Jakarta, TopBusiness — PT DSSP Power Kendari kembali mengikuti sesi penjurian TOP CSR Awards 2026. Dalam sesi ini, DSSP Power Kendari mengungkap komitmen perusahaan dalam mengintegrasikan CSR dengan praktik bisnis berkelanjutan melalui pendekatan berbasis risiko, pemberdayaan masyarakat, dan kolaborasi multipihak.
Komitmen tersebut diwujudkan dalam berbagai program yang tidak hanya memitigasi dampak operasional, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Dalam sesi penjurian kali ini, DSSP Power Kendari mengusung tema “Energize Communities Through Responsible Energy and Sustainable Development” sebagai refleksi peran perusahaan dalam menyediakan energi sekaligus memberdayakan masyarakat.
“Tema ini menggambarkan bahwa kami adalah pembangkit listrik tenaga uap yang tidak hanya menghasilkan energi, tetapi juga ingin ‘meng-energize’ masyarakat melalui pembangunan berkelanjutan,” ujar Risal Akbar, Plant and Public Service PT DSSP Power Kendari, di hadapan dewan juri, Rabu (8/4/2026).
Sebagai bagian dari PT Datang DSSP Power Indonesia (DDPI) yang tergabung dalam Sinar Mas Group, PT DSSP Power Kendari memiliki kapasitas terpasang sebesar 100 MW, terbesar di Sulawesi Tenggara. Perusahaan menyuplai sekitar 60–70 persen kebutuhan listrik di wilayah tersebut melalui kontrak jangka panjang dengan PT PLN (Persero) hingga 2041.
Secara geografis, operasional perusahaan berada di antara Desa Tanjung Tiram dan Desa Wawatu, Kecamatan Moramo Utara, yang memiliki karakteristik wilayah pesisir dengan tantangan sosial-ekonomi tersendiri, termasuk tingkat pendidikan masyarakat yang mayoritas masih pada jenjang SMP.
“Ini menjadi tantangan besar bagi kami untuk melakukan pengembangan masyarakat. Kami memulai dari dasar, dengan membangun fondasi melalui akses pendidikan yang lebih baik,” kata Risal.
CSR Berbasis Dampak dan Risiko Operasional
Dalam merancang program CSR, perusahaan mengedepankan identifikasi dampak negatif dari aktivitas bisnis sebagai titik awal. Pendekatan ini dipadukan dengan analisis risiko, aspirasi pemangku kepentingan, serta kerangka global seperti SDGs dan ISO 26000.
“CSR yang kami lakukan berangkat dari dampak negatif aktivitas perusahaan, risiko bisnis, serta aspirasi pemangku kepentingan. Dari situ kami menyusun program yang strategis, adaptif, bernilai, dan kolaboratif,” jelasnya.
Sejumlah risiko operasional seperti emisi pembakaran batu bara, limbah FABA (Fly Ash dan Bottom Ash), hingga aktivitas pengangkutan batu bara direspons melalui berbagai langkah mitigasi dan program pengembangan masyarakat.
Perusahaan, misalnya, melakukan pemasangan alat pengendali emisi, pemantauan kualitas udara, serta program penghijauan dan penanaman mangrove. Limbah FABA dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomis seperti paving block dan material konstruksi.
“Dari setiap risiko, kami selalu melihat peluang untuk community involvement dan development,” ujar Risal.
DSSP Power Kendari menerapkan tahapan CSR yang sistematis, dimulai dari perencanaan melalui social mapping, identifikasi masalah, dan pelibatan masyarakat dalam forum-forum desa.
Tahap selanjutnya adalah pemetaan risiko dan peluang, penetapan tujuan, serta eksekusi program dengan prinsip on-time, on-budget, on-scope dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan.
Setelah pelaksanaan, perusahaan melakukan monitoring, evaluasi, serta tindakan perbaikan berkelanjutan, sebelum akhirnya menyusun laporan secara internal maupun eksternal.
“Program tidak hanya menjadi milik perusahaan, tetapi menjadi program bersama seluruh stakeholder di wilayah kami,” tegasnya.
Program CSR Unggulan
Sejumlah program unggulan dikembangkan perusahaan, salah satunya rehabilitasi terumbu karang melalui inovasi fish apartment berbahan FABA. Program ini melibatkan masyarakat dan akademisi, serta terus dievaluasi berdasarkan kondisi lapangan seperti fenomena bleaching.
Selain itu, perusahaan menjalankan program pemberdayaan ekonomi melalui keterlibatan masyarakat dalam rantai pasok, seperti pengelolaan kantin perusahaan dengan nilai transaksi mencapai Rp2,62 miliar per tahun.
Program ini membuka lapangan kerja bagi 18 karyawan tetap dan sekitar 83 tenaga lepas dari masyarakat lokal.
Di sektor pendidikan, perusahaan menginisiasi perpustakaan terapung serta program EDP PTPL Program yang memberikan kesempatan bagi pemuda lokal untuk mendapatkan pendidikan dan bekerja di industri pembangkit listrik.
“Ada tahapan pembelajaran in-class, praktik, on-job training, hingga akhirnya penyerahan kontrak kerja. Ini untuk memastikan kompetensi mereka sesuai kebutuhan industri,” jelas Risal.
Untuk masyarakat program ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dan kompetensi, peluang kerja dan pengembangan karier, kontribusi terhadap pengembangan sumber daya manusia lokal.
“Sementara untuk perusahaan, kami ingin mengembangkan talenta yang selaras dengan kebutuhan industri, peningkatan efisiensi operasional, penguatan reputasi dan hubungan dengan pembangkang kepentingan, dan terakhir adalah dukungan terhadap inisiatif ESG dan keberlanjutan,” lanjut Risal.
Adapun untuk menunjang aktivitas masyarakat, perusahaan juga memiliki program perbaikan infrastruktur.
”Karena masyarakat di Desa Wawatu adalah berasal dari Suku Bajo yang memang terbiasa hidup di atas laut. Jadi kami mendukung infrastruktur yang mereka miliki dengan melakukan perbaikan jembatan atau akses-akses air bersih juga. Dan program ini berkolaborasi langsung dengan masyarakat, mereka yang memasang papannya, mereka yang mengangkut, dibantu juga dengan karyawan-karyawan kami sehingga rasa kepemilikan terhadap program-program tersebut itu bisa jadi lebih tinggi,” jelas Risal.
Program andalan lainnya, yakni Program DSSP Green Project yang diluncurkan sejak tahun 2021, dan saat ini sudah dalam tahap lanjut di tahun 2026. Program ini dijalankan dalam bentuk rehabilitasi terumbu karang. “Awalnya dengan spiderweb, namun kami lakukan inovasi terbaru dengan menggunakan fish apartment. Jadi fish apartment ini dibuat dari timba hasil pembakaran batu bara, total 71 ton FABA telah diserap untuk membuat fish apartment tersebut,” jelas Risal.
Tingkat Kepuasan dan Kepercayaan Masyarakat
Hasil evaluasi menunjukkan 85 persen masyarakat menyatakan puas terhadap program CSR yang dijalankan. Sementara itu, indeks Social License to Operate perusahaan mencapai 75,4 persen atau masuk kategori full trust.
Perusahaan juga aktif memantau persepsi publik melalui media massa dan media sosial. Sepanjang 2025, tercatat 132 pemberitaan dengan mayoritas sentimen positif, serta sekitar 180 percakapan di media sosial yang didominasi opini positif.
“Strategi kami adalah mempertahankan keterlibatan aktif dengan pemerintah dan komunitas melalui program CSR yang relevan,” ujarnya.
Ke depan, PT DSSP Power Kendari terus mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, hingga komunitas lokal, dalam menjalankan program berbasis lingkungan seperti DSSP Green Project dan Bahari Lestari di kawasan Teluk Moramo.
Program tersebut diharapkan tidak hanya menjaga ekosistem laut, tetapi juga membuka peluang pengembangan wisata bahari dan pusat penelitian.
“Harapannya, program-program ini dapat memberikan manfaat jangka panjang, baik bagi masyarakat maupun keberlanjutan perusahaan,” kata Risal.
