Jakarta, TopBusiness – PT PLN Enjiniring atau PLNE menegaskan komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan melalui implementasi program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR) yang terintegrasi dengan strategi bisnis dan agenda transisi energi nasional.
Komitmen tersebut dipaparkan dalam sesi presentasi penjurian TOP CSR Awards 2026 yang menghadirkan jajaran manajemen PLNE, Rabu (4/3/2026).
Direktur Utama Chairani Rachmatullah dalam pemaparannya menjelaskan bahwa arah kebijakan CSR PLN Enjiniring tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari transformasi perusahaan dalam mendukung perubahan sistem energi nasional menuju energi yang lebih bersih.
Sebagai perusahaan engineering ketenagalistrikan yang berada dalam ekosistem PT PLN (Persero), PLN Enjiniring memiliki peran penting dalam memastikan kesiapan perencanaan dan pengembangan proyek infrastruktur kelistrikan di Indonesia.
“Misi utama PLN Enjiniring adalah memastikan kesiapan engineering untuk seluruh proyek infrastruktur ketenagalistrikan. Karena itu kami harus selaras dengan kebijakan pemerintah serta arahan PLN sebagai holding, khususnya dalam mendukung transformasi energi menuju sumber energi yang lebih bersih,” ujar Chairani dalam presentasinya.
Hadir dalam penjurian ini, Martono (Direktur Keuangan, Manajemen Risiko & Human Capital), Anita Widyiastuti (Sekretaris Perusahaan), Niken Novianty Risdianasari (Manajer Komunikasi dan Manajemen Stakeholder), dan Nusrotu Aini Latifah (Officer Komunikasi dan Manajemen Stakeholder), dan Faradilla (Staff Komunikasi).
Ia menjelaskan bahwa perubahan kebijakan energi nasional, yang mendorong pemanfaatan energi baru dan terbarukan, menuntut seluruh entitas di lingkungan PLN melakukan penyesuaian strategi bisnis.
Selama ini sistem kelistrikan nasional masih banyak mengandalkan energi fosil seperti batu bara dan gas, namun ke depan arah kebijakan akan semakin mengutamakan energi yang lebih ramah lingkungan.
“Pemerintah memiliki target untuk meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan yang berasal dari sumber daya lokal Indonesia. Karena itu sektor kelistrikan harus beralih menuju energi yang lebih bersih dan green. Untuk mendukung transformasi tersebut, PLN Enjiniring juga melakukan transformasi perusahaan,” kata Chairani.
Transformasi perusahaan tersebut telah dimulai sejak tahun 2024 dan dirancang berlangsung hingga 2030. Transformasi ini mencakup enam pilar strategis yang dikenal dengan konsep 6G Transformation, yaitu Groom Talent and Culture, Grow Core, Gain New, Guard Value, Go Digital, dan Global Partnership.
Keenam pilar tersebut dijalankan melalui puluhan program yang bertujuan memperkuat kapasitas organisasi, mengembangkan proyek energi baru, meningkatkan kualitas layanan engineering, memperkuat tata kelola perusahaan, serta memperluas kolaborasi global.
Chairani menambahkan bahwa arah transformasi tersebut juga mempengaruhi desain program CSR perusahaan. Jika pada tahap awal transformasi perusahaan lebih banyak menjalankan program berbasis lingkungan dan energi hijau, maka saat ini fokus CSR mulai diperluas pada pengembangan sumber daya manusia.
“Tahun-tahun sebelumnya fokus kami lebih banyak pada program green dan lingkungan. Sekarang kami masuk pada fase pembangunan budaya dan pengembangan manusia. Karena itu program CSR kami juga diarahkan pada penguatan pendidikan,” jelasnya.
Menurut Chairani, pendidikan menjadi salah satu sektor strategis karena berperan penting dalam menyiapkan generasi muda yang mampu menghadapi perubahan industri energi di masa depan, termasuk perkembangan teknologi energi baru dan terbarukan.
Penguatan Tata Kelola Keberlanjutan
Selain mengembangkan program sosial, PLN Enjiniring juga memperkuat tata kelola keberlanjutan melalui penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam pengelolaan perusahaan.
Program TJSL juga mengacu pada tujuh subjek inti ISO 26000, meliputi tata kelola organisasi, hak asasi manusia, praktik ketenagakerjaan, lingkungan, praktik operasi yang adil, isu konsumen, serta pelibatan dan pengembangan masyarakat.
Chairani menjelaskan bahwa perusahaan telah membentuk Komite Sustainability yang berperan mengawal implementasi kebijakan keberlanjutan di seluruh lini organisasi. Pembentukan komite ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap program keberlanjutan memiliki dasar sistem dan tata kelola yang jelas.
“Kami membangun sistem keberlanjutan yang lengkap, mulai dari kebijakan, struktur organisasi, hingga pelaporan. Program tidak bisa berjalan tanpa sistem yang kuat,” ujarnya.
Salah satu capaian yang membanggakan, lanjut Chairani, adalah kemampuan perusahaan dalam menyusun laporan ESG yang berkualitas. Bahkan PLN Enjiniring dipercaya membantu penyusunan laporan keberlanjutan di lingkungan PLN Group.
Perusahaan juga menerapkan mekanisme ESG budget tagging, yaitu sistem penandaan anggaran yang memungkinkan perusahaan memonitor secara jelas berapa besar biaya operasional yang dialokasikan untuk program yang berkaitan dengan ESG.
Selain itu, PLN Enjiniring juga mendorong penerapan kesetaraan gender dalam kepemimpinan perusahaan. Chairani menyebutkan bahwa saat ini komposisi pemimpin perempuan di perusahaan telah mencapai sekitar 45 persen.
“Kami tidak melakukannya semata karena faktor representasi, tetapi karena perusahaan membutuhkan perspektif yang beragam. Kolaborasi antara kepemimpinan laki-laki dan perempuan dapat memperkuat kualitas pengambilan keputusan perusahaan,” ujarnya.
Integrasi CSR dengan Strategi Bisnis
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PLN Enjiniring Anita Widyiastuti menjelaskan bahwa program TJSL perusahaan dirancang secara terintegrasi dengan strategi bisnis serta manajemen risiko perusahaan.
Menurut Anita, aspek keberlanjutan menjadi bagian penting dalam perencanaan proyek dan investasi perusahaan.
“Risiko ESG kami integrasikan ke dalam kerangka manajemen risiko perusahaan. Dengan demikian setiap perencanaan proyek juga mempertimbangkan dampak sosial, lingkungan, serta risiko perubahan iklim,” ujar Anita.
Pendekatan tersebut juga mendukung implementasi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang menargetkan peningkatan kapasitas energi baru dan terbarukan secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
“Mitigasi risiko iklim dilakukan melalui pengembangan smart grid, pembangkit fleksibel, serta teknologi penyimpanan energi. Pendekatan ini tidak hanya bersifat teknis tetapi juga menjadi bagian dari strategi mitigasi risiko di masa depan,” jelasnya.
Dua Program CSR Unggulan
Dalam implementasinya, PLN Enjiniring memiliki dua program CSR unggulan yang menjadi fokus perusahaan, yaitu Engineer Mengajar dan PLNE Pintar.
Program Engineer Mengajar merupakan inisiatif CSR berbasis pengetahuan yang memanfaatkan kompetensi para engineer perusahaan untuk berbagi pengalaman praktis kepada mahasiswa di berbagai perguruan tinggi.
Program ini juga menjadi bagian dari strategi Creating Shared Value (CSV) karena berkontribusi pada pembentukan talent pool yang relevan dengan kebutuhan industri engineering dan energi.
“Melalui program ini para engineer kami turun langsung ke kampus untuk berbagi pengalaman proyek, regulasi, serta inovasi di sektor energi,” ujar Anita.
Sepanjang tahun 2025, program ini telah dilaksanakan di empat perguruan tinggi dengan partisipasi sekitar 400 mahasiswa.
Selain itu, perusahaan juga menjalankan program PLNE Pintar yang berfokus pada peningkatan akses dan kualitas pendidikan di wilayah sekitar operasional perusahaan.
Program ini mencakup berbagai kegiatan seperti peningkatan fasilitas pendidikan, pelatihan keterampilan bagi masyarakat, serta penguatan kompetensi terkait energi hijau.
“Program ini tidak hanya meningkatkan kualitas pendidikan tetapi juga menyiapkan sumber daya manusia lokal yang adaptif terhadap perkembangan industri energi masa depan,” kata Anita.
Sepanjang periode 2024–2025, PLN Enjiniring mengalokasikan dana sekitar Rp 810 juta untuk menjalankan berbagai program TJSL, termasuk dua program unggulan tersebut.
Pengukuran Kinerja CSR Berbasis Dampak
Untuk memastikan efektivitas program CSR, PLN Enjiniring menerapkan sistem pengukuran kinerja TJSL yang terstruktur dengan total bobot penilaian sebesar 100 persen.
Menurut Anita, 20 persen dari penilaian kinerja CSR diukur melalui metode Social Return on Investment (SROI) yang digunakan untuk menghitung nilai manfaat sosial dari setiap program yang dijalankan.
Selain itu, 25 persen penilaian berasal dari aspek tata kelola program, 15 persen dari peningkatan kompetensi pengelola CSR, 15 persen dari pemanfaatan teknologi informasi dalam monitoring program, 10 persen dari kolaborasi dengan mitra eksternal, serta 15 persen dari keterlibatan karyawan dalam kegiatan sosial.
“Pendekatan ini memastikan bahwa program TJSL tidak hanya bersifat charity, tetapi memberikan dampak sosial yang terukur bagi masyarakat,” kata Anita.
Hasil pengukuran menunjukkan bahwa beberapa program TJSL memberikan manfaat sosial yang signifikan bagi masyarakat.
Program bantuan fasilitas pendidikan di SDN 1 Karendan dan SMP Yayasan Pendidikan Bangkanai mencatat nilai SROI sebesar 5,8, yang berarti setiap Rp1 yang dikeluarkan perusahaan menghasilkan manfaat sosial sebesar Rp5,8 bagi masyarakat.
Program Bank Sampah KAPPSA di Desa Cimekar mencatat nilai SROI sebesar 3,27, sementara kegiatan penanaman pohon di Kelurahan Krukut menghasilkan nilai SROI sebesar 2,53. Program aksi lingkungan Coastal Clean Up di Pantai Tanjung Pasir Banten juga memberikan dampak sosial dengan nilai SROI 2,26.
Pengukuran SROI ini dilakukan oleh assessor independen untuk memastikan objektivitas dan akurasi hasil evaluasi program.
Komitmen perusahaan dalam menjalankan CSR dan keberlanjutan juga mendapat pengakuan melalui berbagai penghargaan sepanjang 2025. PLN Enjiniring meraih penghargaan TOP CSR Awards 2025 #Star 4, TOP Leader on CSR Commitment 2025, serta Best TJSL & CSR Award in Environmental Category.
Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa implementasi CSR perusahaan tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian penting dari strategi bisnis yang berkelanjutan.
Tahun ini, PLNE juga terpilih menjadi salah satu kandidat pemenang TOP CSR Awards 2026.
