Jakarta, TopBusiness – Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Albantani memaparkan strategi transformasi bisnis dan peningkatan kinerja dalam sesi presentasi Penjurian TOP BUMD Awards 2026.
Presentasi disampaikan langsung oleh Direktur Utama Perumdam Tirta Albantani Eli Mulyadi S.E., M.Ak, didampingi Dewan Pengawas Rudy Suhartanto M.Si serta Direktur Teknik dan Produksi Henri Khairudin S.Kom., M.M.
Dalam pemaparannya, Eli Mulyadi menegaskan bahwa Perumdam Tirta Albantani tetap berpegang pada misi utama, yakni menciptakan kehidupan yang lebih baik melalui layanan air minum yang berkualitas.
Motto “Terus Mengalir” menjadi komitmen perusahaan untuk menghadirkan layanan air minum yang memenuhi aspek kualitas, kuantitas, kontinuitas, dan keterjangkauan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Perumdam Tirta Albantani yang merupakan BUMD milik Pemerintah Kabupaten Serang, Banten ini berdiri sejak 1977. Seiring dinamika regulasi, perusahaan tengah memacu peningkatan status kelembagaan dari Perumda Air Minum kategori kecil menjadi kategori menengah, sebagaimana diamanatkan Permendagri Nomor 23 Tahun 2024.
“Target kami pada 2029 adalah mencapai minimal 70 ribu pelanggan rumah tangga agar dapat masuk kategori Perumda menengah. Tahap awal, pada 2027 kami menargetkan 50 ribu pelanggan,” ujar Eli.
Per akhir 2025, jumlah sambungan rumah (SR) Perumdam Tirta Albantani telah mencapai sekitar 31 ribu pelanggan. Untuk mengejar target tersebut, perusahaan menargetkan penambahan minimal 5.000 sambungan baru per tahun, bahkan diupayakan hingga 10.000 sambungan per tahun melalui skema swakelola, kerja sama business to business (B2B), maupun dukungan pemerintah daerah dan pemerintah pusat.
Penataan Keuangan dan Aset
Dari sisi tata kelola keuangan, Perumdam Tirta Albantani melakukan penataan utang, piutang, dan aset secara menyeluruh. Program penghapusan piutang lama pelanggan yang menunggak sejak lebih dari 20 tahun lalu terus dilakukan secara bertahap, disertai skema keringanan pembayaran dan kerja sama dengan perbankan serta kejaksaan untuk percepatan penagihan.
“Dari penyisihan piutang sebesar Rp15 miliar, sekitar Rp 9,3 miliar sudah dihapuskan melalui SK Kepala Daerah. Sisanya akan dituntaskan tahun ini,” jelas Eli.
Selain itu, perusahaan juga melakukan penghapusan dan lelang aset yang telah habis umur ekonominya. Hingga kini, program lelang aset telah memasuki tahap ketiga. “Langkah ini berdampak positif terhadap kesehatan keuangan perusahaan. Cashflow kami sudah aman, bahkan mampu menutup biaya operasional lebih dari dua kali,” jelas Eli.
Kinerja keuangan Perumdam Tirta Albantani menunjukkan tren positif. Laba bersih meningkat dari Rp2,9 miliar pada 2023 menjadi Rp3,5 miliar pada 2024, dengan pendapatan usaha mencapai Rp58 miliar. Dividen kepada pemerintah daerah juga meningkat dari Rp 900 juta menjadi Rp1,3 miliar, dan ditargetkan naik menjadi Rp 1,5 miliar pada 2025.
Penguatan Operasional dan Digitalisasi
Dari aspek operasional, Perumdam Tirta Albantani saat mengelola 30 Instalasi Pengolahan Air (IPA), termasuk lima IPA berkapasitas besar. Produksi air mencapai sekitar 7,3 juta meter kubik per tahun, dengan air terjual sebesar 5,3 juta meter kubik. Tingkat kehilangan air (non-revenue water) pada 2024 mencapai 24,89 persen.
Pada 2026, perusahaan menargetkan pengurangan NRW sebesar 3 persen melalui normalisasi jaringan pipa, peremajaan pompa, serta pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT) untuk memantau kinerja IPA secara real time.
Saat ini, empat IPA telah terkoneksi IoT dan akan diperluas secara bertahap. Selain itu, program saving energi diterapkan untuk menekan biaya operasional.yang akan diperluas ke lebih banyak IPA.
Untuk meningkatkan kualitas layanan, wilayah pelayanan dibagi menjadi tiga zona, yakni Serang Barat, Serang Tengah, dan Serang Timur. Pengaduan pelanggan dilayani melalui front office dan kanal media sosial, dengan standar penyelesaian maksimal 1×24 jam, dan gangguan teknis diselesaikan paling lambat tiga hari.
Penguatan digitalisasi juga dilakukan dalam aspek tata kelola melalui pengembangan aplikasi keuangan, layanan pelanggan, GIS, HRM, dan sistem monitoring operasional. Langkah ini sejalan dengan penerapan good corporate governance dan peningkatan transparansi kinerja.
Dari sisi sumber daya manusia, Perumdam Tirta Albantani memiliki 193 pegawai, dengan mayoritas berada pada usia produktif 31–40 tahun. Perusahaan secara konsisten meningkatkan kapasitas SDM melalui bimbingan teknis dan sertifikasi manajemen air minum bekerja sama dengan PERPAMSI dan lembaga pelatihan professional.
“Ke depan, setiap supervisor wajib memiliki sertifikasi manajemen air minum tingkat tinggi, sementara manajer minimal sertifikasi tingkat lanjut,” tegas Eli.
Dalam aspek tanggung jawab sosial, pada 2024 Perumdam Tirta Albantani menyalurkan CSR sebesar Rp240 juta, yang difokuskan pada bantuan kebersihan lingkungan, penanggulangan bencana, dan kegiatan keagamaan.
Berdasarkan penilaian kinerja tahun 2024, Perumdam Tirta Albantani memperoleh nilai 2,96 dengan kategori sehat.
Fokus Utama 2026
Tahun 2026 ini, Perumdam Tirta Albantani menargetkan penguatan signifikan pada infrastruktur air baku dan jaringan distribusi, seiring diperolehnya dukungan pendanaan dari pemerintah pusat melalui program Kementerian PUPR dengan nilai total sekitar Rp70 miliar.
Salah satu fokus utama yang dilakukan Perumdam Tirta Albantani pada 2026 ini adalah pemindahan intake air baku dari sumber irigasi ke sungai, sesuai kebijakan pemerintah pusat yang melarang penggunaan air irigasi untuk layanan air minum karena diprioritaskan bagi ketahanan pangan.
“Beberapa intake kami sebelumnya masih memanfaatkan jaringan irigasi. Ke depan, intake tersebut harus dipindahkan langsung ke sungai. Ini membutuhkan investasi besar, sehingga kami mengajukan dan alhamdulillah mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat,” ujar Eli menjawab pertanyaan dewan juri dalam sesi pendalaman.
Pada 2026, bantuan program dari Kementerian PUPR tersebut terdiri atas Paket Simpang Cikande–Petir senilai sekitar Rp9 miliar, yang saat ini telah memasuki tahap tender dan ditargetkan mulai berjalan pada 2026. Kedua adalah Paket Kragilan senilai sekitar Rp 60 miliar, yang direncanakan mulai berjalan pada September 2026, dengan fokus pada penguatan air baku dan jaringan distribusi.
Saat ini, perusahaan tengah menyelesaikan seluruh persyaratan administrasi, termasuk kesiapan lahan dan dokumen teknis, yang harus dipenuhi dalam waktu tiga bulan sesuai ketentuan Kementerian PUPR.
“Kalau mengandalkan kemampuan internal perusahaan, tentu sangat berat. Karena itu kami proaktif meminta dukungan pusat melalui program RPM. Ini menjadi game changer untuk percepatan layanan air minum di Kabupaten Serang,” tegas Eli.
Selain dukungan pusat, Perumdam Tirta Albantani juga memperkuat struktur permodalan melalui penyertaan modal daerah (PMD) yang kini telah memiliki payung hukum jelas melalui Perda PMD Nomor 7 Tahun 2025. Dengan regulasi tersebut, penyertaan modal dapat dialokasikan secara berkelanjutan setiap tahun sesuai kemampuan keuangan daerah.
Tercatat, PMD yang diterima perusahaan meningkat bertahap, dari Rp 5 miliar pada 2023, menjadi Rp 9 miliar pada 2024, dan terus dioptimalkan untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi serta pelayanan.
Perusahaan juga telah meraih penghargaan TOP BUMD Award dua kali berturut-turut pada 2024 dan 2025 dengan predikat Bintang 4.
Dorongan Pemda
Sementara itu, Rudy Suhartanto, M.Si, selaku Dewan Pengawas Perumdam Tirta Albantani sekaligus mewakili Pemerintah Kabupaten Serang, dalam penjurian itu menegaskan bahwa pemerintah daerah mendorong perusahaan daerah air minum untuk semakin efektif dan efisien, terutama dengan memanfaatkan berbagai sumber pendanaan, baik dari pemerintah pusat maupun daerah.
