Jakarta, TopBusiness – PT PLN Indonesia Power UBP Cilegon menunjukkan tata kelola bisnis yang sangat baik, tidak hanya dalam pengelolaan pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU) berkapasitas 740 MW, tetapi juga dalam pengelolaan sosial dan lingkungan di sekitar wilayah operasionalnya. Penerapan Good Corporate Governance (GCG) di unit pembangkit ini dinilai andal dan konsisten.
Selain unggul dalam operasional bisnis, perusahaan juga berhasil mengintegrasikan program tanggung jawab sosial melalui pendekatan ISO 26000, Creating Shared Value (CSV), serta prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Implementasi tersebut diwujudkan melalui program pengembangan Desa Margagiri di wilayah Cilegon, Banten, yang kini menjadi contoh desa dengan penguatan ekonomi dan pengelolaan lingkungan yang semakin baik.
Program CSR berbasis ESG ini lahir dari berbagai permasalahan yang dihadapi Desa Margagiri. Di antaranya adalah berkurangnya ruang terbuka hijau lebih dari 100 hektare dalam 10 tahun terakhir akibat reklamasi, industrialisasi, dan pertambangan batu. Selain itu, produktivitas 40 hektare lahan pertanian menurun, hanya mampu ditanami sekali dalam setahun dengan hasil 2–3 ton per hektare.
Permasalahan lain yang dihadapi adalah banjir yang terjadi dua kali dalam setahun serta kekeringan saat musim kemarau akibat rusaknya daerah tangkapan air. Di sisi lain, persoalan sampah juga menjadi tantangan, dengan status darurat sampah Kabupaten Serang dan kondisi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Margagiri yang mengalami kelebihan kapasitas hingga 2–5 meter kubik per hari.
Secara sosial ekonomi, masyarakat menghadapi keterbatasan akses pendapatan, terutama kelompok rentan. Tercatat, tiga dari lima perempuan tidak memiliki penghasilan tetap, sementara setengah dari pemuda mengalami pengangguran. Selain itu, jumlah petani terus menurun dari 80 orang menjadi hanya 30 orang, serta meningkatnya penjualan lahan pertanian akibat tekanan ekonomi.
Rangkaian permasalahan tersebut memicu penurunan produktivitas lahan, berkurangnya hasil pertanian, hilangnya aset pertanian, hingga meningkatnya kesenjangan sosial dan kemiskinan.
Menjawab tantangan tersebut, PLN Indonesia Power UBP Cilegon menghadirkan program CSR bertajuk “Margagiri di Hati”. Senior Manager PLN Indonesia Power UBP Cilegon, Romandhoni Sigit Prakoso, menegaskan bahwa program ini bertujuan menjadikan Margagiri sebagai desa yang hijau, asri, terampil, dan inspiratif.
“Program ini merupakan inisiatif dalam mendorong pemberdayaan masyarakat berkelanjutan melalui pelestarian lingkungan, penguatan ekonomi lokal, dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Romandhoni dalam presentasinya kepada dewan juri Top CSR Award 2026 yang dilakukan secara daring, Kamis (16/4/2026).
Program ini terdiri dari beberapa inisiatif utama. Pertama, Margagiri Women Eco-Cycle di Hati, yang menghidupkan kembali ekonomi sirkular melalui pemberdayaan bank sampah seperti Bank Sampah Mata Masigit dan Bank Sampah Berkah Kepaten.
Kedua, program Green Waqf, yang mengoptimalkan tanah wakaf masjid menjadi lahan pertanian komunal dengan komoditas yang tahan terhadap perubahan iklim. Program ini dijalankan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Cetik Kampung Kepaten dan Kelompok Tani Proklim Masigit.
Ketiga, Pasar Kreatif Margagiri, yang menggerakkan UMKM dan BUMDes agribisnis melalui pemanfaatan tanah bengkok desa sebagai pusat ekonomi sekaligus ruang rekreasi masyarakat.
Secara keseluruhan, program ini telah memberikan manfaat langsung kepada 387 orang. Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh jajaran manajemen, di antaranya Arif Sarifudin (Assistant Manager Umum), Ali Nur Fikri (Officer CSR, Humas, dan Keamanan), Ayu Nur Khanifa (CDO), serta Iyadullah (CDO).
Program ini juga didukung oleh kolaborasi lintas sektor, termasuk advokasi kebijakan terpadu bersama pemerintah desa dan daerah. Selain itu, terdapat skema pendanaan kolaboratif melalui dana desa sekitar Rp100 juta per tahun yang dikombinasikan dengan co-financing dari PLN Indonesia Power UBP Cilegon.
Pemerintah turut memberikan dukungan konkret berupa pemanfaatan tanah bengkok seluas sekitar 5 hektare, pengembangan fasilitas pariwisata, sarana lingkungan, serta penguatan kelembagaan masyarakat.
Lebih lanjut, program “Margagiri di Hati” kini telah menjadi pusat pembelajaran yang menarik berbagai kunjungan studi banding. Berbagai inovasi telah direplikasi, seperti pengelolaan kebun gizi oleh KWT Cetik yang diadopsi oleh PKK dan Posyandu Desa Argawana, serta pengembangan 12 titik kebun gizi untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Selain itu, model pengelolaan Bank Sampah Mata juga telah direplikasi ke 50 bank sampah di Kabupaten Serang, termasuk di sekolah seperti SMKN 1 Pulo Ampel dan MTs Al-Khairiyah.
Program ini juga mendorong lahirnya inovasi produk ramah lingkungan yang diperkenalkan kepada siswa di 10 SMA di Provinsi Banten, serta pengelolaan kampung bersih yang menjadi rujukan hingga ke Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Provinsi Maluku Utara.
Keberhasilan program ini tidak lepas dari peran para local hero, seperti Bu Amaliyah sebagai penggerak Bank Sampah Mata dan inisiator gerakan sedekah sampah, serta Bu Lastri sebagai Ketua KWT Cetik dan penggerak Proklim Kampung Kepaten.
Perusahaan juga berperan aktif dalam memastikan keberlanjutan program melalui peningkatan fasilitas operasional, pelatihan, pendampingan intensif, serta dukungan promosi produk masyarakat.
Dengan berbagai capaian tersebut, program CSR “Margagiri di Hati” tidak hanya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga menjadi model pemberdayaan berbasis ESG yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.
