ZERO WASTE Factory Plant, strategi cerdas TACO menekan emisi, menghemat energi, dan menciptakan dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat
Jakarta, TopBusiness – Di tengah tuntutan global terhadap praktik bisnis berkelanjutan, transformasi industri tak lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. TACO Group menjawab tantangan tersebut melalui pendekatan yang konkret dan terukur: menghadirkan ZERO WASTE Factory Plant, sebuah sistem terintegrasi yang mengubah limbah produksi menjadi sumber energi.
Langkah ini bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga redefinisi cara industri memandang limbah—dari masalah menjadi peluang.
Transformasi Limbah: Dari Sisa Produksi Menjadi Energi
Dalam operasionalnya, TACO mengolah berbagai jenis limbah produksi—mulai dari debu produksi, sisa potongan High Pressure Laminate (HPL), hingga cangkang kelapa sawit—menjadi bahan bakar untuk pellet boiler.
Pendekatan ini menghasilkan capaian signifikan:
- 99,8% penggunaan energi beralih ke non-fosil
- 2.000 ton sisa produksi dikonversi menjadi bahan bakar
- 100% limbah produksi dikelola dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle)
Program ini menjadi bagian dari strategi dekarbonisasi perusahaan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
“ZERO WASTE Factory Plant bukan sekadar program lingkungan, tetapi strategi bisnis berkelanjutan yang mengintegrasikan efisiensi operasional dengan tanggung jawab terhadap lingkungan,” ujar Ashita Widya Amelinda, Asst. Manager Public Relations TACO di sesi Penjurian TOP CSR Awards 2026, secara daring, Kamis, 16/4/2026.
Ia didampingi oleh: Wisnu Purnayusepta – General Manager TACO Factory, dan Rio Qashmal – Supervisor Public Relations TACO
Konsep tersebut juga diperkuat melalui sistem pengolahan limbah yang terintegrasi, sebagaimana ditampilkan dalam diagram alur proses pada dokumen presentasi perusahaan .
Efisiensi Air: Dari Limbah Menjadi Sumber Daya
Tak hanya energi, TACO juga menaruh perhatian besar pada pengelolaan air. Melalui sistem WWTP, STP A, dan STP B, seluruh air limbah operasional diproses hingga memenuhi baku mutu lingkungan.
Hasilnya:
- 100% air limbah terolah dan dapat digunakan kembali
- Digunakan untuk kebutuhan operasional dan area hijau
- Mengurangi ketergantungan pada air bersih
“Pendekatan ini tidak hanya berdampak pada konservasi sumber daya, tetapi juga meningkatkan efisiensi biaya operasional secara jangka panjang,” ujar Wisnu.
Kolaborasi dan Circular Economy
TACO menyadari bahwa keberlanjutan tidak dapat dicapai sendiri. “’Oleh karena itu, perusahaan membangun kolaborasi strategis dalam pengelolaan limbah, termasuk limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun),” jelas Wisnu.
Melalui metode co-processing, limbah adhesive dan B3 dimanfaatkan sebagai:
- Bahan baku alternatif
- Bahan bakar alternatif dalam industri semen
Selain itu, TACO juga bekerja sama dengan pengelola lingkungan serta industri kertas dan plastik untuk memperkuat implementasi ekonomi sirkular berbasis 3R.
Dampak Nyata: Dari Emisi ke Efisiensi
Implementasi ZERO WASTE Factory Plant memberikan dampak terukur:
- 58.000+ ton CO2eq berhasil dihindari per tahun
- 99,8% penghematan energi fosil
Menurut Wisnu, capaian ini menunjukkan bahwa transformasi menuju industri hijau tidak hanya mungkin dilakukan, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi bisnis.
CSR dan ESG: Menyatu dalam Strategi Bisnis
Keikutsertaan TACO dalam TOP CSR Awards 2026 menjadi bukti komitmen perusahaan dalam mengintegrasikan aspek CSR dan ESG.
Ajang yang diselenggarakan oleh Majalah Top Business ini bertujuan:
- Memberikan apresiasi terhadap implementasi CSR yang efektif dan berdampak
- Menjadi sarana pembelajaran bagi perusahaan dalam meningkatkan kualitas program keberlanjutan
Sementara itu, bertindak selaku Syaifudin (LKN Asta Cita), Peggy Arnolia (CFCD), Sentot Baskoro (AGRKI) dan Teguh Imam Suyudi (TopBusiness).
Dengan tema “Aligning CSR and ESG for Long-Term Corporate Value and Sustainable Development”, TACO menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan sekadar program tambahan, melainkan bagian inti dari strategi bisnis.
Tumbuh Bersama Lingkungan dan Masyarakat
Sebagai perusahaan yang beroperasi dekat dengan kawasan permukiman, TACO menempatkan tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagai prioritas.
Wisnu mengungkapkan beberapa kontribusi nyata, antara lain:
- 611 karyawan, 65% berasal dari lokal (Banten dan Serang)
- Mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui UMKM
- Menjaga keseimbangan antara aktivitas industri dan lingkungan sekitar
Filosofi ini tercermin dalam prinsip bahwa perusahaan tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem sosial dan lingkungan.
Menuju Masa Depan Industri Berkelanjutan
ZERO WASTE Factory Plant menjadi contoh nyata bagaimana inovasi dapat mengubah paradigma industri. Limbah yang sebelumnya menjadi beban kini menjadi sumber energi, efisiensi, sekaligus nilai tambah.
Ashita menegaskan, bagi TACO, langkah ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju industri yang lebih hijau, efisien, dan bertanggung jawab.
Di tengah perubahan global, satu hal menjadi jelas: masa depan industri adalah mereka yang mampu mengubah tantangan menjadi peluang—dan TACO telah memulainya.
