TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Tekanan IHSG Mereda di Akhir Sesi Perdagangan

Agus Haryanto
29 January 2026 | 16:34
rubrik: Capital Market
Bursa Efek Indonesia

Bursa Efek Indonesia (Rendy MR/TopBusiness)

Jakarta, TopBusiness – Di PT Bursa Efek Indonesia, indeks harga saham gabungan atau IHSG pada penutupan perdagangan Kamis (29/01/2026), terkoreksi 88,35 poin atau 1,06 persen ke posisi 8.232,20. Pelemahan ini mencerminkan sentimen negatif kuat di pasar modal Indonesia, setelah beberapa hari sebelumnya indeks mencatatkan tekanan jual yang tajam.

Data perdagangan menunjukkan bahwa total volume saham yang diperdagangkan mencapai hampir 98,79 miliar unit saham, dengan nilai transaksi sekitar Rp 67,82 triliun, serta frekuensi transaksi sebanyak 4,93 juta kali. Kapitalisasi pasar tercatat sekitar Rp 14.950 triliun.

Pergerakan indeks Kamis pagi sempat menunjukkan gejolak besar sejak pembukaan. IHSG dibuka melemah tajam dan sempat turun hingga lebih dari 8% di sesi pagi, yang memicu mekanisme trading halt (pembekuan perdagangan sementara) oleh BEI sebagai upaya menahan volatilitas ekstrem.

IHSG pada sesi awal bahkan sempat berada di bawah level 7.700, sebelum akhirnya pulih tipis menuju penutupan sore. Sentimen pasar juga tercermin dari perubahan jumlah saham yang bergerak: tercatat lebih banyak saham turun (521 saham) dibanding yang menguat (214 saham).

Beberapa saham mencatatkan penurunan signifikan yang turut memberikan tekanan terhadap pergerakan indeks pada hari ini, terutama di saham-saham dengan kapitalisasi besar (blue chips) yang berkontribusi terhadap bobot IHSG maupun indeks LQ45 (45 saham unggulan):

Berdasarkan serangkaian perdagangan beberapa sesi terakhir termasuk pergerakan tahun ini menjelang 29 Januari, sejumlah saham yang sering masuk dalam daftar top losers saat pasar jatuh meliputi:

  • PT XL Axiata Tbk (EXCL) — saham telekomunikasi ini sempat menjadi salah satu saham with large-cap yang menurun signifikan menjelang pelemahan pasar.
  • PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) — sering terlihat di daftar saham dengan koreksi tajam pada periode pelemahan pasar.
  • Saham-saham saham pertambangan / energi dan utilitas besar — mengalami tekanan jual lebih tajam dibanding rata-rata pasar.
BACA JUGA:   Terseret Bursa Regional, IHSG Ditutup Menguat

Sementara itu, saham-saham seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan beberapa saham berbasis komoditas sempat menunjukkan gerakan volatil sebelum hari ini dengan tekanan pasar yang kuat.

Sentimen negatif terbesar datang dari peringatan global terkait pasar modal Indonesia—Morgan Stanley Capital International (MSCI) secara resmi menghentikan sementara proses rebalancing indeksnya terhadap saham Indonesia, mengutip kekhawatiran soal investability (tingkat kemampuan pasar untuk menarik investasi global) terutama terkait free float dan transparansi kepemilikan saham.

Sentimen ini bahkan memicu indeks utama turun hingga 7–8% dalam beberapa sesi terakhir, serta trading halt untuk mencegah volatilitas ekstrem.

Berita dari lembaga internasional juga menunjukkan bahwa beberapa bank investasi besar seperti Goldman Sachs dan UBS telah menurunkan outlook untuk saham Indonesia karena sentimen risiko ini, yang dapat memperburuk aliran modal keluar dari pasar domestik dan mendorong tekanan jual berkelanjutan.

Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih dalam beberapa sesi, memperburuk pelemahan IHSG yang sudah berat. Hal ini dipicu oleh faktor risiko downgrade pasar, yang cenderung membuat dana global yang berpatokan indeks melakukan rebalancing atau keluar dari pasar Indonesia. Pergerakan ini tercatat dalam aliran modal keluar yang signifikan dalam beberapa hari sebelum 29 Januari.

Meski sebagian besar indeks Asia lainnya mencatat penguatan atau stabilitas setelah keputusan bank sentral AS mempertahankan suku bunga, IHSG bergerak di jalur negatif dengan korelasi melemah terhadap pasar regional. Hal ini menunjukkan bahwa dinamika domestik khususnya risiko pasar Indonesia lebih dominan memengaruhi pergerakan IHSG.

(Sumber Data AI)

Tags: ihsgindeks
Previous Post

Kemendag Perketat Tata Kelola Ekspor Karet

Next Post

Perumdam Tirta Albantani Pacu Transformasi Menuju Status Perumda Air Minum Kelas Menengah

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR