Jakarta, TopBusiness – LMI (Lembaga Manajemen Infaq) sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) yang menangani zakat, infaq, sedekah, wakaf, skala nasional yang berpusat di kota Surabaya, tahun ini untuk pertama kalinya masuk nominasi mengikuti ajang rating (penilaian) untuk penghargaan nasional “Top CSR Awards 2026”. Kali ini, lembaga yang berkomitmen pada transparansi dan akuntabilitas dalam mengelola dana sosial ini, mengusung program CSR unggulan “Coral Reef Conservation” sebagai upaya pemulihan ekosistem laut sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir.
Presentasi dan wawancara penjurian LMI dilakukan secara daring melalui aplikasi zoom meeting pada 6 April 2026 yang dihelat Majalah TopBusiness Jakarta. Presentasi disampaikan oleh Muhammad Nur Wicaksono – Manager Program Ekonomi dan Kemanusiaan, bersama tim (David Prasetyo – Corporate Fundrising Officer, Satria Nova – Regional Manager). Sedangkan tim juri penilai, terdiri Ir. Thendri Supriatno (Ketua Masyarakat Investor Independen/ Corporate Forum for CSR Development -CFCD), Ummu Azizah Mukarnawati (CSR Exspert – Komite CSR LKN), Nurul Yakin Setyabudi (IDTUG -Anggota BPSK Provinsi DKI Jakarta), serta Ahmad Chury (Managing Editor Majalah ItWorks-MSI Group) sekaligus sebagai moderator.
Dalam persentasinya disebutkan, program Konservasi Terumbu Karangini dilaksanakan di wilayah pesisir Bangsring. Tepatnya di kawasan Pantai Sangkong dan Grand Watudodol, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur. Kawasan ini memiliki potensi pertumbuhan terumbu karang seluas sekitar 15 hektare, namun hingga kini baru 1,25 hektare yang berhasil dikonservasi, sehingga masih terdapat peluang pengembangan konservasi mencapai 13,75 hektare.
Program Coral Reef Conservation dirancang secara partisipatif melalui musyawarah bersama nelayan, kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas), pelaku wisata, serta pemangku kepentingan lokal. Pendekatan ini bertujuan memastikan program sesuai kebutuhan lapangan sekaligus menumbuhkan rasa kepemilikan masyarakat terhadap keberlanjutan program.
Kesadaran warga kemudian memicu gerakan swadaya transplantasi karang yang perlahan memulihkan ekosistem laut. Inisiatif tersebut berkembang menjadi kawasan ekowisata bahari sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal.
Di sisi lain, tantangan sosial masih cukup besar. Data menunjukkan sekitar 834 warga Desa Bangsring tidak bekerja dan 97 lainnya masih mencari pekerjaan dari total populasi 4.861 jiwa. “Rendahnya lapangan kerja, menurunnya hasil tangkapan ikan, serta minimnya kesadaran kolektif menjadi latar belakang penting lahirnya program CSR ini,” ungkap ,” ungkap Muhammad Nur Wicaksono.
Program Coral Reef Conservation yang dijalankan Lembaga Manajemen Infaq (LMI) ini juga mendapat dukungan dari sejumlah perusahaan. Program ini juga diklaim menjadi contoh implementasi tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang selaras dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) untuk menciptakan nilai jangka panjang dan pembangunan berkelanjutan.
“Program ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan lain. Di antaranya BP3 (Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan) Banyuwangi, Universitas Trunojoyo Madura : Membantu riset / kajian perhitungan kontribusi serapan karbon dari coral yang ditanam, Media online / offline untuk pemberitaan untuk amplifikasi informasi, serta 8 BUMN untuk dukungan pendanaan,” ungkap Satria Nova – Regional Manager, menambahkan.
Adapun 8 BUMN yang mendukung pendanaan, yakni Adhi Karya, Hutama Karya, Waskita Karya, Wijaya Karya, PTPP, Brantas Abipraya, BNI, dan Peruri. Sementara Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BP3) Banyuwangi berperan dalam pendampingan dan perizinan kawasan konservasi.