“Dari diskusi hari ini, kami melihat tantangan sekaligus peluang. Pemerintah daerah mendorong agar Perumdam Tirta Albantani terus meningkatkan efektivitas dan efisiensi, dengan memaksimalkan pendanaan dari pusat dan daerah secara akuntabel,” ujar Rudy.
Ia juga menyoroti kompleksitas layanan air minum di Kabupaten Serang akibat dinamika wilayah administrasi dan pemekaran daerah otonomi baru (DOB), yang berdampak pada fragmentasi layanan dan data pelanggan.
“Kabupaten Serang mengalami beberapa kali pemekaran. Ini menyebabkan layanan air minum ikut terpecah. Ada puluhan ribu pelanggan yang berhenti atau tidak aktif karena perubahan wilayah layanan. Kondisi ini tentu memengaruhi kinerja historis PDAM dan harus dibenahi secara bertahap,” jelasnya.
Dari sisi sumber air baku, Rudy mengungkapkan bahwa Kabupaten Serang saat ini hanya memiliki tiga sumber utama, yakni Sungai Cibanten, Sungai Cibeurang, dan Sungai Cidurian. Namun dalam praktiknya, sebagian besar intake sebelumnya masih memanfaatkan jaringan irigasi, bukan langsung dari sungai-sungai tersebut.
“Ketika kebijakan nasional melarang pemanfaatan air irigasi untuk air minum, kami tentu harus patuh. Namun kami juga meminta waktu dan dukungan dari pemerintah pusat agar proses pengalihan ke sumber air sungai dapat dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan,” tegas Rudy.
Menurutnya, pemilihan sumber air baku ke depan tidak hanya mempertimbangkan aspek teknis, tetapi juga kualitas air, keberlanjutan lingkungan, dan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
“Ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur, tetapi bagaimana menjaga keberlanjutan pelayanan air minum agar dapat dinikmati masyarakat Kabupaten Serang dalam jangka panjang, di tengah keterbatasan sumber air baku,” ujar Rudy.
Masukan Dewan Juri
Dalam sesi nilai tambah, Dewan juri TOP BUMD Awards 2026 memberikan sejumlah masukan strategis bagi Perumda Tirta Albantani, khususnya terkait keberlanjutan sumber air baku, penguatan tata kelola, serta perencanaan jangka panjang berbasis kajian komprehensif.
Prof. Dr. Satya Arinanto, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, menegaskan bahwa keterbatasan sumber air baku merupakan persoalan mendasar yang harus ditangani secara sistemik. Menurutnya, pengendalian pencemaran dan alih fungsi lahan di daerah tangkapan air menjadi prasyarat utama keberlanjutan layanan. Selain itu, ia menekankan pentingnya sinkronisasi kebijakan lintas sektor, khususnya antara Perumda, unit teknis pemerintah daerah, dan pemerintah pusat dalam pengadaan air baku.
Masukan lain disampaikan Dr. Amni Zarkasyi Rahman dari Universitas Diponegoro yang menyoroti pentingnya penguatan layanan berbasis pengalaman pelanggan. Ia mendorong agar seluruh hasil pengaduan, survei kepuasan, forum pelanggan, hingga Google Form dikelola secara sistematis dan terukur melalui mekanisme scoring dari tahun ke tahun, dilengkapi penilaian kualitatif. Amni juga menekankan perlunya peningkatan kompetensi SDM secara menyeluruh, tidak hanya bagi top dan middle management, tetapi hingga level operasional, agar kualitas layanan benar-benar meningkat.
Sementara itu, Eri Sumiarso (Sinergi Daya Prima/SDP) menyoroti peluang penyediaan air bersih bagi sektor industri. Menurutnya, layanan air untuk industri swasta yang bersifat komersial dapat dioptimalkan melalui skema CSR, sehingga sebagian keuntungannya dialokasikan untuk membantu penyediaan air bersih bagi masyarakat berpenghasilan rendah sebagai bentuk subsidi tidak langsung.
Adapun Dwinda Ruslan (Yayasan Pakem) yang juga merangkap jadi moderator memberika masukan soal perlunya perencanaan berbasis kajian lingkungan, legal, dan finansial yang terintegrasi. Ia mendorong dilakukannya studi lingkungan yang tidak hanya menilai ketersediaan air, tetapi juga potensi pencemaran, mitigasi risiko, hingga perencanaan konservasi sungai.
Dengan blueprint yang matang dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, Perumda Tirta Albantani dinilai memiliki peluang besar menjadikan air sungai sebagai backbone layanan sekaligus mempercepat pencapaian target 70.000–90.000 pelanggan secara berkelanjutan.
