Jakarta, TopBusiness – PT PLN (Persero) UIP Sumatera Bagian Utara (SBU) menegaskan transformasi program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari pendekatan charity menuju strategic CSR berbasis Creating Shared Value (CSV) dan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Hal tersebut dipaparkan dalam Wawancara Penjurian TOP CSR Awards 2026 yang diselenggarakan Majalah TopBusiness, Rabu, 25 Februari 2026.
Officer Komunikasi dan TJSL PLN UIP SBU, Divo Hutabarat, menjelaskan bahwa implementasi TJSL di unitnya selaras dengan kebijakan korporasi PLN dan mengacu pada prinsip ISO 26000:2010 sebagai guidance standard tanggung jawab sosial .
“CSR dan ESG bukan lagi sekadar kewajiban regulatif, tetapi sudah menjadi bagian dari strategi bisnis untuk memastikan keberlanjutan proyek dan menciptakan nilai bersama bagi perusahaan serta masyarakat,” ujar Divo dalam sesi penjurian .
Ia memaparkan, sebagai unit yang bertanggung jawab atas pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan di wilayah Sumatera Bagian Utara hingga Aceh, PLN UIP SBU menghadapi tantangan transisi energi, risiko sosial-lingkungan proyek, serta tuntutan stakeholder terhadap transparansi dan keberlanjutan . Karena itu, TJSL diposisikan sebagai instrumen mitigasi risiko dan penguatan reputasi korporasi.
Sepanjang 2025–2026, program TJSL PLN UIP SBU menyasar tiga pilar utama, yakni ekonomi, pendidikan, dan lingkungan. Di sektor ekonomi, antara lain pemberdayaan rumah garam di Aceh melalui konsep Electrifying Agriculture, pembibitan ikan di Asahan, serta program ketahanan pangan budidaya burung petelur di Langkat .
Program Electrifying Agriculture di Rumah Garam Aceh memanfaatkan mesin pompa air dan penghalus garam berbasis listrik untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produksi, sekaligus mengurangi penggunaan BBM.
“Program ini tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga mendorong konsumsi listrik produktif, sehingga tercipta shared value,” kata Divo .
Di bidang sosial dan keamanan lingkungan, PLN UIP SBU menghadirkan inovasi Siskamling Mobile berbasis listrik di Kota Medan dengan penyediaan becak listrik dan perangkat pendukung keamanan . Sementara pada aspek lingkungan, perusahaan membangun sarana sanitasi air bersih dan MCK umum di Desa Meuria Paloh, Lhokseumawe, sebagai upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat sekaligus mendukung kelancaran proyek infrastruktur .
Dari sisi tata kelola, TJSL direncanakan berbasis RKAP dan social mapping, dilaksanakan secara partisipatif, serta dimonitor melalui laporan berkala dan dashboard resmi TJSL PLN . Evaluasi dilakukan untuk memastikan program tidak bersifat charity, melainkan menciptakan Creating Shared Value (CSV).
“Melalui pendekatan ESG, kami memastikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola terintegrasi dalam setiap tahap proyek. Ini penting untuk menjaga kepercayaan stakeholder dan menjamin keberlanjutan operasional jangka panjang,” tegas Divo .
Implementasi TJSL berbasis CSV dan ESG tersebut dinilai memberikan dampak strategis berupa mitigasi risiko sosial-lingkungan, peningkatan reputasi, kelancaran proyek pembangunan, serta penciptaan nilai ekonomi dan sosial secara simultan bagi perusahaan dan masyarakat.