Dalam pelaksanaannya, program menargetkan penanaman 2.500 unit terumbu karang di area konservasi seluas 200 meter persegi. Realisasinya bahkan melampaui target dengan total 2.743 bibit karang yang ditransplantasi menggunakan metode bioreeftek dan substrat semen (conblock). Jenis karang yang ditanam meliputi Acropora tenuis dan Montipora, dengan proses produksi media tanam serta pengadaan material melibatkan kelompok masyarakat lokal dan UMKM sehingga memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga.
Tingkat Kelangsungan Hidup Capai 82,9 Persen
Monitoring dilakukan setiap bulan melalui kegiatan perawatan dan pembersihan karang dari alga maupun sampah laut. Hingga Desember 2025, tercatat sebanyak 2.276 karang atau 82,9 persen berhasil hidup dan berkembang, melampaui target keberhasilan konservasi.
Dari sisi lingkungan, ekosistem karang yang ditanam mampu menyerap karbon sebesar 3,38 ton CO₂e per tahun, berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim dan pengurangan pemanasan global.
Program ini tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi signifikan. Kunjungan wisata pada Agustus–September tercatat mencapai 8.224 wisatawan dengan nilai ekonomi tiket sebesar Rp61,88 juta.
Selain itu, aktivitas wisata terumbu karang menghasilkan 326 perjalanan wisata dengan nilai ekonomi mencapai Rp651,52 juta, sekaligus membuka peluang kerja baru bagi masyarakat pesisir. Program turut menjaga keberlanjutan mata pencaharian sekitar 300 keluarga yang bergantung pada sektor perikanan, wisata bahari, dan UMKM lokal. Pelibatan aktif dua kelompok Pokmaswas dan satu Pokdarwis juga memperkuat legitimasi sosial serta mencegah konflik di masyarakat.
Model CSR Berkelanjutan dan Direplikasi Nasional
Keberhasilan program mendorong LMI mereplikasi model konservasi serupa di wilayah lain seperti Trenggalek dan Bali. Di Trenggalek, fokus diarahkan pada rehabilitasi pesisir yang mengalami degradasi, sementara di Bali pendekatan diperkuat melalui integrasi dengan sektor pariwisata.
Ke depan, strategi keberlanjutan dilakukan melalui peningkatan kapasitas masyarakat dalam monitoring dan perawatan karang serta pemilihan jenis karang yang lebih adaptif terhadap kondisi perairan Banyuwangi.
Melalui pendekatan kolaboratif berbasis masyarakat, program Coral Reef Conservation menunjukkan bahwa CSR tidak hanya menjadi aktivitas filantropi, tetapi mampu menciptakan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan secara simultan — sejalan dengan tema dalam penjurian “TOP CSR Awards 2026”, Aligning CSR and ESG for Long-Term Corporate Value and Sustainable Development.
Program Lain
Selain konservasi terumbu karang, LMI juga menjalankan berbagai program CSR lain yang dijalankan selamatTahun 2024-sekarang (2 tahun terakhir). Di antaranya Blue Carbon Initiative Project (Program konservasi terumbu karang dukungan PT Sarana Multi Infrastruktur (2024) di Trenggalek, Banyuwangi dan Bali. Lalu 2025 oleh PT Pelindo di Trenggalek. Program Sekolah Harapan (Program renovasi sekolah dukungan PT Darareksa (2025) di 5 kota (Medan, Jakarta, Semarang, Pasuruan, Makassar).
Kemudian Green Indonesia Project (Program penghijauan jalur tol cimanggis – cibitung (2024) dukungan PT Sarana Multi Infrastuktur, Lalu di Takalar, Sulsel (2024) dukungan PT Nindya Karya, Jakarta Timur (2025) dukungan PT Nindya Karya, dll.
Program Air Bersih (Program penyediaan fasilitas air bersih di Tuban dan Bojonegoro (2025) dukungan PT Nindya Karya, dll. Kampung Alpukat (Program budidaya 2000 pohon alpukat, pembibitan, pengolahan produk turunan hingga pengembangan agrowisata. Dukungan PT Sarana Multi Infrastruktur dan OJK. Program berlokasi di Desa Wunung, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul.
Pengolahan sampah organik metode vermicompost dan biokonversi maggot. Program yang menyelesaikan masalah sampah di Yogyakarta dengan pendekatan partisipatif. Mengolah sampah organic menjadi budidaya maggot dan pupuk cacing yang memilki nilai ekonomi sekaligus menyelesaikan masalah lingkungan.
