TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Tak Hanya MBG, Emiten AYAM Dapat Berkah Berkat Kesepakatan Dagang AS-RI

Busthomi
26 February 2026 | 11:53
rubrik: Capital Market
Stabilisasi Harga,  NFA Gandeng BUMN Serap Ayam dari Peternak

Kinerja emiten unggas seperti AYAM dapat diuntungkan dengan adanya kesepakatan dagang AS-RI. FOTO Ilustrasi: Istimewa

Jakarta, TopBusiness – Industri perunggasan nasional tengah memasuki fase pertumbuhan yang semakin solid dan prospektif. Hal ini tak lepas dari adanya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah yang menjadi katalis utama peningkatan konsumsi protein hewani. Khususnya daging ayam.

Di tengah momentum positif tersebut, PT Janu Putra Sejahtera Tbk (IDX: AYAM) atau JPS tampil agresif dan terukur dalam menyiapkan kapasitas produksi jangka menengah.

Memasuki 2026, Perseroan meningkatkan pasokan indukan ayam Grand Parent Stock (GPS) dari Amerika Serikat dan Selandia Baru, melampaui realisasi impor tahun 2025.

Langkah ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menaikkan kuota impor GPS nasional dari 578 ribu ekor menjadi 800 ribu ekor pada 2026 guna mengantisipasi lonjakan kebutuhan protein, terutama dari program MBG.

Direktur Utama AYAM, Sri Mulyani, menegaskan bahwa peningkatan impor indukan bukan sekadar ekspansi, melainkan bagian dari strategi jangka panjang yang berbasis perencanaan industri.

“Sentimen industri sedang sangat positif. Stabilisasi harga livebird melalui penetapan HPP, pengendalian oversupply lewat kebijakan culling DOC, serta dukungan stabilisasi pakan seperti SPHP Jagung membuat fondasi industri jauh lebih sehat. Dengan tambahan demand dasar dari MBG, kami melihat peluang pertumbuhan yang kuat dan berkelanjutan,” ujar Sri, Kamis (26/2/2026).

AYAM juga termasuk salah satu perusahaan pembibitan yang masuk dalam alokasi impor GPS sebesar 580.000 ekor dari Amerika Serikat sebagai bagian dari implementasi Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan AS yang diteken Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump di Washington DC pada 19 Februari 2026 lalu.

Pemerintah menegaskan bahwa kebijakan ini tetap mengedepankan perlindungan peternak dalam negeri serta menjaga keseimbangan pasokan dan harga ayam nasional.

BACA JUGA:   Cooling Down, BEI Suspensi AMMS

Impor GPS dinilai diperlukan karena Indonesia belum memiliki fasilitas pembibitan indukan utama tersebut, sehingga ketergantungan impor pada level hulu masih menjadi kebutuhan strategis industri.

Sebagai salah satu penerima kuota, AYAM memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat fondasi produksi dua tahun ke depan.

Dalam industri perunggasan, setiap GPS mampu menghasilkan 50–60 Parent Stock (PS), yang kemudian masing-masing menetaskan 150–160 final stock (broiler). Artinya, keputusan impor hari ini akan menentukan struktur pasokan hingga 2028.

AYAM saat ini memiliki fasilitas kandang GP dengan kapasitas fisik mencapai 60.000 ekor. Namun secara operasional, pengisian dibatasi maksimal 30.000 ekor dalam satu periode aktif.

Pembatasan ini merupakan bagian dari standar biosekuriti dan manajemen modern yang mengharuskan rotasi siklus sekitar 1,5 tahun, termasuk pergantian indukan, sanitasi menyeluruh, dan masa istirahat kandang.

Pendekatan disiplin ini memberi dua keuntungan strategis, yaiti menjaga performa produksi dan kualitas genetik secara konsisten dan memberikan fleksibilitas pasokan saat permintaan mencapai puncaknya, khususnya menjelang realisasi penuh kebutuhan MBG pada 2027–2028.

Dengan perhitungan yang matang, peningkatan impor GP hingga tiga kali lipat dilakukan bertahap agar selaras dengan proyeksi pertumbuhan permintaan. Estimasi kebutuhan daging ayam untuk MBG diperkirakan meningkat signifikan hingga 2028, sehingga ekspansi berbasis data menjadi kunci menjaga stabilitas harga di tingkat peternak.

Kombinasi beberapa faktor membuat prospek AYAM semakin cerah. Penetapan HPP livebird yang menjaga margin peternak, pengendalian oversupply melalui manajemen populasi DOC, stabilitas biaya pakan yang lebih terkendali, demand dasar besar dan berkelanjutan dari program MBG dan dukungan kebijakan perdagangan internasional yang membuka akses impor indukan strategis.

Dengan model bisnis poultry terintegrasi dan manajemen kapasitas yang berhati-hati, AYAM berada pada posisi strategis untuk menangkap pertumbuhan tanpa menciptakan tekanan pasokan berlebih. Ekspansi yang dilakukan Perseroan mencerminkan optimisme yang terukur: memperkuat hulu untuk mengamankan hilir. Dalam konteks transformasi konsumsi protein nasional dan peningkatan kualitas gizi masyarakat, langkah AYAM tidak hanya menjanjikan pertumbuhan kinerja korporasi, tetapi juga mempertegas perannya sebagai salah satu pilar penyedia protein hewani nasional.

Tags: emiten AYAMKesepakatan dagangProgram MBGPT Janu Putra Sejahtera Tbk
Previous Post

PLN UIP SBU Transformasikan TJSL Berbasis CSV dan ESG, Perkuat Keberlanjutan Proyek Infrastruktur

Next Post

Tata Kelola dan Inovasi Jadi Kunci Perumdam Tirta Merapi Klaten Menjadi BUMD Air Minum yang Sehat, Adaptif, dan Berkelanjutan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR