang baru secara signifikan. Kata dia, sebelumnya bisa memakan waktu satu hingga dua bulan, sekarang bisa diselesaikan pada hari yang sama.

Selain itu, perusahaan juga menyediakan call center 24 jam serta layanan pengaduan melalui WhatsApp, Telegram, dan Instagram, guna mendekatkan layanan kepada masyarakat.

Pendapatan dan Kontribusi PAD Naik

Dari sisi kinerja keuangan, Perumda Delta Tirta mencatat pertumbuhan pendapatan yang konsisten. Total pendapatan meningkat dari Rp288 miliar pada 2021 menjadi sekitar Rp366,35 miliar pada 2024. Jumlah pelanggan pun meningkat menjadi 224.094 pelanggan.

Pertumbuhan tersebut berdampak langsung pada kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sidoarjo. Dari hanya  Rp6,90 miliar di tahun 2021, lalu Rp6,07 miliar (2022), dan meningkat tinggi di 2023 menjadi Rp11,21 miliar, lalu melandai 2024 sebesar Rp8,65 miliar, dan langsung melonjak di 2025 mencapai Rp18,65 miliar.

“Seiring dengan peningkatan laba, kontribusi PAD kepada pemerintah daerah juga meningkat,” kata Dwi Hary.

Namun demikian, ia mengakui besarnya porsi setoran PAD menjadi tantangan tersendiri. “Karena kontribusi PAD itu hampir 40 persen dari laba bersih. Padahal, untuk PDAM dengan cakupan layanan di bawah 85 persen, sebenarnya pemerintah daerah tidak wajib menarik PAD. Namun meskipun cakupan layanan kami baru 35 persen, kami tetap memenuhi kewajiban tersebut,” ujarnya.

Capai FCR

Dwi Hary menjelaskan bahwa struktur pelanggan Perumda Delta Tirta masih didominasi sektor domestik. Saat ini, sekitar 85 persen pelanggannya adalah masyarakat atau domestik, sementara 15 persen merupakan pelanggan niaga dan industry.

BACA JUGA:   Ini Strategi BPR Pekanbaru dalam Meningkatkan Kinerja Keuangan

Di sisi lain, biaya produksi air di Sidoarjo relatif tinggi, sehingga menjadi faktor penekan margin. “Cost of water kami cukup tinggi, dengan biaya dasar sekitar Rp7.500 dan harga jual rata-rata Rp8.000,” jelasnya. Meski demikian, perusahaan berhasil mencapai Full Cost Recovery (FCR) dalam dua tahun terakhir.

Memang tantangan masih tetap ada. Dalam sesi pendalaman, Dwi Hary mengungkapkan bahwa dari 18 kecamatan di Kabupaten Sidoarjo, masih terdapat dua kecamatan yang belum terlayani jaringan air bersih.

“Ada dua kecamatan yang jaringan airnya belum masuk sama sekali. Untuk membangun jaringan tentu membutuhkan biaya yang besar,” ujarnya.

Kondisi tersebut berdampak pada tingginya biaya sambungan baru di wilayah yang belum memiliki jaringan. “Masyarakat berharap biaya sambungan murah, tetapi di wilayah yang belum ada jaringan, biaya menjadi tinggi karena pembangunan jaringan dibebankan kepada pelanggan,” katanya.

Selama ini, masyarakat relatif tidak keberatan dengan biaya sambungan sekitar Rp1,5 juta, namun di wilayah tertentu biaya jaringan menjadi kendala. Bahkan, di beberapa daerah, masyarakat melakukan patungan untuk membiayai pembangunan jaringan.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Perumda Delta Tirta telah melakukan studi kelayakan (FS) pada 2025 dan membuka peluang kerja sama investasi di tahun ini. “Saat ini sudah ada investor yang berminat, dan kami menyiapkan skema kerja sama BOT secara end-to-end, dari hulu hingga hilir,” jelasnya.

Apalagi memang di Sidoarjo sendiri, dia mengingatkan, ada potensi krisis air bersih dalam beberapa tahun ke depan, meskipun pasokan dari Umbulan telah ditambah hingga 1.200 liter per detik.

“Dengan kondisi saat ini, Sidoarjo berpotensi mengalami krisis air bersih dalam beberapa tahun ke depan. Namun dengan adanya investasi itu menjadi solusi kita ke depannya,” kata dia dengan penuh optimistis.

Tags: Perumda Delta Tirta SidoarjoTOP BUMD Awards 2026
Previous Post

Hari Ini, IHSG Diperkirakan Turun

Next Post

IHSG Anjlok 4,30 Persen di Pembukaan Perdagangan Hari Ini

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR