Jakarta, TopBusiness – PT PLN Indonesia Power UBP Saguling terpilih menjadi nominator TOP CSR Awards 2026. Sebagai perusahaan yang merupakan unit bisnis pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang berlokasi di Kabupaten Bandung Barat Jawa Barat, PLTA Saguling dicatat mengikuti sesi presentasi Penjurian TOP CSR Awards 2026, Selasa (14/4/2026).
Hadir dalam Penjurian, Manajer Administrasi, Huta Rianto; Assistant Manager CSR, Taufan Kurniawan; serta Officer CSR Fiqi.
Dalam Penjurian, Huta menyatakan jika perusahaan selain memegang peran strategis sebagai bagian dari sistem kelistrikan JAMALI (Jawa, Madura, Bali), juga memiliki banyak peran lain. Seperti misalnya: Penstabil frekuensi sistem kelistrikan, Pengatur debit Sungai Citarum, Pendukung irigasi pertanian, serta menjadi kontributor dalam pencapaian Net Zero Emission Indonesia 2060.
“Dalam melaksanakan operasional bisnisnya tersebut, PLTA Saguling juga melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan melalui program CSR yang terintegrasi,” kata Huta.
Sampah Jadi Fokus Utama CSR
Salah satu program CSR yang menjadi fokus utama perusahaan adalah mengatasi persoalan sampah di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, khususnya di sekitar Waduk Saguling.
Hal ini karena sampah selama bertahun-tahun menjadi tantangan serius, tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi keberlanjutan operasional pembangkit listrik.
Berdasar data perusahaan, volume sampah yang masuk ke Sungai Citarum mencapai 8.763 m³/hari. Selain itu, kapasitas pengangkutan sampah di Bandung Raya hanya 30–40%, dan TPA mengalami overload, terutama di TPA Sarimukti.
Di samping itu, banyak sampah tidak terpilah, dengan dominasi: Organik sekitar 55% dan Anorganik sekitar 45%. Permasalahan tersebut menjadi ancaman sedimentasi waduk yang dapat mengganggu operasional PLTA.
“Permasalahan utama sampah tersebut, masih ditambah lagi dengan permasalahan sosial yang ada, sehingga permasalahan tersebut menjadi semakin serius,” kata Huta.
Adapun permasalahan sosial tersebut di antaranya adalah sebagai berikut. Pertama, Bank sampah berjalan sendiri-sendiri dan tidak optimal. Kedua, Pendapatan masyarakat rendah dan tidak stabil. Ketiga, Minim akses layanan kesehatan, terutama lansia. Keempat, Anak-anak dari keluarga pemulung tidak mendapatkan pendidikan layak. Kelima, Pekerja sektor informal (pemulung) tidak memiliki perlindungan kerja.
Hadirkan Program CSR Terintegrasi
Semua kondisi tersebut kemudian mendorong perusahaan untuk menghadirkan solusi berbasis pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan ekonomi sirkular.
Karena itu kemudian disusun program CSR terintegrasi. Di mana program tersebut dihadirkan secara terukur, dimulai dengan adanya perencanaan, pelaksanaan program, monitoring dan evaluasi, hingga penerapkan strategi exit strategy secara bertahap.
Pada tahap perencanaan, program CSR dilaksanakan secara partisipatif dan berbasis data, dengan pendekatan 3 pendekatan utama:
- Social Mapping & Stakeholder Engagement.
- Pendekatan SMART dengan target yang jelas dan terukur, seperti misalnya: mengelola ≥ 2.158,46 ton sampah dalam 3 tahun, mengintegrasikan 26 Bank Sampah Unit (BSU), meningkatkan pendapatan BSU menjadi > Rp1 juta/bulan.
- Dukungan Sumber Daya, seperti misalnya melalui: Anggaran CSR mencapai lebih dari Rp4 miliar per tahun, serta SDM pendamping profesional dengan pelatihan berkelanjutan.
Pada tahap pelaksanaan, program CSR dilaksanakan melalui pendekatan integratif lintas sektor dengan menjadikan masyarakat sebagai aktor utama.
Dari banyak program yang dihadirkan, beberapa di antaranya adalah:
- Program Pengelolaan Sampah Terpadu. Dimulai dari pemilahan sampah dari rumah dan pengangkutan sampah organik menggunakan kendaraan operasional. Selanjutnya dilakukan pengolahan menjadi Maggot (pakan ternak), pupuk organik, serta produk daur ulang plastik.
- Program Edukasi dan Kampanye Lingkungan. Pada program ini, PLTA Saguling menghadirkan program Waste Management Go To School (32 SMP), Festival Citarum, serta webinar nasional.
- Program Sosial Inovatif, perusahaan dicatat menghadirkan program klinik berbayar sampah, sekolah gratis (Omah Plastik), program makan bergizi dari hasil budidaya, serta Asuransi ketenagakerjaan bagi pemulung.
Pada tahap monitoring dan evaluasi, dilakukan kunjungan lapangan secara rutin dan evaluasi yang terukur. Dicatat berdasar hasil evaluasi, SROI (Social Return on Investment) dicatat sebesar 1,8. Selain itu, Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) dicatat sebesar 88,54 (Sangat Baik).
Sementara itu pada tahap exit strategy secara bertahap, PLTA Saguling dicatat melakukan 3 pendekatan. Pertama, pendampingan penuh (100%), khususnya pada tahap awal yaitu tahun 2023-2024. Kedua, penguatan operasional (75%). Pendekatan ini dilakukan pada tahun 2025. Ketiga, transisi menuju kemandirian, yang dilakukan pada 2026–2027.
“Dengan semua pendekatan tersebut, hampir semua program CSR yang dilaksanakan telah direplikasi ke wilayah lain dan dikembangkan sebagai model ekonomi sirkular berbasis masyarakat,” kata Huta.
Program CSR Unggulan
Dari banyak program CSR yang telah dilaksanakan, PLTA Saguling dicatat menghadirkan 3 CSR unggulan. Ketiga CSR unggulan tersebut adalah Saguling Gerbang Lestari, Saguling Berdaya, dan Bumi Pasundan.
- Saguling Gerbang Lestari
Program Saguling Gerbang Lestari adalah program CSR unggulan berbasis integrasi lingkungan, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Sebagai program unggulan, program ini memiliki banyak dampak riil. Seperti diantaranya: Pengelolaan sampah sebesar 2.158,46 ton pada 2024–2026. Terjadi pengurangan emisi sebesar 59,48 ton CO₂e. Di samping itu, menghadirkan edukasi kepada 17.391 orang terjangkau.
- Saguling Berdaya
Program Saguling Berdaya adalah program CSR unggulan yang fokus pada pengolahan sampah plastik menjadi produk bernilai seperti plastic board dan furnitur. Sebagai program unggulan, program ini memiliki banyak dampak riil. Seperti diantaranya: Pengelolaan sampah plastic sebesar 1.082,4 ton. Penurunan sedimentasi waduk dan peningkatan kesadaran masyarakat.
- Bumi Pasundan
Program Bumi Pasundan adalah program CSR unggulan terkait pemanfaatan sampah plastik, eceng gondok, dan styrofoam.
Sebagai program unggulan, program ini memiliki banyak dampak nyata. Seperti di antaranya: Pengelolaan eceng gondok sebesar 360,22 ton. Pengelolaan plastic sebesar 2.170,44 ton. Terakhir, penciptaan lapangan kerja inklusif.
“Secara umum, semua program CSR PLTA Saguling yang dilaksanakan mampu menghadirkan transformasi yang signifikan dari sampah sebagai masalah, menjadi sampah sebagai sumber ekonomi dan edukasi,” pungkas Huta.
