Jakarta, TopBusiness – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menegaskan revisi outlook kredit Indonesia oleh Moody’s Ratings tidak berdampak terhadap kinerja penyaluran kredit perseroan. Bank swasta terbesar di Indonesia itu memastikan fundamental bisnis dan kualitas aset tetap solid di tengah dinamika global.
Executive Vice President (EVP) Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, hingga saat ini perseroan tidak merasakan efek langsung dari perubahan outlook Moody’s terhadap aktivitas kredit.
“Tidak (rating Moody’s berdampak ke kredit BCA). Jadi bisa lihat bagaimana NPL kita sangat terjaga, kemudian bisnis kita juga berjalan dengan sangat baik, bottom line kita juga positif, dan relasi kita juga tetap baik,” ujar Hera kepada media yang dikutip, Kamis (12/2/2026).
Sebelumnya, Moody’s Ratings memangkas outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun tetap mempertahankan peringkat di level Baa2. Seiring dengan langkah tersebut, lembaga pemeringkat global itu juga merevisi outlook lima bank besar Indonesia menjadi negatif, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.
Dalam laporannya, BCA mendapat peringkat Baa2 dan Baseline Credit Assessment baa2, mencerminkan kualitas aset yang sangat kuat, profitabilitas tertinggi di antara bank domestik dan regional, serta posisi unggul di bisnis transaction banking. Meski demikian, Moody’s menyoroti risiko dari pertumbuhan kredit yang cepat pada segmen korporasi dan UKM dalam beberapa tahun terakhir.
Secara kinerja, BCA mencatat total penyaluran kredit mencapai Rp 993 triliun per Desember 2025 atau tumbuh 7,7 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sepanjang 2025, rata-rata pertumbuhan kredit perseroan mencapai 10,8 persen.
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) BCA berada di level 1,7 persen. Sementara itu, rasio loan at risk (LAR) membaik menjadi 4,8 persen dibandingkan 5,3 persen pada tahun sebelumnya, mencerminkan profil risiko kredit yang semakin terjaga.
Hera menegaskan seluruh kredit yang disalurkan telah melalui proses dengan prinsip kehati-hatian (prudential banking) dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.
“Kami akan tetap menjaga itu dalam track yang memang saat ini sudah kami jaga, kami prudence, dan kami comply dengan apa pun yang memang menjadi salah satu basis persyaratan memberikan kredit yang berkualitas, aman, dan tentu nyaman untuk para debitur kami,” jelasnya.
Ia menilai tidak ada alasan untuk munculnya kekhawatiran berlebihan terkait kualitas kredit BCA di tengah revisi outlook tersebut. “Kekhawatiran berlebihan menurut saya tidak dibutuhkan dalam hal ini, dan kami tetap akan menjaga bahwa postur loan growth kami berada pada proses yang sehat dan bisa kami pertanggungjawabkan secara prudence dan comply,” tutup Hera.
